Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 68


__ADS_3

"Hamil anak mas Cakra? Kalau gitu antar aku ke desa aja Mas. Lagian aku nggak bisa kalau ...."


Pletak


Liora mengusap keningnya yang baru saja di sentil oleh Cakra. Raut wajah pria itu sangat serius.


"Aku kok di sentil?" protes Liora.


"Bisa nggak sih, kalau ada apa-apa jangan nyimpulin sendiri? Nanya dulu Sayang." Gemes Cakra menguyel-uyel pipi Liora.


"Ya kan tadi bilangnya Rissa hamil."


"Hamil anak Brian Sayang. Aku bukan orang semesum itu ya, kenapa sampai mikirnya sampai situ?"


"Karena Mas mesum, dikit-dikit kalau dekat aku mikirnya anu mulu."


"Ck, itu di dekat kamu doang Sayang," kesal Cakra.


Laki-laki tampan itu langsung beranjak dari duduknya setelah melihat Liora selesai minum.


"Mas!" Pekik Liora langsung mengalungkan tangannya di leher Cakra. Dia sangat terkejut saat tubuhnya melayang begitu saja.


"Diam Sayang. Aku mau nagih 3 lipat yang kamu janjikan. Harus mulai dari sekarang biar nggak begadang," bisik Cakra penuh godaan di telinga Liora.


Laki-laki itu menendang pintu dengan sebelah kaki, tidak lupa mengincunya. Menurunlan Liora pelan-pelan di atas ranjang.


"Tiga kali lipat, berarti tiga kali tiga. 9 ronde Sayang, cuma dikit." Seringai licik Cakra tercetak jelas di wajahnya.


Laki-laki itu langsung melepas jas juga kemeja dan melemparnya ke sembarang arah, sementara Liora sudah memejamkan mata. Ngeri sendiri membayangkan keganasan sang suami.


Salahkan dirinya memberi nanji pada laki-laki licik seperti Cakra.

__ADS_1


"Sayang?"


"Ma-mas, aku pengen kenci*ng," lirih Liora.


"Jangan banyak alasan Sayang. Kita harus lebih giat proses dedeknya Liam."


Cakra mencengkram tangan Liora sangat lembut, menyatukan tangannya juga tangan Liora sebelum mendaratkan bibir di leher sang istri.


Cakra mulai menjelajahi leher Liora sangat lembut dan penuh perasaan. Meninggalkan beberapa jejak di sana sebelum berpindah tempat lebih turun lagi.


Pergumulan panas di sore hari terjadi cukup lama, hingga Liora benar-benar meminta ampun pada suaminya karena merasa lelah.


"Udah Sayang," pinta Liora dengan mata sayunya. Apa lagi kini Cakra kembali bermain di daerah sensifitnya.


"Sekali lagi, Sayang," bisik Cakra.


"Janji?"


"Hm."


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Cakra pada Rocky yang kini berdiri di sampingnya.


Asisten pribadinya itu baru saja membawa laptop baru juga file penting yang di untungkan masih bisa di selamatnya setelah insiden Liam kemarin.


Entah apa yang terjadi jika file itu hilang, mungkin Cakra dan Rocky akan kerja rodi untuk beberapa hari kedepan.


Perkara bisa terlihat tenang di hadapan Liora, karena Cakra tidak ingin istrinya merasa bersalah.


"Sudah Tuan, saya juga membuat salinannya."


"Bagus, harusnya kau melakukan itu dari dulu!"

__ADS_1


"Sidang Brian di mulai jam berapa?"


"Setelah makan siang," jawab Rocky singkat padat dan jelas.


Laki-laki itu masih berdiri di samping Cakra padahal sudah di suruh pergi. Rocky ingin mengatakan sesuatu, tapi memastikan suasana hati bosnya lebih dulu.


"Kenapa kau masih di sini? Kau ingin makan gaji buta?" tuduh Cakra tidak mendasar.


"Bukan begitu Tuan. Tapi Tuan Brian berbuat ulah lagi. Dia mengelapkan dana perusahaan cukup banyak, dan berinvestasi pada perusahaan non fisik. Anak cabang yang dia pimpin mengalami kerugian cukup besar. Proyek jembatan yang dia kerjakan tumbang saat percobaan, sangat di untungkan jembatan itu belum resmi di buka jadi tidak memakan korban satupun," lapor Rocky tanpa memotong kalimat satupun.


"Tidak bisakah dia menghilang tanpa menyebabkan masalah!" geram Cakra dengan tangan terkepal.


Dia mengira setelah Brian di penjara semuanya sudah berakhir, ternyata laki-laki itu malah membuat ulah di luar batas wajar.


Mungkin jika kerugian Cakra tidak terlalu masalah, tapi proyek? Bukankah itu sangat berbahaya bagi semua orang.


"Pastikan keputusan pengadilan tidak mengecewakan kita!"


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Otor mau ngomong apa ya🤔, eh jadi lupa kan🙈.


Intinya jangan pernah bosan ikut otor ya🥰


__ADS_2