Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 55


__ADS_3

"Kenapa nggak diminum?" tanya Liora dengan alis terangkat. "Saya nggak mungkin racunin kamu, itu nggak guna." Liora melempar senyumnya.


Brian senyum smrik memperhatikan tingkah Liora yang terlihat sangat tenang. Apa wanita itu sama sekali tidak takut padanya, di saat rumah sepi seperti ini? Bahkan satu pelayanpun tidak ada yang melintas.


"Apa kau nggak takut? Aku bisa saja membunuhmu jika mau."


"Itu nggak mungkin, nggak ada yang bisa bunuh saya di rumah ini, kecuali Mas Cakra sendiri."


Liora langsung beranjak dari duduknya. "Pacar kamu ada di ruang bawah tanah, tolong bawa dia pergi. Dia sangat megusik saya!"


Mendengar hal tersebut, Brian ikut berdiri. Ini adalah berita yang membahagiakan untuknya. Sudah lama dia mencari keberadaan Rissa, wanita itu sedang hamil anaknya.


"Bodoh," ucap Brian langsung melangkah pergi menuju taman untuk menemui Rissa.


Sepeninggalan Brian, tubuh Liora langsung tumbang. Seluruh tulang-tulangnya melemas. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut.


Kalau saja tidak ada Cakra yang menyanggah tubuhnya, mungkin dia sudah terjatuh ke lantai.


"Sayang, apa yang terjadi? Di mana semua pengawal dan pelayan?" tanya Cakra.


Pria itu baru saja datang, dan heran melihat rumah mewah nan besar itu tampak kosong tanpa penghuni satupun. Saat masuk, dia mendapati Liora hampir saja limbung.


"Ma-mas Cakra," lirih Liora.


"Kamu kenapa Sayang? Wajah kamu pucat terus berkeringat."

__ADS_1


Liora mengeleng. "Aku habis ketemu ...."


"Brian sialan apa yang kau lakukan pada istriku!" bentak Cakra berapi-rapi saat melihat Brian berjalan kearahnya.


Beberapa menit kemudian, pengawal juga Rocky berjalan di belakang pria itu.


Tubuh Brian langsung limbung dan terjatuh ke lantai. Darah berceceran mengotori lantai marmer. Darah tersebut keluar dari mulut Brian.


"Tuan." Tunduk Rocky di ikut beberapa pengawal lainnya.


"Bawa pergi Brian dari sini, saya tidak ingin melihat wajahnya!" Perintah Cakra tegas langsung mengendong Liora yang sudah kehilangan tenaga.


Laki-laki itu menurunkan Liora perlahan-lahan di ranjang. Duduk di tepi seraya menatap sang istri penuh kasih sayang.


"Kamu ketemu Brian? Dia ngapain kamu Ra, sampai ketakutan seperti ini?" tanya Cakra lembut.


"Di kamarnya, anak kita seperti biasa, selalu tertidur kalau naik mobil." Wajah Cakra memang terlihat tenang tapi tidak dengan kepalan tangannya yang mengeras.


Laki-laki itu menunduk, mengecup kening Liora sangat lama. "Istirahatlah, kamu nggak bakal kenapa-napa di rumah ini. Aku bakal kembali setelah urusan selesai."


Liora hanya mengangguk sebagai jawaban. Sungguh tubuhnya masih bergetar. Apa lagi melihat aura Brian yang sangat menakutkan.


Berpura-pura bersikap tenang bukanlah hal mudah untuk di lakukan, apa lagi dalam keadaan takut. Namun, Liora berhasil melakukan hal tersebut tanpa membuat lawannya curgi.


Wanita itu memejamkan mata. "Setidaknya aku berguna untuk Mas Cakra, semoga setelah ini nggak ada lagi masalah yang harus dia hadapi," gumamnya.

__ADS_1


***


Cakra menatap Rocky, Eril dan beberapa pengawal lainnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


Bukan cuma itu, Cakra bahkan mengumpulkan seluruh pelayan yang tadinya menghilang entah kemana, meninggalkan istrinya sendirian di rumah yang sangat besar.


"Apa kalian sudah tidak butuh pekerjaan hah!" bentak Cakra berapi-rapi.


Semua yang ada di ruangan itu segera menunduk, bersiap menerima hukuman apapun. Kemaran ini pernah mereka temui saat Tuan besar wafat tanpa pengawasan.


Bugh


Bugh


Bugh


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Komentar kalian semangat Author


__ADS_2