
"Aku kerja dulu ya?" pamit Eril pada Rahma yang mengantarnya sampai di depan pintu. Pria itu telah menghabiskan segelas teh yang Rahma buat tanpa banyak protes, meski rasa teh nya terlalu manis untuk ukuran Eril yang memang sudah manis sejak lahir. Canda.
"Mas hati-hati di jalan, jangan lupa pulang dengan selamat," ucap Rahma. Wanita itu meraih tangan Eril kemudian mencium punggung tangan pria itu. Aksinya berhasil membuat telinga Eril yang semula putih kini sedikit memerah, mungkin karena salah tingkah.
Ini pertama kali untuk Eril, tangannya dicium oleh Rahma, bahkan saat akad beberapa hari yang lalu, dia tidak mendapatkannya. Eril maju satu langkah dan mengikis jarak antara dirinya dan Rahma. Pria itu menempelkan bibirnya tepat di puncuk kepala Rahma yang terhalang oleh kain.
"Makasih istriku," bisik Eril kemudian masuk ke mobil. Tidak lupa dia membunyikan klakson sebelum melajukan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan tersebut.
Untuk saat ini Eril akan tinggal di sana, sampai menemukan kontrakan yang lebih luas dan nyaman, karena untuk membeli sebuah rumah, Eril belum mempunyai uang. Terlebih kemarin saat Rahma masuk rumah sakit, dia sempat menguras tabungan hasil gaji dari Cakra.
Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan pelan, tidak lupa mengaktifkan ponsel satunya lagu untuk menerima telpon dari klien yang biasanya tidak direspon oleh Rocky atau Cakra lantaran sangat sibuk. Eril memutar setir kemudi memasuki halaman rumah milik Cakra. Senyumnya mengembang melihat Liam berdiri di teras rumah dengan kedua tangan berada di pinggang.
Sibuk beberapa hari dengan keluarga kecilnya, dia sampai melupakan teman seperjuangan yang merupakan tuan muda yang harus dia jaga. Tepat saat Eril turun dari mobil, Liam berlari menghampiri pria tampan itu.
"Om Eyil datang!" seru Liam langsung memeluk kaki jenjang Eril.
__ADS_1
"Tuan muda merindukan saya?" tanya Eril dan dijawab anggukan oleh Liam.
"Banget-banget-banget," jawab Liam dengan ekpresi mengemaskan.
Eril berjalan memasuki rumah sambil mengenggam tangan mungil Liam. Pria itu berdiri tegak pada pria yang tampaknya sedang berdebat dengan sang istri. Sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya bukan?
"Tuan," sapa Eril menundukkan kepalanya ketika Cakra membalik tubuhnya dengan wajah datar.
"Kebetulan kau sudah datang, tolong urus Eril dan Liora, saya sangat pusing!" ucap Cakra kemudian berlalu tanpa bersikap manis seperti biasanya pada Liora.
"Baik Tuan," sahut Eril meski Cakra telah berlalu.
"Tidak ada, urus saja tuan egois mu itu!" jawab Liora kemudian ikut berlalu.
Eril menghela napas panjang, pria itu akhirnya beralih pada bocah berusia 4 tahun tersebut.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, yakni di dalam mobil. Wajah Cakra terlihat sangat kusut dan menyeramkan di mata siapa saja yang melihatnya, terutama Rocky yang duduk di jok depan samping kemudi.
"Apa semua perempuan sama saja?" tanya Cakra dengan nada ketusnya, tetapi baik sopir atau pun Rocky tidak ada yang menjawab.
Lagi pula Cakra tidak butuh sebuah jawaban, pria itu hanya ingin mengeluarkan unek-uneknya setelah bertengkar pagi-pagi dengan sang istri karena sama-sama keras kepala. Cakra memarahi Liora lantaran tubuh Leona merah-merah tanpa sebab, bahkan pria itu igin memecat semua pelayan bahkan nani yang bertugas di sekitar Leona, tetapi Liora melarang hal tersebut.
Yang Liora inginkan, mencari tahu penyebab kenapa kulit putri mereka merah-merah, dan membawanya ke rumah sakit, dan tidak harus memecat para pelayan yang tidak bersalah. Namun, bukannya setuju, Cakra malah menuduh Liora tidak becuh menjaga anak-anaknya hingga berakhir Liora benar-benar marah.
"Kau? Apa pendapatmu tentang perdebatan tadi?" tanya Cakra para Rocky.
"Saya tidak ada di sana, Tuan."
"Tapi kau pasti tahu segalanya!"
"Saya setuju dengan usulan Tuan, tapi saya juga setuju dengan usulan nyonya."
__ADS_1
"Sudahlah, kau bahkan berpihak padanya!" Cakra melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya pagi-pagi. Mood pria itu sudah buruk sejak kemarin karena banyak alasan.
Salah satunya karena proyek pembangunan sebuah universitas dibatalkan karena ulah seseorang yang sangat menyebalkan, di tambah Liam yang selalu merengek dan membuatnya pusing.