
Cakra yang baru saja sampai di rumah bersama istri dan anaknya, harus pergi lagi sebab menerima telpon dari dokter yang menangani Liam tentang sakit yang pernah di derita anak kecil tersebut.
Sebelum pergi, Cakra memgecup kening Liora. "Cuma setengah jam, jangan kemana-mana, Sayang," bisik Cakra.
"Itut." Liam langsung memeluk kaki Cakra saat hendak pergi. "Ai ibi Liam." Bocah kecil itu mendongak. Pancaran matanya menyiratkan harapan.
Cakra yang tidak tega segera mengangguk, membuat Liam bersorak kegirangan.
"Izin sama Mama dulu," perintah Cakra.
Liam langsung menghadap Liora yang tengah tersenyum. Wanita itu mengangguk tanpa mendengar ucapan Liam. "Jangan nakal kalau sama Papa."
"Hole."
Liora mengantar Cakra hingga di depan pintu, membalas lambaiyan tangan Liam sebelum kaca tertutup rapat.
Setelah kepergian Cakra, Liora langsung menuju dapur untuk membuat jus buat dirinya sendiri yang merasa kegerahan sebab perjalanan jauh dari Villa.
Entah, dia tidak mengerti dengan Cakra yang sepertinya tidak lelah jika itu menyakut dirinya maupun Liam. Hasil tes laboratorium bisa saja di ambil oleh Eril jika Cakra cape, tetapi laki-laki itu ingin mengambilnya sendiri.
Lamunan Liora buyar ketika melihat bayangan seseorang melintas, jika tidak salah itu adalah bayangan suaminya. Dia langsung berbalik dengan senyuman.
"Mas lupa sesuatu ...." Liora menelan salivanya dengan kasar, menyadari yang duduk di meja pantri bukan Cakra melainkan laki-laki lain yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya Liora mundur beberapa langkah.
"Sialan, bahkan kau tidak tahu siapa aku!" Kesal Brian langsung membuang puntung rokoknya asal.
Laki-laki itu berjalan semakin dekat pada Liora, membuat Liora mundur beberapa langkah hingga mentok di depan kompor listrik.
"Kamu siapa? Kenapa bisa lolos masuk begitu aja?" tanya Liora dengan suara bergetar. Di balik tubuhnya, dia sedang membuka laci untuk mengambil sesuatu.
Saat Brian semakin dekat padanya, Liora langsung menutup mata seraya menodongkan pisau yang berhasil dia temukan.
"Melanglah sedikit aja, saya akan menusuk kamu!" Ancam Liora.
Brian tertawa, dia menarik dagu Liora kemudian menghempaskan begitu saja. "Dasar perempuan kampung nggak tahu diri. Harusnya aku membunuhmu saat itu seperti yang di katakan Rissa. Sekarang kau malah mempersulit semuanya, cuih." Jika saja Liora tidak melengos, wajah wanita itu akan terkena ludah Brian.
"Hm."
Wajah Liora yang awalnya ketakukan kini terganti dengan senyuman. Dia meletakkan pisau itu kembali ke tempatnya. "Kenapa nggak bilang sejak tadi? Pantas aja kamu mirip Cakra. Ayo duduk dulu!" Ajak Liora membuat Brian bingung melihatnya.
Pria itu mengira Liora akan menangis ke takutan dan segera mengabari Cakra, tapi espektasinya terlalu tinggi untuk itu.
"Oh iya, kamu minum apa, teh, kopi atau susu?"
"Kopi," jawab Brian asal.
__ADS_1
Pria itu kembali duduk. Toh apa yang dia ingingkan sudah dia dapatkan sejak pagi. Namun, kembali karena melupakan sesuatu, malah dia bertemu kakak ipar yang pernah ingin dia lenyapkan.
"Kesini nyari mas Cakra ya? Dia baru aja pergi, nggak papasan di jalan?" tanya Liora berbasa-basi.
Wanita itu meletakkan segelas kopi di hadapan Brian, kemudian ikut duduk.
"Saya Liora istrinya Cakra. Makasih ya nggak jadi bunuh saya waktu itu dan cuma nipu Cakra." Liora tersenyum
"Di minum kopinya, sambil nunggu mas Cakra datang."
.
.
.
.
.
.
Komentar kalian semangat Author❤️
__ADS_1