Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 67


__ADS_3

"Mas kira aku gila? Sampai di bawa ke rumah sakit?" tanya Auris dengan bibir melengkung ke bawah. Wanita itu kini menyandarkan kepalanya di dada bidang Cakra.


Mereka ada di dalam mobil menuju rumah padahal jam pulang kantor belum tiba. Namun, siapa yang berani mencegah Cakra pulang?


"Bukan gila Sayang. Tapi aku bawa kamu ke dokter biar bisa terapi. Siapa tau setelah terapi perasaan kamu jauh lebih baik," jelas Cakra sangat lembut, membenamkan bibirnya di kening sang istri.


"Jadi ibu tunggal itu nggak mudah, apa lagi di usia kamu terbilang muda."


"Jadi Mas nggak anggap aku gila Kan?" tanya Liora untuk memastikan.


"Ck, nggak Sayang."


Cup


Eril yang mendengar kecupan itu langsung bergidik ngeri, dia semakin menambah volume radio yang dia bunyikan. Bukannya tenang, malah dendapat teguran dari bos tersayangnya.


"Kau sengaja mau bangunkan Liam?" tanya Cakra menengdang jok yang di duduki Eril.


"Bu-bukan begitu Tuan, tangan saya tadi kepleset, iya," alibi Eril. Sungguh laki-laki itu sangat berbeda dengan abangnya.


"Udahlah Mas, kamu juga ngapain cium-cium padahal ada orang. Kan bisa di rumah."


"Iya Sayang di rumah. Kan kamu udah janji tiga kali lipat semalam," bisik Cakra seraya mengigit daun telinga Liora. Hal itu membuat Liora kegelian.


"Apaan sih Mas, sana ih jauh-jauh!"


"Cie yang kangen, sampai aku nggak di suruh jauh-jauh," goda Cakra semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Liora.


"Ra."

__ADS_1


"Hm."


"Mau makan sesuatu nggak?"


"Ah iya aku hampir lupa mas." Liora langsung duduk menghadap Cakra. Bahkan kedua kakinya naik ke tempat duduk, sangat tidak mencerminkan ke aggunan.


Cakra menarik dres Liora agar menutupi paha istrinya.


"Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang, atau leher kamu nggak bisa balik!" Ancam Cakra, tidak sudi kalau saja Eril melihat paha mulus istrinya.


"Apa?" tanya Cakra pada Liora.


"Aku pengen banget makan pizza, sejak dulu pengen tau rasanya gimana. Pasti enak banget sampai ada iklan di mana-mana. Tadi juga pas perjalan ke kantor ada iklan di layar lebar."


Cakra menahan senyumnya melihat keantusiasan Liora. Dia mengelus pipi istrinya itu.


"Ya udah di rumah nanti kamu makan sepuasnya."


"Ada, apapun yang kamu mau."


Cakra beralih pada Eril. "Pesan pizza berbagai rasa dan bawa kerumah secepatnya!" perintahnya pada Eril.


"Baik Tuan."


"Jangan banyak-banyak Mas, aku cuma mau icip."


"Iya Sayang, cuma satu."


***

__ADS_1


Mata Liora membulat sempurna melihat beberapa dus pizza ada di atas meja. Sungguh itu semua di luar dugaanya. Dia menatap Cakra yang berdiri si sampingnya.


"Katanya satu?"


"Iya satu, satu untuk satu rasa." Cengir Cakra tanpa dosa.


Laki-laki tampan itu menarik tangan Liora agar segera duduk di meja makan. Dia membantu Liora membuka salah satu dus yang telah di pilih wanita itu.


"Gimana, enak?"


"Rasanya agak aneh, tapi enak kok," ucap Liora dengan senyuman.


Walau rasa pizza itu terasa aneh di mulutnya. Sekarang dia sudah bisa menikmati pizza tersebut. Tidak seperti saat di kampung.


Liora ingat betul, saat Liam menangis mengiginkan itu karena melihat bu Weni memakannya. Dan bu Weni malah mengatakan, dia tidak mampu membeli pizza yang mahal itu.


"Sayang, kenapa melamun?"


"Ah nggak papa, nggak nyangka aja bakal rasain makan Pizza ini."


"Apapun yang kamu mau bilang aja, mas bakal penuhi semuanya." Cakra mengelus bibir Liora yang terkena noda.


"Makan sepuas kamu, aku suka liatnya."


Cakra menumpu tangannya di meja hanya untuk melihat Liora memakan pizza.


"Besok sidang akhir Brian dan Rissa, jadi mungkin aku nggak ada di kantor," ucap Cakra tiba-tiba.


"Aku boleh ikut?"

__ADS_1


"Nggak!" tolak Cakra tegas. "Oh iya kamu udah tau kalau Rissa hamil?"


Kunyahan Liora memelan. Rissa hamil anak siapa? Cakra?


__ADS_2