
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Cakra setelah mereka sudah berada di ruang kerja laki-laki itu.
"Semua masalah yang telah di timbulkan Tuan Brian sudah beres Tuan. Jembatan yang semula roboh di bangun kembali tapi kita mengalami kerugian tentang hal itu."
"Tidak apa-apa selama tidak ada korban yang berjatuhan. Apa hanya ini informasi penting yang ingin kamu sampaikan?"
"Bukan Tuan," jawab Rocky. "Saya terpaksa mengubah konsep rumah yang Anda ingingkan, karena pak Soleh tidak mengizinkan bangunan yang ada di desa Nelayan terlalu tinggi. Jadi saya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan lagi itu menyelesaikannya," jelas Rocky.
Cakra menghela nafas panjang mendengar hal itu. Yang Cakra takutkan, rumah hadiah ulang tahun Liora tidak selesai tepat waktu.
"Terserah saja konsepnya seperti apa yang penting tidak mengubah rumah utama," pasrah Cakra.
"Saya hanya mengubah konsep tempat mendaratnya helikopter Tuan."
"Kamu memang bisa di andalkan," puji Cakra. "Panggilkan Eril ke sini, saya ingin bicara dengannya!" perintah Cakra sebelum Rocky keluar dari ruangan kerjanya.
Beberapa menit kemudian yang di panggil segera menghadap.
"Apa yang saya perintahkan sudah siap?"
"Semuanya sudah siap Tuan, tinggal melaksanakan saja."
"Jangan sampai ada yang terlewat," ucap Cakra.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Usai mengurus semua tentang Liora dan Liam, Cakra segera menemui istri dan putranya di kamar utama.
Raut wajah serius yang sempat terlihat kini tergantikan dengan senyuman melihat istri dan putranya tengah bermain di atas ranjang.
"Anak Papa bangun?" tanya Cakra ikut bergabung di ranjang.
"Tau anak Papa, tiba-tiba bangun terus nangis," ucap Liora.
"Mungkin mimpi buruk karena tidur terlalu dini," sahut Cakra.
Sementara yang di bicarakan sibuk tertawa karena gelitikan Liora sejak tadi. Liam terus meronta di pelukan Liora hingga tidak sengaja kaki kecilnya menendang perut Liora cukup kencang.
"Map Mama, Liam ida iat," ucap Liam duduk tegak kemudian mengelus perut rata Liora seperti yang di lakukan Cakra.
"Ra, sakit banget? Sayang?" tanya Cakra ketika Liora tidak mengeluarkan suara hanya meringis, keringat dingin menbasahi pelipis wanita cantik itu.
"Sayang!"
"Mas, panggil dokter aku mohon," pinta Liora lirih.
"Ah sialan!" Kesal Cakra langsung mengendong Liora turun dari ranjang.
__ADS_1
"Rocky siapkan mobil! Eril jaga Liam di rumah!" teriak Cakra menuruni satu persatu anak tangga dengan raut wajah panik. Apa lagi saat melihat darah mengalir di piyama tidur yang di gunakan Liora.
Cakra langsung masuk ke mobil setelah Rocky datang.
"Ayo cepat!" bentak Cakra pada Rocky.
Mobil melaju dengan kencangnya meninggalkan rumah bak istana tersebut, untung saja jalanan lengang jadi tidak ada yang menghambat perjalanan mereka.
"Ra, buka mata kamu. Hey jangan buat mas panik," pinta Cakra dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Ak-aku nggak papa, cuma sakit perut saja. Aku hanya takut ...."
"Sebentar lagu kita sampai, sabar ya Sayang. Maaf teledor jaga kamu," bisik Cakra mengecup kening Liora.
Laki-laki itu merapikan rambut Liora dan mengeringkan keringat dingin di wajah sang istri.
"Aku mohon lindungi mereka ya Allah, jangan sampai calon anak aku kenapa-napa," batin Cakra dengan perasaan berkecamuk.
"Jangan nangis Mas, aku baik-baik aja," ucap Liora mengusap bulir bening yang berhasil menetes di membasahi pipi Cakra.
"Itu pasti, mas percaya kamu perempuan kuat, ini bukan apa-apa, iyakan Sayang?"
"Maaf Mas," lirih Liora memeluk Cakra. "Maaf kamu harus tau dalam keadaan seperti ini," bisiknya di telinga Cakra penuh penyesalan.
__ADS_1