
Hari libur tidak membuat Rocky ikut libur dari pekerjaan yang membelenggu hidupnya. Pria itu memang tidak ke perusahaan, tetapi mengurus sesuatu di luar perusahaan sehingga sama saja untuknya. Di mana dia harus meninggalkan rumah pagi-pagi sekali demi mengurus semua masalah bersama tuan Cakra.
Pria itu telah rapi dengan setelan jas seperti biasa dan bersiap untuk pergi. Dia keluar dari kamar dan mendapati aroma sedap dari dapur yang tidak pernah dipakai untuk memasak makanan. Dia berjalan cepat menuju dapur dan menemukan seorang gadis berambuat panjang hingga pinggang, sedang menghidangkan makanan di atas meja makan. Rocky mendelik, tatapan tajam lagi-lagi dia layangkan pada gadis yang benar-benar membuat emosinya mencuak hingga permukaan.
"Selamat pagi, Tuan. Makanan sudah siap," sapa Alea dengan senyuman lebarnya. Gadis itu berusaha mengambil perhatian dan hati Rocky agar benar-benar diterima bekerja di sini, bukan hanya satu minggu. Namun, siapa yang mengira, Rocky merespon dengan menyebalkan.
"Siapa yang menyuruh kau masak? Tugasmu di sini hanya mengasuh Arumi, membersihkan apa yang kau kotori sendiri, dan jangan muncul atau lebih tepatnya jangan keluar kamar jika saya ada di rumah, bahkan jika kau lapar sekalipun, kau harus menunggu saya pergi!" ujar Rocky tanpa hati.
Namun, sepertinya ucapan Rocky hanya angin lalu untuk Alea, terbukti gadis itu sibuk merongoh saku celananya untuk mencari sesuatu. Dia menyerahkan kertas pada Rocky.
__ADS_1
"Kalau begitu kembalikaj uang yang saya keluarkan tadi pagi. Semua bahan-bahan ini saya membelinya dengan uang sendiri!" ucap Alea.
"Kenapa saya harus membayar sesuatu yang tidak saya nikmati? Makan semua itu dan ganti uangmu sendiri!" jawab Rocky.
Pria itu melempar struk belanjaan ke tempat sampah, kemudian berlalu menuju pintu utama. Namun, langkah Rocky berhenti karena teriakan gadis jadi-jadian yang berhasil masuk ke hidupnya.
"Hey Tuan, putri Anda sudah cantik dan sangat wangi. Apakah Anda tidak ada niatan untuk melihatnya meski sekali saja?" tanya Alea sedikit berteriak, tetap Rocky hanya melabaikan tangan seakan tidak peduli.
Dia mengira akan mendapatkan pujian lantaran menjadi nani yang rajin, tetapi malah kalimat-kalimat kasar yang dia dapatkan. Sungguh bosnya benar-benar kejam. Alea membereskan dapur setelah sarapan, tidak lupa membersihkan segala penjuru apartemen tersebut, lantaran dia memang menyukai kebersihan. Alea tidak lupa membersihkan kamar Rokcy yang ternyata tidak dikunci. Namun gadis itu hanya membersihkan sedikit saja lantaran kamar pria itu sangat bersih nan rapi.
__ADS_1
"Gila sih, kekurangannya cuma dingin dan tidak bisa dimiliki," gumam Alea yang lagi-lagi takjub pada rumah Rocky.
Gadis itu segera menutup pintu dan menemui Arumi yang asik bermain di ranjang seorang diri. Dia mengendong Arumi agar turun dari ranjang, kemudian membawanya ke ruang tamu agar bermain secara bebas. Tidak lupa Alea memberikan semua mainan Arumi.
"Hey cantik, kenapa kamu sangat mengemaskan hm? Apa kamu mau jadi anaknya tante? Tante cantik kok, mungkin sebelas dua belas lah sama mama kamu," ujar Alea terus mengajak Arumi bicara.
Sementara Arumi sendiri berhenti bermain karena terlalu fokus mendengar celetukan gadis cantik di hadapannya.
"Arumi cantik, manis dan baik, tolong kerjasamanya ya? Jangan buat tante diusir dari rumah ini. Soalnya tante tidak tahu harus tinggal di mana. Kehidupan di luar sana sangat keras. Satu lagi, tante tidak punya uang." Alea terus menceritakan kisah pilunya pada Arumi seperti orang bodoh. Gadis itu membaringkan tubuhnya di lantai marmer sambil mengerjapkan mata perlahan. Dia sangat mengantuk tetapi harus tetap terjaga demi uang.
__ADS_1
Rasa kantuk yang semula Alea rasakan hilang seketika saat mendengar suara sandi suskes dibuka. Gadis itu langsung bangun dan memangku Arumi, karena dia tahu itu pasti gunung es.