Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 30


__ADS_3

Cakra terus memperhatikan Liam yang berlari menjauhi jendela. Senyumnya kembali mengembang melihat balita dua tahun tersebut berlari kearahnya membawa mainan mobil-mobil lumayan besar.


"Liam unya ainan esal," pekik Liam memperlihatkan mobil-mobil pemberian Wildan pada Cakra. Tercetak jelas raut kebahagian di di wajah Liam.


Ingin rasanya Cakra memeluk tubuh mungil itu seperti apa yang dia lakukan saat pertama kali bertemu. Namun, kini keduanya terhalang jendela, hingga Cakra hanya bisa mengelus pipi gembul Liam.


"Mainannya bagus banget Nak, di beliin sama Mama?" tanya Cakra.


Liam mengelengkan kepalanya. "Papa Ildan," jawabnya.


Cakra terpaku di tempatnya, berusaha menyamakan nama seseorang, hingga pikirannya tertuju pada laki-laki yang menyukai Liora.


"Dia bukan papa kamu!" tegas Cakra tanpa sadar membuat Liam yang tengah menjalankan mobilnya di kaca jendela tersentak kaget. Mobil-mobil itu terjatuh ke lantai.


Liam mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali. "Papa Liam dah ati, tata Mama."


Cakra tersenyum. "Papa kamu nggak mati Nak, papa ada disini." Dia mengelus tangan mungil Liam.


"Mau dadi papa Liam?" Cakra segera menganggukkan kepalanya.


"Banget, boleh kan?" Kini giliran Liam yang mengangukkan kepalanya.


Entah, tapi Liam termasuk anak pintar, di usianya dua tahun dia sudah mengerti beberapa hal, walau belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Bahkan bu Fatimah mengatakan, Liam seperti anak berusia 3-4 tahun sakin pintarnya.


"Mau kemana Nak?" tanya Cakra mengintip kemana Liam pergi, bocah kecil itu berdiri di balik pintu seperti membuka sesuatu.


"Uta!" pekik Liam. "Liam au ain cama Papa!" pekik Liam berusaha membuka pintu walau tidak bisa.


Anak itu membuka kunci bagian dalam seperti yang sering dia lihat ketika ibunya membuka pintu, tapi dia tidak bisa membukanya.


Cakra yang mengerti hal itu, melirik pintu kayu yang tidak terlalu kokoh, dia meraba bagian atas. Seingatnya ada penyanggah lain di bagian atas, dan benar saja, kunci rumah Liora tidak berubah sama sekali.


Tepat saat pintu terbuka, Liam langsung memeluk kaki Cakra sangat erat. "Au ain cama-cama!" ajak Liam menarik Cakra.

__ADS_1


Dengan senang hati, Cakra melepas sepatu pentopelnya, kemudian ikut masuk di rumah yang menjadi saksi cintanya bersama Liora.


Bukannya bermain, Cakra malah memeluk erat tubuh mungil Liam, menciumi seluruh wajah Liam berulang kali.


"Papa kangen sama kamu Nak. Maafin papa selama ini ngira kalian ninggalin papa. Maaf karena menelantarkan kalian terlalu lama." Tidak terasa air mata Cakra menetes karena penyesalan dalam dirinya.


Dia menatap wajah Liam dalam-dalam. Kenapa dia tidak bisa mengenali putranya sendiri? Padahal mata, hidung juga bentuk wajah menyerupai dirinya.


Cakra kembali memeluk Liam, tetapi anak kecil itu melerai dan menjauhi Cakra, bukan karena takut atau tidak suka. Tapi Liam menarik boks dan mengeluarlan mainan didalamnya.


Selalu saja seperti itu, jika melihat orang baru datang kerumah, Liam selalu memamerkan mainannya yang tidak seberapa agar mempunyai teman bermain.


"Liam unya anyak ainan!" Heboh balita tersebut.


Bukannya menyambut bahagia, Cakra malah terhenyak. Mainan Liam banyak yang sudah tidak layak di mainkan. Mobil-mobilan badannya utuh, tetapi ban mobil hilang. Kapal-kapal sayapnya patah, dan banyak mainan lainnya.


Jika di lihat-lihat semuanya bekas, entah sudah lama atau di berikan oleh orang lain.


***


Dia langsung menarik Liam menjauh dari Cakra. Keduanya sedang asik bermain.


