
Kedatangan Cakra di sore hari membuat Liam yang tengah bermain di teras rumah bersama para pengawal, lari terbirit-birit memasuki rumah karena takut.
Bocah kecil itu berlari seraya memanggil mamanya berulang kali.
"Mama olang jahat!" pekik Liam langsung memeluk leher Liora dari belakang. Wanita itu tengah mencuci piring.
"Orang jahat?" tanya Liora tidak mengerti.
Liam mengangguk tanpa melepaskan pelukannya. Baru saja Liora akan melayangkan pertanyaan lain, suara seseorang yang tidak asing di pendengarannya terdengar.
Dia menatap sendu Liam. Menyesal karena sudah meracuni otak putranya agar takut pada Cakra.
Liora berjalan keluar rumah di ikuti Liam. Tetapi bocah kecil tersebut hanya sampai di ambang pintu. Mengintip mamanya berbicara.
"Kenapa?" tanya Liora. Wanita itu mengira Cakra tidak akan kembali.
"Mau ketemu Liam, tapi kayaknya dia masih takut sama aku."
"Maaf, ini salah aku," guman Liora menundukkan kepalanya.
Cakra tersenyum. "Bukan salah kamu tapi salah aku karena membuat kesalahpahaman yang bikin kamu benci sama aku. Aku ngerti kok Ra."
Cakra berbalik untuk mengkode Eril yang berdiri tidak jauh darinya. Membuat laki-laki itu dengan sigap membuka bagasi mobil kemudian mengeluarkan sepeda anak-anak berwarna biru.
Hal itu berhasil mengambil perhatian Liam yang menyintip dari pintu. Bocah kecil tersebut berjalan mendekat tanpa melepaskan perhatiannya pada benda yang sangat menarik.
"Eda Liam Mama?" tanya Liam menatap Liora.
"Iya sepeda buat Liam," jawab Cakra. "Ayo sini Nak, peluk papa sekalian ambil sepedanya." Dia merentangkan tangannya berharap Liam langsung memeluknya.
Bukannya bergerak, Liam malah menatap Liora penuh harap. Rasa takut bocah kecil itu pada ibunya jauh lebih besar daripada rasa ingin memiki sepeda di samping Cakra.
"Ayo peluk Papanya biar dapat sepeda." Hanya satu kali ucapan. Tetapi Liam langsung berlari dan masuk kepelukan Cakra.
"Aci."
"Sama-sama Nak." Senyuman Cakra tidak bisa di sembunyikan lagi, dia memanfatkan momen tersebut untuk mendekap putranya sangat lama. Di balik punggung Liam, Cakra menatap Liora masih dengan senyuman.
"Makasih Ra udah ngasih aku kesempatan," ujarnya.
"Mama oleh ain?" tanya Liam lagi.
Liora berjalan mendekat, memegang kedua pundak kecil Liam. "Maafin Mama ya Nak," guman Liora. "Liam mau papakan?" tanya Liora di jawab anggukan oleh Liam. "Papa ada di sini, Papa kamu itu." Tunjuk Liora dengan bibirnya.
"Olang jahat papa Liam?" tanya Liam dengan wajah polosnya.
Liora mengeleng. "Dia bukan orang jahat, mama salah orang. Dia papa Liam, sekarang Liam punya Papa," ucapnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Liora mengalihkan perhatiannya ke objek lain agar Cakra tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Tanpa Liora ketahui, sedari tadi tangan Cakra sudah terulur tepat di atas pundak, walau belum menyentuh karena ragu.
"Bermainlah, aku masih ada pekerjaan," ucap Liora mengakhiri rasa haru yang membuat dirinya tidak berdaya.
Sepeninggalan Liora, Cakra melepar senyum pada Liam yang terus menatapnya.
"Sini peluk Papa!" ajak Cakra lagi.
Liam bergeming, entah bocah kecil itu mengerti apa yang di katakan Liora tadi atau tidak. Karena tak kunjung ada pergerakan, Cakra yang menarik Liam kepelukannya.
"Aku Papa kamu Liam. Sekarang papa udah balik, Liam punya Papa. Apapun yang Liam inginkan semuanya akan Papa kabulkan Nak."
"Liam unya Papa?" Cakra mengangguk.
"Ini Papa Liam?" Liam menunjuk pipi Cakra.
