
"Mas?" panggil Liora setelah terdiam. Wanita itu memikirkan putranya yang ada di rumah. Liam tidak terbiasa tanpanya, dan hari ini putranya jauh darinya. "Mas mending pulang, kasian Liam. Tadi dia nangis nyariin kita," ucapnya.
"Nanti mas pulang, tapi setelah kamu bisa gerak sendiri. Sekarang apa-apa kamu masih kesakitan. Terus kalau mau pup gimana? Yang bilas siapa hm? Jahitan diperut belum kering, begitu juga di inti tubuh kamu."
"Ini bukan pertama aku melahirkan."
"Tapi beda Liora Sayang, dulu kamu cuma melahirkan normal, sekarang dua-dua nya." Cakra mulai gemas sendiri pada istirnya yang keras kepala. Wanita itu lebih mementingkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. "Tidur, jangan pikirkan banyak hal!" perintah Cakra.
Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menuju boxs bayi yang tidak jauh dari brangkar. Pria itu meletakkan putranya di sana, lalu meninggalkan Liora yang mulai berbaring. Sebenarnya Cakra juga tidak tega pada Liam, tetapi dia sedang dilema lantaran tidak bisa meninggalkan Liora. Sudah cukup dia tidak bisa menemani masa-masa pemulihan Liora saat kelahiran anak pertama.
"Tuan?"
Cakra yang hendak membelokkan langkahnya menuju tangga darurat segera urung ketika mendengar Rocky memanggilnya. Dia membalik tubuhnya dan menatap sang asisten dengan alis terangkat.
__ADS_1
"Pemegang saham menyampaikan maafnya tentang semalam. Mereka katanya hanya cemas mendengar berita pesawat Alexander menghilang."
"Saya tidak mau tahu alasan apapun. Beli saham mereka dengan ancaman aib-aib mereka selama ini! Saya tidak butuh rekan kerja seperti mereka. Oh ya, bagaimana dengan pesawat yang hilang?" tanya Cakra.
"Sampai saat ini belum ditemukan."
"Kunjungi keluarga pilot dan manager itu, mereka pasti sedang khawatir"
Rocky segera meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan perintah selanjutnya dari sang atasan. Kali ini permintaan Cakra sangat sulit untuk dia penuhi. Pembelian saham bukanlah hal mudah, bahkan jika harus memaksa mereka menjualnya dengan bukti-bukti kebusukan mereka di masa lalu. Saham yang harus Rocky beli ada 20 persen. Sementara 20 persennya lagi masih aman, lantaran pemegang sahamnya tidak menuntut apapun saat berita menyebar.
Pria itu melirik ponselnya yang tiba-tiba berdering. Mengetahui panggilan itu dari sang adik, dia segera menjawabnya.
"Saya dalam jam kerja, jika bukan urusan pekerjaan maka menelponlah nanti," ucap Rocky pada adiknya.
__ADS_1
"Ini urusan pekerjaan kak. Tuan Muda ingin jalan-jalan, apa aku bisa membawanya?" tanya Eril.
"Lakukan sesukamu, tapi pastikan keselamatan tuan muda!"
"Assiapp"
Eril langsung memutuskan sambungan telpon sepihak, kemudian menghampiri Liam yang kini telah rapi ala badboy seperti impian Eril sejak sekolah dulu. Hari ini dia akan membawa tuan mudanya ke suatu tempat yang sangat menyenangkan.
"Siap jalan Tuan Muda?" tanya Eril dan dijawab anggukan oleh Liam.
Kedua cowok tampan berbeda generasi itu langung meninggalkan kediaman Alexander dan menuju rumah seorang wanita yang bulan kelahirannya pun bulan ini. Sepanjang jalan Eril menyunggingkan senyumnya karena tidak sabar bertemu wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama saat di desa. Eril langsung menjatuhkan hatinya, ketika melihat Rahma keluar dari masjid bersama anak-anak yang terlihat sangat gembira.
Wanita yang selalu menudukkan pandangan, tetapi tiba-tiba pernikahannya batal karena fakta yang sangat mustahil terjadi. Yaitu Rahma hamil. Ilfeel? Eril tidak ilfel sama sekali. Alih-alih menghakimi, dia mencari tahu sendiri asa-muasal kenapa Rahma hamil padahal sangat menjaga jarak dengan lawan jenis.
__ADS_1