
Liora mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah yang baru saja dia masuki beberapa menit yang lalu.
Rumah yang tidak kalah mewah dari rumah tempatnya tinggal selama ini bersama sang suami. Rasa kagum tercetak jelas di manik indah wanita tersebut.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Liora.
"Bukan rumah Sayang, tapi Villa," jawab Cakra terus mengenggam tangan Liora menyusuri Villa di dekat pegunungan tersebut.
Cakra berkunjung ke sini karena mendapat kabar bahwa Rocky telah sadar dari tidur panjangnya. Itu membuat Cakra sangat bahagia. Sebentar lagi semuanya akan terkuak dan anak dan istrinya akan aman dari ganggun Brian dan para suruhan pria itu.
"Bedanya rumah sama Villa apa? Sama-sama bisa di tinggali juga," gumam Liora.
Cakra yang merasa gemas langsung mengecup pipi Liora tanpa memperdulikan beberapa pelayan juga Eril yang berjalan di belakang keduanya.
"Rumah, tempat kita tinggal sehari-hari, sementar Villa, untuk peristirahatan atau tempat liburan aja, Ra."
"Gitu." Liora mengangguk-angguk mengerti.
"Aku nggak bisa ngebayangin gimana kaya nya mas Cakra. Sampai tempat istirahat aja sebesar ini."
Kini, Cakra bukan lagi mencium pipi Liora, tapi menjawil hidung wanita itu. Entahlah, tapi akhir-akhir ini tangan Cakra sangat aktif jika bersama sang istri.
"Kamu nggak perlu bayangin sebesar apa kekayaan aku. Tugas kamu cuma mikirin gimana caranya biar uang bulanan yang aku berikan habis," bisik Cakra dengan nada sombong.
"Mas?"
"Iya Sayang? Aku nggak salah kan?" Cakta tertawa melihat wajah memerah Liora. Dia tahu wanita itu sedang kesal. Liora sangat tidak suka jika Cakra menyombongkan kekayaanya.
Eril yang berjalan di belakang mereka segera maju paling depan untuk membukakan pintu kamar seseorang.
Di dalam sana seorang laki-laki tampan yang hampir mirip dengannya tengah duduk bersandar pada kepala dipan. Tangan kiri masih terpasang selang infus.
__ADS_1
"Bang," sapa Eril.
"Tuan?" Sapa Rocky langsung menunduk. Pria itu menghiraukan sapaan adiknya.
Ya, Eril adik kandung Rocky, itulah mengapa Cakra mempercayai laki-laki itu menjadi tangan kanannya.
Rocky hendak turun dari ranjang, namun ucapan Cakra membuatnya berhenti.
"Tetap di tempat kamu, tidak perlu menyambut saya. Gimana kondisi kamu, apa lebih baik?"
"Iya Tuan, ini semua berkat Anda," jawab Rocky.
Wajah pria itu masih terlihat pucat, mungkin karena baru sadar.
"Saya bisa mulai masuk kerja besok jika di perkenangkan."
"Kamu saya pecat!"
Eril, Rocky juga Liora langsung menatap Cakra heran. Bukankah, pria itu menunggu sadarnya Rocky? Tapi kenapa sekarang malah memecatnya begitu saja.
"Sampai kondisi kamu benar-benar pulih sepenuhnya. Saya nggak mau mempekerjakan orang sakit, yang ada malah menyusahkan," lanjut Cakra.
Hal tersebut mengundang senyum di bibir ketiganya. Mereka tahu Cakra mengatakan itu bukan karena di repotkan, malainkan ingin asisten yang dia nggap keluarga segera sembuh sepenuhnya.
"Makasih Tuan atas perhatiannya, tapi saya benar-benar nggak papa."
"Saya akan kembali besok pagi," ucap Cakra setelah itu membawa istrinya pergi dari sana.
Cakra hanya ingin memastikan keadaan Rocky baik-baik saja secara langsung, dan dia sudah mengetahuinya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tinggal.
Lagipula, Ada yang lebih penting dari sekedar berdiskusi dengan Rocky. Yaitu, memproses dedek Liam agar segera hadis di perut Liora.
__ADS_1
"Liam mana?"
"Sama mbak, kayaknya udah tidur Mas."
"Ya udah ayo, mumpung ada di Villa, suasananya seru," ajak Cakra dengan senyum misterius.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Komentar kalian, semangat author. Jadi rajin-rajinlah berkomentarš
Follow untuk dapatkan info seputar novel Authorš¤
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo