Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 131 - Menjadi orang tua


__ADS_3

Mempunyai banyak urusan di kantor setelah ditinggal beberapa hari membuat Caka pulang jam 9 malam di saat semua anak-anaknya telah tidur, begitupun dengan sang istri yang sudah terlelap. Mungkin karena lelah seharian mengurus buah hati mereka, terutama Liam yang semakin tidak terkendali, apalagi tidak ada Eril yang mengawasinnya. Selain mendengarkan Cakra dan Liora, Liam hanya akan patuh pada Eril saja. Sekuat itulah ikatan mereka salam ini.


Cakra melepaskan jas juga dasi dilehernya setelah sampai di kamar. Pria itu memperhatikan anak-anaknya yang terlelap, kemudian beralih pada Liora. Dia berjalan mendekat, menundukkan kepalqnya, kemudian mengecup kening sang istri cukup pelan. Namun, siapa yang menyangka, perlakuan Cakra malah membangunkan wanita yang ketiduran tersebut.


"Ya ampun, Mas aku ketiduran. Maaf nggak nyambut kamu di depan pintu. Pasti sekarang lapar banget," ucap Liora seperti orang kesurupan. Wanita itu tadi berniat menunggu suaminya pulang, karena tahu Cakra tidak akan makan malam jika tidak bersamanya. Namun dia malah tetidur saat menyusui Lion. Bahkan yang memindahkan Lion ke boxs adalah naninya.


Cakra mengulum senyum, pria itu kembali mengecup kening Liora, tidak berhenti di situ. Dia juga mengecup bibir yang terus mengoceh tanpa henti.


"Berhenti merasa bersalah hanya karena lalai pada tugasmu! Mas mengerti kamu nggak bisa ngerjain semuanya sendiri," ucap Cakra. "Udah makan?" tanyanya dan dijawab gelengen oleh Liora. Melihat itu, Cakra segera melepaskan amitannya di pinggang sang istri. "Ayo makan bersama!" ajak Cakra.


Liora menganggukkan kepalanya, wanita itu membantu Cakra membuka kancing kemaja, kemudian mengambil piyama tidur dari lemari. "Pakailah, Mas! Aku siapkan dulu makan malam," ucap Liora.


Wanita itu segera meninggalkan kamar dan menuju dapur. Dia memanaskan beberapa makanan yang telah pelayan siapkan tadi. Harus kalian tahu, selama satu tahun lebih tinggal di rumah Cakra, selama itu pula semua pelayan memakan apa yang dimakan oleh majikannnya atas perintah Liora sendiri. Alasannya cukup klasik, yaitu agar pelayan tidak repot jika harus membuat menu dan bolak-balik dapur kotor dan bersih hanya untuk membuat menu yang sederhana.

__ADS_1


"Sayang, mas hari ini kesal banget sama seseorang," ucap Cakra setelah sampai di meja makan. Pria itu mengambil piring yang diserahkan oleh istrinya.


"Kesal kenapa?" tanya Liora.


"Tau nggak? Beberapa pemegang saham berharap banget mas mati. Mereka mau cari pengganti mas di perusahaan, mentang-mentang mas cuma punya saham 40 persen." Cakra memanyungkan bibir layaknya anak kecil. Lebih mengemaskannya lagi, pria itu cemberut sambil mengunyah.


Liora mengerutkan keningnya. "Mas jual saham? Bukanya dulu 60 persen ya?" tanya Liora. Wanita itu pernah mendengar bahwa Cakra mempunyai banyak saham, tetapi tidak ada angin tidak ada hujan langsung merosot dua puluh persen.


"Kok aku?"


"Ya karena kamu istri aku. Kamu berhak mendapatkan bagian dalam perusahaan," jawab Cakra dengan entengnya. Pria itu kembali fokus pada makan malamnya.


***

__ADS_1


Jika Cakra dan Liora sedang asik bercerita sambil makan malam, maka berbeda dengan Eril yang kini panik sendiri menyaksikan secara langsung wanita yang dia mencintai mengejang sesekali. Bukan karena rintihan yang keluar dari mulut Rahma, tetapi wajah pucat dan keringat dingin yang menyelimuti tubuh Rahma.


"Gigit aku, Rahma! Jangan ditahan kayak gitu, aku tahu kamu kesakitan," bisik Eril di sela-sela Rahma mengedang dengan tenang.


Sejak tadi, tidak ada keluhan yang keluar dari mulut Rahma. Wanita itu seakan menyembunyikan rasa sakitnya, bahkan ketika rasa sakit itu ingin merengut nyawanya sekalipun. Yang Rahma lakukan sejak tadi hanya beristigfar tanpa ada kata mengeluh.


"Mengedang sekali lagi nyonya!" perintah sang dokter membuat Rahma kembali mengejang sekuat tenaga hingga akhirnya sebuah tangisan bayi mengema di ruangan tersebut.


Rahma tersenyum sambil memejamkan matanya, begitupun dengan Eril. Pria itu menunduk untuk mengecup kening Rahma yang penuh akan keringat. "Selamat, kita sekarang jadi orang tua," bisik Eril.


Rahma hanya mengangguk pelan, genggaman tangannya semakin erat pada Eril yang kini telah menjadi suaminya.


"Selamat Tuan, Nyonya. Bayi anda seorang putra.

__ADS_1


__ADS_2