
"Sayang? Itu Arhan sudah kepanasan," ucap Eril yang baru tiba di kamar dan mendapati istrinya sedang melamun sambil meremas benda pipih di sebelah tangannya.
"Ah ya, tadi aku sibuk memperhatikan Tuan Cakra dan Liora," jawab Rahma cepat. Wanita itu segera beranjak dari duduknya dan tidak lupa mengendong Rahma.
"Sepertinya kamu kelelahan, sarapanlah meski sedikit, biar mas yang memandikan Arhan." Eril hendak mengambil alih Arhan dalam gendongan Rahma, tetapi siapa yang menyangka, wanita itu menghalangi tangan Eril agar tidak menyentuh putranya.
"Aku tidak lelah, Mas, aku bisa memandikan Arhan sendiri," jawab Rahma.
Wanita itu bergegas masuk ke kamar dan membawa Arhan menuju kamar mandi untuk dia mandikan sendiri. Saat ini semua ucapan Wildan benda-benar telah menguasai isi pikirannya, terlebih sekarang Rahma di penuhi ketakutan akan kehadiran Zayn yang mungkin akan mengambil putranya jika ada kesempatan di lain waktu.
Rahma memandikan Arhan dengan telaten, sesekali bergumam dan mengajak putranya berbicara banyak hal, sementara di luar kamar mandi, ada Eril yang duduk di pinggir ranjang menunggu kedua orang kesayangannya. Pria itu mulai lapar, tetapi enggang sarapan sendirian, terlebih tahu bahwa istri tercinta belum sarapan dan hanya fokus pada anak-anak saja.
Senyuman Eril mengembang ketika melihat Rahma dan Arhan baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri.
"Sayang, siapkan saja keperluan Arhan, biar mas yang mengendongnya."
__ADS_1
"Tidak, Mas, biar aku yang mengurus Arhan sendiri," tolak Rahma untuk kedua kalinya dan itu membuat Eril sedikit menyadari perilaku Rahma yang baginya sangat berbeda.
"Rahma, kamu baik-baik saja? Putra kita tidak apa-apa? Biasanya kamu dengan senang hati memberikan Arhan pada, Mas. Tetapi kenapa sekarang mas merasa kamu tidak mengizinkan mas untuk menyentuhnya?" tanya Eril.
"Bu-bukan seperti itu, Mas. Tapi-tapi ... aku hanya ingin mengurus Arhan sendiri tanpa menyusahkan siapa pun," ucap Rahma tersenyum. Dia membalik tubuhnya dan menatap sang suami yang ternyata belum mandi. "Sebaiknya Mas Eril mandi biar kita sarapan bersama, belum sarapan kan?" tanya Rahma.
"Semoga itu hanya pikiran buruk mas." Eril mengecup kening Rahma, kemudian bergegas ke kamar mandi, tidak lupa membawa handuk dan baju ganti agar tidak merepotkan istrinya.
Eril berdiri di bawah pancuran air shower yang hangat. Sesekali mengusap wajahnya karena merasakan tubuhnya yang sangat menyegarkan. Pria itu akan terus berusaha untuk membahagiakan istri dan putranya baik materi atau pun batin. Eril selalu ingin menjadi suami idaman dan orang tua kedua untuk istrinya yang kini jauh dari keluarga.
"Sayang, hari ini mau jalan-jalan tidak? Kita bisa membawa anak-anak ke tempat bermain dan menikmati suasana baru. Aku yakin Arumi dan Arhan akan sangat senang," ujar Eril. Pria itu duduk di kursi sambil menunggu Rahma menyiapkan bubur ayam. Kali ini dia tidak berusaha mengambil Arhan dari Rahma karena mengira Rahma mungkin saja tidak terlalu repot.
"Arhan nya harus di bawa, Mas? Kalau misal aku nenolak, Mas akan marah?" tanya Rahma balik.
"Tidak, Sayang. Kalau memang kamu belum siap liburan tidak apa-apa. Kita bisa belanja bulanan saja hari ini. Kebetulan mas baru saja gajian."
__ADS_1
"Kenapa Mas seakan berusaha membawa aku keluar dari rumah bersama Arhan?" tanya Rahma yang mulai salah paham akan maksud dari suaminya.
"Maksud kamu?" tanya Eril.
"Maaf, harusnya aku tidak menuduh, Mas," lirih Rahma menundukkan kepalanya ketika sadar dia telah lancang menentang sang suami hanya karena isi pikirannya yang tidak stabil saat ini.
"Hey? Istri cantik aku kenapa, hm? Kenapa sikapnya tiba-tiba aneh setelah berjemur dengan Arhan? Ada yang terjadi?" Eril beranjak hanya untuk menghampiri Rahma yang berada di seberang meja makan.
Rahma sama kali tidak pernah mempertanyakan sikap Eril, apalagi menolak ajakan Eril yang ingin jalan-jalan di hari libur seperti ini.
"Ak-aku ...."
"Katakan, mas tidak akan marah apa pun itu," pinta Eril dengan suara lembutnya.
Saat itu juga air mata Rahma berjatuhan tanpa diminta. Dia merasa bersalah dan tidak berdaya untuk saat ini hanya karena isi pikirannya yang didominasi oleh ketakutan akan kalimat Wildan.
__ADS_1
"Maaf sudah mencurigai mas Eril, aku sudah berusaha untuk menghapus pikiran itu, tapi tetap saja tidak bisa."