
Eril mulai membuka kelopak matanya ketika merasakan sebuah elusan di pipi yang terasa sangat lembut. Pria itu perlahan-lahan membuka matanya meski merasa sangat mengantuk, bahkan perasaannya baru tidur beberapa jam saja. Namun, rasa kantuk itu tidak berlangsung lama ketika melihat wajah bidadarinya yang telah rapi dengan gamis polos padahal matahari belum terlihat.
"Udah subuh, Mas," ucap Rahma mengingatkan. Itu semua agar Eril tidak punya alasan lagi menunda-nunda shalat lantaran tidak diawali oleh shalat subuh.
"Makasih udah bangunin." Meski merasa sangat malas, Eril langsung turun dari ranjang dan keluar kamar. Pria itu mengambil wudhu kemudian melaksakan sholat shubuh yang terdapat di salah satu kamar yang dijadikan musholah oleh pak Somat. Bahkan pak Somat rela tidur di ruang tamu daripada tidak memiki ruang ibadah di rumahnya.
Eril kembali ke kamar setelah melaksanakan shalat subuh. Dia tersenyum melihat Rahma yang setengah berbaring di samping Arhan. Wanita itu tengah menemani putranya sambil bersholawat. Eril yang mendengar dan menyaksikan langsung meras sangat tenang. Dia tidak salah memilih istri untuk dia jadikan sekolah dasar anak-anaknya nanti.
"Cepat bangen bangunnya," ucap Eril. Pria itu ikut berbaring di sisi kiri Arhan, tidak lupa memainkan jari-jari mungil baby tersebut.
"Mungkin karena lapar, Mas. Oh iya, Mas mau lanjut tidur?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Tidak, aku mau menemani Arhan dulu sebelum berangkat kerja," jawab Eril.
"Kalau begitu aku titip Arhan sebentar ya, Mas? Aku mau beres-beres rumah sekalian mau buat sarapan untuk mas dan Abah," ucap Rahma.
Wanita itu keluar dari kamar setelah mendapatkan anggukan dari suaminya. Sebelum berkutat di dapur, Rahma lebih dulu membersihkan rumah dari debu-debu dan jejak kaki yang mengotori lantai kontrakan tersebut. Baru lah setelahnya Rahma beralih pada dapur ketika tidak melihat hal-hal kotor lainnya. Sementara di dalam kamar, Eril masih berbaring sambil menatap Arhan yang susunya telah habis.
Sesekali pria tampan itu tersenyum melihat makhluk mungil di sampingnya. Susu yang dia belikan kemarin, sepertinya cocok untuk Arhan, terbukti tidak ada reaksi aneh dari baby tampan tersebut. Tangan Eril bergerak menyentuh pipi yang terasa sangat lembut itu.
"Entah siapa papa kamu yang sebenarnya, Nak, tapi harus kamu tahu kalau aku juga bisa jadi papa yang baik," gumam Eril. "Melihat kamu, membuat aku semakin semangat untuk bekerja. Membiayai kalian hingga tidak merasakan sebuah penderitaan."
Tatapan Eril yang tadinya beralih pada Arhan, kini terfokus pada benda pipih yang bergetar sesekali. Dia bangun untuk mengambil ponselnya yang ada di meja sudut ruangan. Pria itu langsung menjawab panggilan Cakra meski sadar jarum jam baru menunjukkan angka 6 pagi.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Eril sopan.
"Kau bisa datang sekarang? Liam sudah mencarimu, saya benar-benar pusing mendengar nama kamu terus disebut!" omel Cakra. Percaya tidak percaya, kepala Cakra seakan ingin meledak karena tingkah Liam. Ceo Alexander itu sudah melakukan banyak hal tetapi Liam tetap saja mengingat Eril.
"Saya datang sekarang, Tuan!" ucap Eril.
Tepat saat sambungan telpon terputus, Eril langsung mengganti sarung yang dia kenakan dengan handuk agar tubuhnya kering dengan cepat saat sudah mandi. Pria itu menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan sang istri yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mas mau mandi?"
"Iya, Ra. Aku tinggal Arhan sendiri di kamar."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, lagian Arhan belum bisa bergerak ke sana ke mari." Rahma tersenyum. Wanita itu mempersilahkan Eril masuk ke kamar mandi, sementara dia beralih pada dua gelas teh hangat yang telah dia buat baru saja.
Wanita itu membawanya ke ruang tamu agar bisa dinikmati bersama nanti, setelahnya masuk ke kamar untuk menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami. Meski belum cinta, Rahma akan bersikap sebagai istri yang harus melayani suaminya.