Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 37


__ADS_3

Liora mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi menganggu dan tidak bisa membuatnya tidur dengan tenang.


"Apa perempuan itu istri kamu? Apa alasan kamu ke desa ini buat ngambil Liam?" tanya Liora tanpa ingin membalas tatapan Cakra.


Wanita itu baru mendongak ketika Cakra mengenggam tangannya. Laki-laki itu tersenyum.


"Istri aku cuma kamu Ra. Aku ke desa ini mau ngurus proyek besar yang sedang berjalan di desa Luwut. Kebetulan aku ketemu anak kita. Berujung aku tau semuanya tentang fakta yang selama dua tahun tersembunyi."


"Kamu ke desa ini bukan nyari aku?"


"Gimana aku bisa nyari kamu, sementara yang aku tahu kamu udah ...." Cakra menjeda kalimatnya sebelum kembali bicara. "Brian bohongin aku selama ini Ra. Tapi percayalah aku cuma cinta sama kamu. Aku berharap kita bisa seperti dulu, membina keluarga bahagia tanpa ada kesalahpahaman."


Cakra dengan berani menyentuh rahang Liora, lalu mengelusnya perlahan. "Kita ke kota ya? Rissa hanya masa lalu bagi aku, sekarang yang terpeting masa sekarang dan kedepannya hanya ada kamu dan Liam."


"Aku bukan perempuan yang pantas bersanding ...."


Liora terpaku saat Cakra dengan lancang meraup bibirnya tanpa ada abah-abah lebih dulu. Dia mendorong laki-laki tersebut agar pangutan keduanya terlepas.


"Cakra?" tegur Liora dengan nafas memburu.


"Jangan pernah katakan kamu nggak pantas buat aku Ra!"


"Tapi itu memang benar ...."

__ADS_1


"Mau di tambah lagi?" potong Cakra untuk sekian kalinya. "Aku nggak bakal maksa kamu, tapi tolong pikirin semua ucapan aku Ra. Ada orang yang berusaha misahin kita berdua, aku mohon jangan biarkan rencana mereka berhasil. Aku ngasih kamu waktu dua minggu untuk mejernihkan pikiran."


Cakra merebahkan tubuhnya kembali karena rasa kantuk yang tidan tertahankan.


"Mau tidur bareng?"


Bukannya menjawab, Liora malah beranjak dan meninggalkan Cakra seorang diri di depan tv.


***


Perkiraan Cakra benar. Liora tidak akan luluh begitu saja walau di jelaskan sedikitpun. Tapi itu semua tidak masalah, masih banyak waktu sebelum Cakra memaksa Liora ikut dengannya ke Kota.


Laki-laki itu kembali ke kota tanpa pamitan lebih dulu pada Liora dan Liam sebab geram karena kehadiran Rissa di desa luwut.


Sangat di untungkan Liora tidak termakan omongan para tetangga, hingga masih membiarkan Cakra bermain bersama Liam.


Cakra menyeret Rissa keluar dari mobil kemudian menariknya masuk kerumah. Menghempaskab begitu saja karena geram.


"Dasar perempuan ular. Jadi selama ini kamu menghianati aku hm?" Cakra mengcekram rahang Rissa hingga memerah.


Tangan Cakra bergetar hebat, tatapan tajam menyorot mata indah Rissa seakan ingin memakan orang itu hidup-hidup.


"Kau menjalin hubungan dengan adik aku sendiri. Dasar wanita hina!" bentak Cakra menghempaskan wajah Rissa kesamping.

__ADS_1


"Eril!" panggil Cakra. "Kurung wanita ini!"


Eril mengangguk patuh, menyeret Rissa yang memberontak meminta di lepaskan. Setelah mengurung Rissa di gudang, dia kembali menemui Cakra.


Bukannya pujian yang dia terima, malah bogeman dua kali berturut-turut dia rasakan di bagian wajah.


"Dasat tidak becus!" Maki Cakra. "Kau memang tidak sehebat Rocky!"


"Maaf Tuan." Eril menunduk.


"Dasar bodoh, kenapa kau tidak mengabari malam itu hm?"


"Saya sudah menelpon Tuan, tapi tidak ada jawaban."


"Kau membela diri?"


"Iyalah, orang pak bos yang salah, ninggalin hp di kamar." batin Eril tanpa berani menatap Cakra.


"Kenapa diam saja? Aku sedang mengumpat?"


"Tidak Tuan."


...****************...

__ADS_1


Istirahat sejenak, nanti lanjut lagi. Yok konser dulu biar happy😅


__ADS_2