"Iya Sayang, ini Papa Liam."
"Yey Liam unya Papa!" sorak Liam. Jika tadi Cakra yang berinisiatif, kali ini Liam sendirilah yang memeluk Cakra.
Cakra mengajak Liam bermain dan membongkar beberapa mainan yang sengaja dia beli sebelum kembali ke kampung Nelayan.
Sesekali Cakra melirik Liora yang tengah berlalu lalang melewati keduanya, seperti engang untuk bergabung.
"Liam lapar nggak?" tanya Cakra di jawab anggukan oleh balita dua tahun tersebut.
"Kalau begitu ayo kita jalan-jalan terus nyari makanan yang enak." Cakra langsung mengendong Liam turun dari sepeda kemudian membawanya keluar rumah menemui Liora yang ternyata duduk di teras depan seperti memikirkan sesuatu.
"Ra, aku bawa Liam jalan-jalan, sebentar aja Ya?" pamit Cakra.
"Kemana?"
"Ke jalan raya, mau makan."
"Jangan lama-lama, pulang sebelum sebelum hari gelap."
"Siap Ra." Cakra memberi hormat dan bertingkah seperti warga biasa, padahal di sekitarnya ada Eril dan beberapa pengawal. Baru kali ini mereka melihat sisi lain dan lembut seorang Aleksander Cakra Lubis.
"Mama?" Liam memberontak dari gendongan Cakra ketika mobil akan melaju tetapi Liora tidak ikut masuk.
Balita kecil itu menangis membuat Cakra tidak tega. Dia kembali membuka pintu.
"Ra, kamu ikut ya? Bentar aja." Ajak Cakra.
"Nggak usah ngajak Liam, kamu bisa makan sendiri," jawab Liora engang untuk ikut. Berjalan mendekat dan mengambil Liam dari pangkuan Cakra.
Saat mobil hendak kembali melaju, Liam malah memanggis ingin ikut pada Cakra.
__ADS_1
"Liam!" bentak Liora.
"Aik ibi, mamam yayam!" rengek Liam menarik-narik rambut panjang Liora.
"Ikut aja Ra, kasian Liam kalau nangis."
"Pergilah Cakra, Liam nggak bakal nangis lagi setelah kamu pergi!" usir Liora.
Bukannya pergi, Cakra malah turun dari mobil, kemudian menarik Liora agar ikut masuk kedalam setelah mengambil alih Liam.
"Jangan egois, ini masalah kita berdua. Liam nggak perlu tau, cukup jadi orang tua yang baik!" ucap Cakra terkesan memaksa.
Liora yang merasa di pojokkan oleh Cakra hanya bisa mendes*ah pasrah. Wanita itu mengalihkan pandanganya keluar jendela setelah mobil melaju perlahan-lahan.
Jika Liora sedang cemberut, berbeda dengan Liam dan Cakra yang kini mulai sibuk bermain.
Sesekali Cakra melirik Liora. Dia jadi punya ide bagaimana meluluhkan istrinya. Mulai hari ini, Cakra tidak akan membujuk Liora, tetapi dia akan mengambil hati Liam untuk menarik Liora kembali kepelukannya.
Tidak butuh waktu lama bagi mobil Cakra memasuki jalan Raya.
"Mau makan dimana?"
"Ngapain nanya aku?"
"Berhenti di depan!" perintah Cakra pada Eril, membuat mobil itu melaju perlahan-lahan dan memasuki pekarangan yang tidak terlalu luas.
Cakra beberapa kali makan di sana sebab menginap di sekitar sini, jika datang ke desa Luwut. Tidak mungkin dia tinggal di rumah Liora sedangkan yang punya sangat membenci dirinya.
Cakra dengan sigap membukakan pintu untuk Liora. Mengenggam tangan wanita itu mamasuki Restoran yang tidak terlalu mewah. Diam-diam Cakra mengulum senyum, sebab tidak ada penolakan sama sekali dari Liora.
"Yayam!" sorak Liam.
"Siap bos, Liam boleh makan ayam sepusnya," sahut Cakra.
Laki-laki itu beralih menatap Eril yang sedari tadi mengukuti seperti anak hilang.
"Ayamnya dua porsi, sama ...." Cakra menatap Liora. "Ra, mau makan apa?"
"Pulang!"
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo