
Sama seperti Eril, Rocky juga baru pulang ke apartemennya ketika jarum jam telah menunjukkan angka sepuluh malam. Pria itu berhasil menyelesaikan penyelidikan yang telah Cakra perintahkan dan akan melaporkannya besok lagi. Rocky mengetikkan beberapa angka sebelum membuka pintu apartemennya. Dia menghela napas panjang untuk mengusir lelah yang menumpuk seharian.
Alih-alih menuju kamar, Rocky malah duduk di sofa setelah berhasil membuka jas. Untuk pertama kalinya dia benar-benar merasa lelah sampai untuk bergerak saja rasa tidak mampu. Pria itu memijit pangkal hidungnya yang terasa pegal. Setelah merasa jauh lebih baik, Rocky melangkah menuju dapur untuk mengambil sesuatu untuk menghilangkan rasa pusingnya. Pria itu menunduk, kemudian membuka sebuah pintu kecil sehingga menemukan beberapa botol anggur dengan tahun produksi yang berbeda-berbeda.
Rocky mengambil salah satu dari botol itu, kemudian menegapkan tubuhnya untuk mengambil gelas. Tidak lupa menutup pintu tempat anggur itu menggunakan kaki, lalu meninggalkan dapur. Dia duduk di sofa, menuangkan anggur ke gelasnya sendiri lalu meminum. Tidak lupa Rocky melepas semua kancing kemejanya agar tidak terlalu gerah.
Tidak perlu heran dengan tingkah Rocky, pria itu sering melakukannya jika sedang lelah. Minum sendirian di rumahnya sendiri untuk menghindari bahaya untuk orang lain juga dirinya. Itulah salah satu alasan Rocky selalu meminta nani Arumi jangan keluar kamar jika dia ada di rumah, bahkan Rocky selalu berpesan agar pintu dikunci dari dalam.
Rocky memejamkan matanya ketika tegukan ke empat lolos di tenggorakan hingga cairan mengandung alkohol itu menjalari tubuhnya dan menghadirkan sensi panas yang sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Sangat damai," gumam Rocky. Pria itu kembali menuangkan anggur kengelasnya lalu meminum hingga tandas. Dia melakukan berulang kaki hingga botol yang ada di hadapannya telah kosong melompong. Pria itu memejamkan mata lantaran sudah mabuk berat.
Namun, ketenangan Rocky tidak berlangsung lama lantaran mendengar suara decitan pintu di ruangan temarang cahaya. Pria itu membuka kepolak matanya secara perlahan, menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang baru saja menimbulkan suara dan menganggunya. Pria itu senyum miring melihat seorang gadis baru saja menapaki anak tangga yang sangat pendek.
"Kau!" ujar Rocky dengan suara beratnya. Tidak lupa tangannya dia angkat untuk menunjuk gadis baju tidur di bawah lutut.
Alea yang terkejut segera menghentikan langkahnya setelah berhasil melewati anak tangga. Dia menatap pria yang wajahnya tidak terlalu terlihat lantaran jauh dan cukup gelap. Namun, Alea yakin itu Rocky, karena suaranya yang sangat berat dan tidak sopan.
"Sini!" panggil Rocky melambaikan tangannya, pria itu berdiri dengan tubuh sempoyangan dan kemeja sedikit acak-acakan, bahkan dua kancing bagian atas telah terbuka hingga memperlihatkan dada yang sedikit bidang tersebut.
__ADS_1
Alea melangkah dengan ragu mendekati Rocky, tanpa tahu pria itu sedang mabuk. Yang ada di pikiran Alea hanya mengingat-ingat kesalahannya hari ini, itulah mengapa dipanggil oleh Rocky tengah malam. Jika itu karena dia keluar dari kamar saat pemilik rumah ada, itu karena dia sangat haus dan lupa mengambil air minum.
Alea berdiri tepat di samping sofa tempat di mana Rocky sedang berdiri. Gadis itu sedikit terkejut melihat meja yang tampak sedikit berantakan. Ada bungkus rokok, sebotol minuman dan juga gelas. Tubuh Alea menegang ketika pikirannya bisa berpikir dengan benar.
"Sa-saya harus kabur sekarang, orang mabuk sudah pasti gila," batin Alea. Gadis itu telah mengambil ancang-ancang untuk kabur, terlebih setelah menyadari tatapan Rocky yang sangat berbeda. Bukan tajam, tetapi mengandung makna lain yang seolah mengisyaratkan bahaya sedang mengintai.
Alea mengambil ancang-ancang untuk pergi dari hadapan Rocky, dia terus melangkah mundur tetapi Rocky malah mengikutinya.
"Tu-tuan kenapa?" tanya Alea berusaha meraba sesuatu untuk menyalakan lampu agar terang dan mungkin bisa menyadarkan Rocky.
__ADS_1
"Kau kembali? Setelah pergi tanpa kabar?" tanya Rocky. Pria itu terus mendekati Alea dengan pikiran tertuju pada sosok gadis yang pernah meninggalkannya dulu. "Arumi, kau merindukan saya?"