
Sibuk bermesraan di ruang keluarga dengan berbagi satu sama lain, bahkan saling suap. Sepasang suami istri itu tidak menyadari bahwa putranya sejak tadi sudah tidak ada di depan Tv.
Liam berjalan menuju ruangan yang mengakses ke pintu samping di mana kolam ikan berada, kolam yang bisa di gapai oleh Liam dan tidak terlalu dalam.
Kedalam kolampun hanya sebatas dada Liam, membuat Liam sangat girang di buatnya.
"Ayi, enang!" pekik Liam penuh bahagia walau begitu tidak akan ada yang mendengar sebab rumah itu terlalu besar untuk ukuran suara Liam.
Sementara di sisi lain, Liora segera menyudahi tawanya ketika Cakra berhenti mengelitik dan bermanja. Wanita cantik itu beranjak setelah Nani Liam datang membawa buah untuk cemilan Liam.
"Nyonya, di mana Tuan Muda?" tanya Suster tersebut membuat Liora terdiam beberapa saat.
"Liam?" Liora langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat sangat panik sekarang.
"Mas, Liam di mana?" tanya Liora.
"Mas juga nggak tahu Sayang, jangan panik seperti itu. Anak kita nggak mungkin bisa keluar," jawab Cakra terlihat sangat tenang. "Kita cari di sekitar sini." Cakra mengenggam tangan Liora dan berjalan di dalam rumah yang sangat luas itu.
Tidak lupa menyuruh Nani Liam untuk mengabarkan pada pelayan yang mungkin saja melihatnya. Cakra tidak khwatir sama sekali karena memang tidak ada yang berbahaya di lantai sadar, bahkan akses kolam renang kuncinya ada pada Eril.
Hanya satu yang berbahaya yaitu tangga, tapi Ruang keluarga ada di dekat tangga, tidak mungkin Liam di sana.
"Mas maafin aku."
"Ck, bukan salah kamu, lagian Liam nggak mungkin kenapa-napa," decak Cakra tidak suka.
Apapun yang terjadi, Liora selalu saja meminta maaf walau itu bukan kesalahannya.
__ADS_1
Senyuman Cakra mengembang ketika mendengar tawa anak kecil, bisa di pastikan itu adalah Liam.
"Dengar?" tanya Cakra pada Liora dan di jawab anggukan oleh Liora.
Langkah keduanya semakin dekat ke sumber suara. Cakra dan Liora terkejut bukan main melihat putra mereka ada di dalam kolam ikan.
"Ya ampun Nak, ngapain di sana?" tanya Cakra. Bukannya marah, Cakra malah tertawa melihat tingkah Liam.
"Bocil Papa kenapa sampai di sini Hm? Sampai mandi sama ikan." Gemes Cakra mengendong Liam yang kini tubuhnya sudah basah.
"Lima enang ikan andi Papa. Tedal kali," cerita Liam penuh kebahagiaan.
"Mas, liat ini?" Liora menunjuk sesuatu yang ada di dalam kolam renang.
Tawa Cakra semakin pecah melihat perbuatan putranya. Lihatlah, di sana ada pelampung yang sebesar donat dan di dalamnya ada ikan yang meronta-ronta sepertinya ingin lepas, bukan hanya satu tapi beberapa.
"Kenapa ikannya di kasih pelampuang sayang?" tanya Cakra
"Mas, anak kamu?" Liora menutup mulutnya tidak percaya. Sejak kapan ikan tidak bisa berenang? Sungguh Liam ada-ada saja.
"Siapa yang ngajarin, hm? Pasti Mama kan? Hayo ngaku?"
"Liam intal," jawab Liam.
"Sudahlah Mas, itu Liam harus mandi. Mas bawa Liam, aku lepasin dulu ikannya, kasian nggak nyentuh air."
Liora hendak mendekat ke kolam ikan, namun tangannya di tarik oleh Cakra. "Jangan dekat-dekat, licin itu. Kalau jatuh gimana?"
__ADS_1
"Tapi kan ...."
"Ada pelayan yang akan membereskan semuanya."
Liora patuh kerena dia juga takut jatuh dan membahayakan janin yang berusaha dia sembunyikan pada Cakra. Wanita cantik itu mengekori Cakra menuju kamar untuk memandikan Liam.
"Biar aku aja Mas."
"Duduk, jangan jongkok nanti anak kita kejepit," tegur Cakra tanpa menoleh, membuat Liora urung ikut jongkok. Wanita itu duduk di toilet seraya mempehatikan Cakra memandikan Liam.
***
Malam harinya, ketenangan pasangan bucin itu di ganggu oleh kedatangan dua bersaudara yang datang tanpa mengucap salam.
"Tuan," panggil Rocky, membuat Cakra yang akan mencium Liora berhenti. Salahkan pasangan bucin itu karena bermesraan di luar kamar.
"Kau mau mati hah?"
"Jangan Tuan, kalau bang Rocky mati saya makan apa?" sahut Eril hingga mendapat sikuan dari perut oleh Rocky.
"Gimana sama Rahma Eril?" tanga Liora menyembulkan kepalanya di balik lengan Cakra yang berlutut di atas sofa.
"Dia dan Abinya baik-baik saja Nyonya, dia mengontrak di sekitar sini."
"Ah syukurlah, makasih Eril."
"Tidak perlu berterimakasih, itu memang tugasnya!" kesal Cakra menatap dua adik kakak yang berhasil menganggu ketenangannya.
__ADS_1
"Kau datang malam-malam kesini karena apa?" tanya Cakra pada Rocky.
"Ada hal serius yang harus saya sampaikan Tuan."