Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 53


__ADS_3

Saat Cakra akan beranjak untuk pulang kerumah dan mengambil barang bukti. Tangannya di tarik oleh Rocky.


"Dia sudah pergi Tuan," ucap Rocky membuat Cakra bingung.


Pergi? Siapa yang di maksud oleh Rocky?


Cakra menaikkan alisnya seakan bertanya.


"Tuan Brian baru saja pergi, mungkin sekarang mencari bukti di tempat yang saya sebutkan tadi."


Cakra semakin heran mendengar perkataan Rocky. Dia memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing.


"Jadi penyusup tadi benar Brian?"


"Mungkin Tuan. Dari bayangannya itu gestur tubuh adik Anda," jawab Rocky.


Sejak Cakra memasuki kamar yang dia tempati, bayangan seseorang berdiri di sisi jendela sudah terlihat jelas dengan ekor matanya. Itulah mengapa Rocky mengalihkan tempat yang harusnya dia ucapkan.


"Sialan!" Geram Cakra.


Entah apa yang di ingingkan Brian sebenarnya. Bahkan laki-laki itu tidak seharusnya membenci Cakra. Di lihat dari sisi manapun, Cakralah yang lebih berhak dengan harta peninggalan orang tuanya. Brian hanya anak angkat, bukan adik kandung Cakra.


Saat Cakra berusia 13 tahun, ibunya meninggal dunia karena sakit. Dua tahun setelah peninggalan sang ibu, ayah Cakra menikah lagi dengan ibu Brian.


"Apa yang akan kau lakukan?"

__ADS_1


"Pulanglah Tuan, saya sendiri yang akan mengambil bukti tersebut. Kondisi saya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya sudah lama istirahat," ucap Rocky dengan raut wajah tenang.


"Saya menyerahkan semuanya padamu," ucap Cakra langsung meninggalkan Rocky di kamar.


Laki-laki itu menemui istri dan putranya di ruangan yang cukup aman. Di depan pintu ada beberapa pengawal berjaga. Tanpa menyapa sedikitpun, Cakra masuk begitu saja dan di sambut riang oleh Liam.


"Papa, dede Liam nana?" Liam mendongakkan kepalanya setelah memeluk kaki panjang Cakra.


Yang di tanya hanya menyengir seraya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Terlebih Liora menatap penuh intimidasi sejak tadi.


"Papa?"


"Ah itu dedeknya belum jadi Nak, mama malas soalnya. Nanti ya," bohong Cakra langsung mengendong Liam kemudian menghampiri Liora.


"Kamu ngomong apa sama Liam Mas? Dari tadi dia bahas dedek mulu. Katanya kamu janji bakal ngasih dedek banyak buat nemenin dia. Memangnya aku kucing bisa lahiran langsung banyak?"


"It-itu ... Eril, apa yang kau tunggu? Sana keluar!" Usir Cakra agar wibawanya tetap terjaga di depan semua anak buahnya.


Setelah kepergian Eril, Cakra berubah menjadi anak kucing, menarik-narik kaki baju Liora yang berdiri seraya berkacak pinggang, sementara dia duduk di sofa memangku Liam.


"Cuma itu cara biar Liam mau maafin aku tadi Ra. Masa kamu tega aku di musuhin putra sendiri," rengek Cakra. Sedangkan, Liam sibuk memainkan bahkan mengigit jari Cakra walau tidak terlalu keras.


"Ya udah Mas buat aja sendiri, aku nggak mau." Baru saja Liora akan pergi, tangannya di tarik oleh Cakra hingga terjerambah di sebelah paha laki-laki itu.


Tanpa abah-abah, Cakra mengecup pipi Liora. "Jangan ngambek, prosesnya kamu suka. Sampai merem melek. Banyak anak banyak rezeki kata Eril. Lagian kalau anak kita dikit, yang habisin uang siapa?"

__ADS_1


"Dih kumat sombongnya," cibir Liora.


"Mama tumat?" timpal Liam.


Cakra mengulum senyum. "Mimi apal," lanjut Liam.


"Tuh anaknya lapar pengen minum susu, jangan ngambek terus, nanti nggak dapat jatah Sayang," bisik Cakra di telinga Liora, bahkan sedikit mengigitnya.


Liora yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam membeku, Cakra selalu bisa menyihir dirinya agar tidak berkutik.


Liora baru tersadar saat pelukan Cakra di pingganya terlepas. "Ayo kesayangan, kita siap-siap pulang ke istana!"


.


.


.


.


.


.


Komentar kalian semangat Author🤗

__ADS_1


__ADS_2