"Berani-beraninya kamu masuk kerumah aku tanpa izin!" bentak Liora menyembunyikan Liam di belakang tubuhnya.


Balita kecil yang terlanjur nyaman bersama Cakra itu hendak mendekat lagi, tetapi Liora membawanya ke kekamar, kemudian menguncinya rapat-rapat.


Suara tangisan dari dalam kamar, Liora hiraukan, bahkan dia tidak peduli pada putranya itu.


"Keluar aku bilang!" Usir Liora mendong tubuh Cakra, namun dengan sigap laki-laki itu merengkuh tubuh Liora dalam pelukannya.


"Maaf, aku tau kamu kecewa karena aku menghilang selama 2 tahun, tapi kamu harus dengerin aku dulu Ra," bisik Cakra di telinga Liora yang terus memberontak agar lepas dari pelukannya.


"Lepasin aku! Nggak ada yang perlu di jelasin lagi, semuanya udah jelas, sejelas-jelasnya!" pekik Liora.

__ADS_1


Wanita itu melayangkan tamparan setelah berhasil lepas dari pelukan Cakra. "Dasar laki-laki nggak beradab! Kau masuk kerumah seorang janda yang telah di tinggal suaminya, dan memeluknya! Itu perbuatan memalukan!"


"Liora! Aku suami kamu!" Cakra balas membentak. Tidak terima Liora menganggap dirinya orang asing.


"Aku nggak punya suami, suami aku meninggalkan saat berjuang mencari nafkah untukku dua tahun yang lalu. Suamiku bernama Wildan bukan Cakra!" Liora mengusap air matanya kasar, terus mendorong tubuh Cakra, tetapi tubuh kekar itu engang bergerak.


"Cukup Liora! Dengerin aku bentar aja! Jangan egois! Setidaknya pikirkan anak kita, kamu nggak tega dengar anak kita nangis? Dia cuma pengen main sama aku. Dia rindu sosok seorang ayah."


"Dia anak aku asal kamu tau! Ingat hal ini baik-baik, bukan aku yang egois tapi kamu!" Liora menunjuk wajah Cakra dengan tangan bergetar.


"Kenapa baru sekarang mikirin dia? Dua tahun yang lalu, kemana pikiran kamu? Kalau aja kamu mikir pertumbuhan Liam yang akan haus kasih sayang seorang ayah kamu nggak mungkin ninggalin aku!"


"Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu nyuruh aku lupain semua tentang kamu, kamu ngasih aku uang, tapi bukan untuk nafkah sebagai seorang suami. Kamu ngasih aku uang sebagai bayaran karena menolongmu! Jadi apa yang buat kamu kembali lagi? Sejak kamu mengirim surat itu, hubungan kita sudah putus, itulah kenyataanya. Jangan pura-pura bego apa lagi lupa!"


Cakra tidak menyelah sama sekali, laki-laki itu mendengarkan semua luapan emosi Liora. tatapan wanita itu penuh kebencian padanya.


"Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa kesalahan aku sampai kau tega seperti ini!"


"Aku tau, aku wanita kampung yang nggak mungkin bisa bersanding sama kamu, aku nggak secantik apa lagi mempunyai sekolah tinggi seperti perempuan yang mungkin menemanimu di kota! Tapi apa pantas kamu merendahkan harga diri aku dengan uang 10 jutamu itu?" Nafas Liora naik turun usai meluapkan segala unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri.


"Karena kamu udah ada di sini, sebaiknya kita selesaikan semuanya. Caraikan aku!" pinta Liora.


Wanita itu berjalan keluar rumah, menarik salah satu pengawal yang sedari tadi tidak bergeming walau mendengar pertengkaran di dalam rumah.


Liora kembali menemui Cakra bersama satu pengawal. "Ayo talak aku sekarang juga, ada saksi disini!"


"Aku nggak akan ceraikan kamu Liora. Satu hal yang harus kamu tahu, aku nggak pernah ngirim surat apa lagi menghargai dirimu 10 juta. Bagiku, harga diri kamu itu lebih dari segalanya! Bahkan nyawa aku sekalipun!"


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπŸ₯°πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉ


Follow untuk melihat visual

__ADS_1


IG: Tantye005


Tiktok: Istri sahnya Eunwoo


__ADS_2