Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 191 - Cemburu pada Rocky


__ADS_3

Melihat suaminya yang masih berada di balkon kamar padahal jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam, Liora memutuskan untuk menghampiri, terlebih anak-anaknya sudah tertidur di boks masing-masing. Dia duduk di samping Cakra yang sedang menatap bintang tanpa terganggu oleh kehadirannya. Liora dengan berani menggenggam tangan sang suami sambil tersenyum.


"Ada masalah di perusahaan, sehingga Mas enggang terlelap?" tanya Liora dengan suara lembutnya.


Cakra yang menyadari kedatangan istrinya segera menggeleng. Pria itu membalas genggaman Liora tidak kalah erat, bahkan memberikan senyuman hangat dan tatapan penuh cinta.


"Mas tidak punya masalah dengan pekerjaan."


"Lalu?" tanya Liora lagi.


"Mas hanya memikirkan Rocky."


Kening Liora mengerut mendengar jawaban suaminya yang menurutnya sedikit ambigu. "Bukannya Rocky sedang memeriksa anak cabang di Bandung? Lalu untuk apa Mas memikirkan dia?" tanya Liora dengan nada sedikit tidak biasa, dan itu ditangkap jelas oleh Cakra.


Alih-alih menjawab, Cakra malah tertawa, bahkan dengan gemas mencubit pipi Liora. "Cara bertanya dan nada bicara kamu, seolah-olah sedang cemburu pada Rocky," ledek Cakra. "Mas masih normal dan hanya tertarik padamu saja, jadi jangan berpikiran aneh-aneh sayang," ujar Cakra.

__ADS_1


Seketika wajah Liora memerah, wanita itu merasa malu karena Cakra bisa membaca dengan jelas isi pikirannya.


"Rocky ke bandung bukan hanya untuk mengurus pekerjaan, tetapi bertemu seorang gadis yang mas juga tidak tahu siapa. Awalnya mas mengira yang Rocky cari adalah Arumi, ternyata bukan. Anehnya, Rocky rela mendonorkan darahnya pada gadis tersebut dan merawatnya di rumah sakit," ucap Cakra. Pria itu menceritakan kegelisahan hatinya pada sang istri.


Sejak dulu hingga sekarang, Cakra selalu mencari tahu hal-hal yang menurutnya mencurigakan dari kedua orang kepercayaannya. Bukan karena tidak percaya pada mereka, hanya saja Cakra tidak ingin di balik sikap patuh dan sigap mereka, ada hal-hal yang mereka korbankan untuknya, itu saja.


Kepergian Arumi adalah kesalahan Cakra sepenuhnya, itu sudah pasti. Rocky tidak peduli pada siapa pun selain menyelamatkan perusahaan yang kehilangan pemimpinnya di tengah-tengah rencana licik Brian dan Rissa. Rocky terlalu fokus pada kehidupan Cakra dan melupakan ada sosok gadis yang dia lewatkan padahal sangat mencintainya.


"Rocky selalu menyembunyikan masalahnya sendiri di tengah-tengah menyelesaikan semua masalah mas. Dia tidak pernah menceritakan sesuatu, bahkan untuk meminta, dia tolong sangat enggang. Padahal selama ini mas tidak pernah menganggapnya sebagai bawahan, tetapi saudara yang bisa mas percaya."


"Rocky tidak meminta bantuan, Mas, mungkin karena beberapa alasan. Dia tidak ingin menyusahkan mas Cakra juga enggang untuk merepotkan," ujar Liora penuh senyuman. Wanita itu melepaskan genggaman tangan Cakra, hanya untuk menangkup rahang tegas sang suami.


"Karena Rocky tidak ingin menceritakan apa pun, maka bersikaplah tidak tahu apa-apa tentang masalahnya, seperti yang mas lakukan saat aku ingin memberikan kejutan kehamilanku! Mas bisa membantunya dengan memberikan dia waktu untuk menyelesaikan semua masalahnya sendiri."


"Kamu benar, Sayang. Memberikan waktu adalah bantuan satu-satunya yang bisa mas lalukan, terlebih Rocky mempunyai gengsi yang sangat tinggi. Dia benci mengakui bahwa dia sebenarnya baik." Cakra tersenyum.

__ADS_1


Pria itu memajukan wajahnya untuk mengikis jarak di antara dirinya dan Liora, hingga hidung mancung mereka saling bersentuhan satu sama lain.


"Kamu tahu? Mas adalah pria paling beruntung, karena bertemu dan menjadi suami dari wanita yang tutur katanya selalu menenangkan di setiap situasi yang menegangkan. Mas beruntung mendapatkan wanita yang mempunyai kesabaran seluas lautan menghadapi segala tingkah ke kanak-kanakan mas yang selalu haus kasih sayang."


"Cukup, Mas!" Perintah Liora yang semakin salah tingkah, bahkan pipi wanita beranak tiga itu sampai memerah mendengar kata-kata sang suami yang menurutnya sangat romantis. "Jangan buat aku jadi besar kepala," lirihnya.


Cakra terkekeh kecil, pria itu mencuri satu kecupan di bibir istrinya yang mengerucut, barulah setelahnya menjauhkan wajah kemudian beranjak dari duduknya ketika merasakan semilir angin semakin dingin menusuk tulang-tulang.


"Ayo, Sayang!" ajak Cakra. Pria itu langsung mengendong tubuh istrinya tanpa aba-aba dan membawanya masuk ke kamar. Dia menutup pintu balkon dengan cara menendangnya. Setelah itu membaringkan Liora di tengah-tengah ranjang yang rapi, padahal tadi Cakra dan Liam bermain di sana.


"Kita kekurangan delapan anggota untuk membentuk tim sepak bola, Sayang," bisik Cakra.


"Apa sih, Mas? Kan kemarin malam sudah," ujar Liora yang mengerti ke mana pikiran Cakra. Terlebih jam sepuluh malam ke atas adalah waktu rawan bagi seorang pria. Itu untuk suaminya, tidak tahu untuk suami orang di luar sana.


"Ya kan tidak apa-apa jika dilakukan setiap hari, benar begitu Liora Sayang?"

__ADS_1


__ADS_2