Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 38


__ADS_3

Cakra mengacak-acak rambutnya sebelum merebahkan diri di tempat tidur. Dia akui, hidupnya tanpa dampingan Rocky memanglah hancur.


Eril dan Rocky bagai lagit dan bumi. Rocky adalah asisten paling bisa di andalkan dalam kondisi apapun.


Laki-laki itu selalu peka akan sekitar, bertindak tanpa menunggu abah-abah dari Cakra jika merasa hal tersebut dapat merugikan perusahaan juga hidup Tuannya.


Sementara Eril, selalu menunggu perintah baru melaksanakan. Hingga Cakra sedikit lengah akan latar belakang Brian dan Rissa salama ini.


Eril baru saja memberitahu setelah menyelidiki semuanya, bahwa Rissa dan Brian mempunyai hubungan yang sudah terjadil hampir tiga tahun. Mereka juga yang merekayasa kematian Liora dua tahun yang lalu.


Tapi sampai sekarang Cakra belum tahu alasan Brian melakukan ini semua untuk apa? Uang dan jabatan sudah dia berikan untuk adiknya itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan Tuan, tapi sangat sulit untuk mendapatkannya."


Itu adalah kalimat yang paling membuat Cakra pusing tujuh keliling. Beberapa anak buahnya sudah dia tugasnya menyelidiki masa lalu Brian juga masa lalunya sebelum kecelakaan, tetapi tidak ada titik terang sedikitpun yang bisa menguak segalanya.


"Hanya Rokcy yang tahu, aku yakin," gumam Cakra.


Untuk saat ini dia tidak ingin ngegabah yang bisa saja membuat Brian melarikan diri.


Di tengah rasa pusing yang Cakra derita, deringan ponsel malah menganggu. Awalnya Cakra ingin mematikan, tapi setelah melihat siapa pemiliknya dia urung.


Sebelum menjawab Video Call dari Liora. Cakra berlari ke kamar mandi untuk cuci muka dan merapikan rambutnya yang berantakan, kemudian kembali keranjang.

__ADS_1


"Papa?" Seruan anak kecil di seberang telpon terdengar riang.


"Hay anak Papa, tampan banget. Habis mandi ya?" tanya Cakra.


Liam mengangguk di seberang telpon. "Lim tundu tati," cemberut Liam.


Cakra tertawa menanggapi "Papa tiba-tiba pulang tanpa pamit, maafin papa Ya?" Lagi-lagi Liam hanya menganggukkan kepalanya.


"Papa tindal sini!"


"Liam sama Mama aja ikut papa mau nggak?"


Senyuman Cakra sulit untuk di sembunyikan, apa lagi saat gambar di seberang telpon mulai tidak terkendali, pertanda Liam tengah berlari entah kemana.


"Jangan di ganggu Liam, Mama lagi masak ini. Itu letakin ponsel Mama. Liam nggak boleh main ...."


"Ra aku sakit, nggak ada yang rawat di sini."


Tampilan wajah Liora yang sedang memangku Liam terlihat di layar, dengan wajah terkejut.


"Kamu yang nelpon?" tanya Liora.


"Bukan, kirain kamu," jawab Cakra

__ADS_1


Tatapan Liora tertuju pada putra kecilnya. Mungkin tidak ada yang percaya kalau anak dua tahun lebih bisa menelpon seseorang, tapi itulah yang di lakukan Liam. Apa lagi foto Cakra tertampil di sana.


"Kamu beneran sakit?" tanya Liora.


"Papa cacit?"


"Iya Papa sakit, kalian mau kesini? Nanti di jemput sama Eril." Cakra pura-pura batuk untuk meyakinkan dua orang kesayangnnya.


"Lemas banget Ra, kerumah sakit juga nggak ada gunanya, pulang nggak ada yang ingetin makan."


Cakra meringis, sepertinya Liora tidak percaya dengan akting yang dia mainkan, terbukti wanita itu menyerahkan ponsel pada Liam.


"Papa cacit?" tanya Liam entah kesekian kalinya.


"Kangen sama Liam. Nanti setelah telpon mati, Liam nangis minta ketemu papa ya Nak. Di rumah papa banyak mainan besar, mobil-mobil dan sepeda besar. Kalau Liam kesini banyak temannya. Liam mau?"


"Mau."


"Yaudah Liam nangis!"


...****************...


Ajaran sesat sedang di jalankan. Ada yang mau getok pala Cakra, atau malah di dukung nggak nih?😅

__ADS_1


__ADS_2