Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 135 - Rocky dan Arumi


__ADS_3

Tidak mempunyai kesibukan dan berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, membuat Rocky bisa pulang ke apartemennya di saat matahari masih terlihat meski sebentar lagi akan tenggelam. Pria itu melepas dasi yang melekat pada tubuhnya, kemudian mengantung pada gantungan khusus, setelahnya mandi sore dan istirahat sejak sambil menikmati segelas kopi yang dia buat sendiri. Alasannya karena Rocky tidak menyewa jasa pembersih ataupun jasa pembuat makanan, dia benar-benar tinggal mandiri selama bertahun-tahun. Mungkin karena sejak kecil telah dititipkan di panti asuhan bersama adiknya.


Pria itu menghela napas panjang setelah menghabiskan kopi hangat yang ada di atas meja. Dia beranjak dan keluar dari kamarnya, berkunjung ke kamar yang berada di lantai atas dengan jarak lima anak tangga. Dia memutar handel pintu sehingga dapat melihat bayi perempuan yang tengah merangkak ke sana ke mari dalam pengawasan wanita paruh baya.


Suara tawa balita berusia satu tahun lebih itu terdengar lebih renyah melihat keberadaan Rocky berdiri di ambang pintu. Dengan kecepatan maksimal yang Arumi punya, dia terus merangkak hingga akhirnya sampai pada kaki panjang Rocky yang menggunakan sendal rumah. Bayi itu beralih duduk dan menatap Rocky dari bawah, menunggu untuk digendong.


Namun, yang dilakukan oleh Rocky hanya berdiam diri sambil menunduk untuk menatap wajah yang sangat mirip dengan Brian. Kediaman Rocky membuat bayi yang sejak tadi menunggu untuk digendong mulai melengkungkan sudut bibirnya ke bawah dengan air mata berderai dengan suara kecil. Tidak kuasa melihatnya, Rocky segera mengendong bayi itu kemudian membawanya ke ruang tamu.


Seolah disihir, Arumi langsung tersenyum, tangan kecilnya melingkar di leher Rocky seakan tidak ingin lepas dari tubuh pria tampan itu.

__ADS_1


"Kau sangat menyusahkan dan cengeng," gumam Rocky. Dia duduk di sofa sambil memangku Arumi yang sangat anteng layaknya boneka yang matanya terus berkedip lucu.


"P-papa," gumam Arumi menatap Rocky.


"Saya bukan papa kamu. Saya adalah pria berbahaya karena musuh dari orang tua mu," jawab Rocky dengan wajah datarnya. Memang benar, dia adalah salah satu orang yang sangat membenci Bian dan Rissa karena berbuat jahat pada Cakra juga hampir melenyapkan nyawanya.


Namun, anehnya, hati nurani Rocky selalu muncul dipermukaan jika berniat untuk menyiksa atau melenyapkan Arumi secara diam-diam.


"Mama kamu adalah wanita paling murahan di dunia," jawab Rocky.

__ADS_1


Seakan mengerti, Arumi mulai bergerak turun dari pangkuan Rocky, merangkak di atas sofa dan berniat turun meski tidak tahu bagaimana caranya. Rocky yang melihat itu segera menurunkan Arumi, kemudian berlalu ke dapur tanpa memperdulikan bayi itu akan terluka atau tidak.


Wanita yang memperhatikan dari jarak jauh kadang heran dengan sikap majikannya pada bayi kecil itu.


"Kenapa sikap Tuan Rocky selalu berubah pada Nona Arumi? Kadang Tuan baik kadang pula kejam. Apa karena mama Nona Arumi meninggalkannya?" gumam wanita paruh baya itu. Yang dia tahu Rocky adalah duda anak satu yang sangat tampan, sehingga dia sering berpikir jika Rocky salah satu ayah berdarah dingin.


Rocky sangat jarang bicara, jika pun bicara hanya seperlunya saja. Jika boleh jujur, sangat sulit hidup serumah dengan pria sepertinya. Itulah menurut wanita paruh baya tersebut. Wanita itu segera masuk ke kamar setelah Rocky kembali dari dapur membawa gelas bayi berisi jus mangga.


Rocky duduk di hadapan Arumi yang asik memainkan remot. Membuat atensi bayi itu teralih pada jus berwan kuning tersebut, terlebih Rocky meletakannya di lantai marmer hingga gelas bayi itu menempel dengan sempurna tanpa bisa di pindahkan oleh Arumi. Rocky dengan tenang memperhatikan tingkah Arumi yang berusaha mengambil gelas tersebut. Sudut bibir Rocky sedikit terangkat ketika melihat Arumi malah memasukkan tangan kecilnya pada gelas, sehingga jus mangga itu tumpah dan berserakan di lantai marmer yang sangat bersih.

__ADS_1


Suara tawa bahagia dari Arumi terdengar di ruangan itu, lantaran berhasil mencicipi jus mangga meski baju dan wajahnya telah belepotan akan jus.


__ADS_2