Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 100


__ADS_3

Jam 6 dini hari, Liora duduk sila di atas tempat tidur seraya menoel-noel pipi suaminya. Dia sudah melakukan hal itu sejak tadi, tapi pemilik pipi belum juga bangun.


"Mas ayo bangun! Katanya mau bangun pagi nemenin aku," pinta Liora.


"Apa lagi Ra? Mas ngantuk banget Sayang," gumam Cakra. Bagaimana tidak mengantuk, setelah membantu Liora membeli mie, bukannya mendapat jatah malah dia di kerjai habis-habisan oleh istrinya. Untung saja dia cinta atau Cakra sudah murka semalam.


Liora menyuruhnya menunggu di dalam kamar, padahal wanita cantik itu tidur di kamar lain dengan alasan dia bau.


"Ya sudah kalau Mas nggak mau aku pergi sama Rocky atau Eril aja." Liora segera turun dari ranjang dan hendak pergi, tapi tangannya di tarik oleh Cakra.


"Jangan ngambek Sayang, lima menit aja setelah itu mas bangun," cegah Cakra tanpa membuka matanya lebih dulu.


Sebenarnya Cakra sangat malas bangun pagi apa lagi hanya pergi ke pasar dan berdesak-desakan. Tapi itu semua harus dia lakukan demi memenuhi keinginan istrinya yang merengek sejak subuh tadi.


Kenapa Liora harus semenyebalkan ini saat hamil? Dan bodohnya Cakra tidak bisa menolak.


Laki-laki tampan itu kembali memejamkan matanya ketika melihat Liora berjalan ke kamar mandi. Baru saja sedikit terlelap dia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.


Bukan hanya menyentuh, tetapi bahkan orang itu menjilat dan mengigit pipinya.


"Sayang jangan mancing pagi-pagi," gumam Cakra.


"Acing itan mana Papa?" tanya Liam yang kini berada di atas tubuh papanya. Dia adalah pelaku yang Cakra kira Liora.


"Liam?"

__ADS_1


"Napa Papa?" tanya Liam lagi, kali ini bocan itu turun dan duduk sila di hadapan Cakra.


"Kenapa gigit pipi papa, hm?"


"Papa didit pipi Liam duda nanti."


"Hah?" bingung Cakra. Karena ulah bocah itu kini matanya terbuka sangat lebar.


"Liam gigit pipi Mas karena nanti Mas gigit pipi Liam," jelas Liora berjalan ke arah lemari untuk mencari baju yang pas untuknya.


"Mas bingung." Cakra mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Liam gigit pipi Mas buat balasan nanti kalau aja Mas gigit pipinya."


"Hah? Bisa gitu ya konsepnya? Kan belum tentu juga Mas gigit pipinya, kok malah mikirnya gitu." Cakra tertawa puas memikirkan jalan pikiran Liam yang menurutnya sangat aneh.


"Papa cucu." Bocah itu menutup mulutnya.


"Heh bocil, yang lucu itu kamu," sentak Cakra tidak terima.


"Papa boci cucu," balas Liam dan turun dari ranjang.


Bocah tersebut menghampiri mamanya yang sudah rapi. "Mama mana? Liam itut ai ibi!" pinta Liam.


"Mama mau pergi pasar sama Papa naik motor, jadi Liam tinggal dirumah saja sama om Eril ya."

__ADS_1


"Om Eyil ndada Mama, Om Oki ada."


Liora melirik Cakra yang masih duduk di ranjang. "Eril nggak masuk kerja mas?"


"Nggak, subuh-subuh tadi dia pergi ke luar kota, katanya mau lanjutin es dogernya di sana," jawab Cakra.


"Kok es doger?"


"Pokoknya lanjutin pendidikan Sayang, kenapa harus mikirin dia sih? Suami kamu kan mas," sahut Cakra berjalan ke kamar mandi.


"Mulai deh sensitifnya, di sini yang hamil siapa sih?" gumam Liora yang sudah biasa dengan sikap baru Cakra setelah kehamilan dirinya.


Sayup-sayup Liora mendengar suara orang muntah di kamar mandi, tapi Liora tidak khawatir karena itu biasa bagi ibu hamil, bedanya Cakra yang merasakan.


"Papa huek ... Huek ... Mama?"


"Iya papa lagi muntah-muntah, ayo Liam sarapan dulu terus mandi sama Nani. Mama mau jalan-jalan sama papa dulu." Liora menarik Liam keluar kamar.


Sesampainya di lantai bawah dia benar-benar tidak mendapati Eril.


"Eril nggak kerja lagi?" tanya Liora pada Rocky.


"Iya Nyonya, dia harus menempuh pendidikan lagi."


"Yah Liam nggak ada temannya dong," guman Liora.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, saya harus mengirim Eril pergi demi menghindari sesuatu," batin Rocky.


__ADS_2