Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 179 - Validasi


__ADS_3

Di sebuah Cafe, tepatnya Cafe Kroma, dua pria yang sama-sama tampan sedang duduk saling berhadapan dan tampaknya sedang membicarakan hal serius. Dua pria itu tidak lain adalah Wildan dan Zayn. Keduanya membicarakan sesuatu yang belum sempat mereka selesaikan di telepon kemarin.


Zayn menatap Wildan yang tampaknya ragu dengan tawaran Zayn untuk mendekati Rahma dan mengambil Arhan secara diam-diam jika mempunyai kesempatan. Pria itu bersandar di kursi sambil bersedekap dada.


"Bagaimana?" tanya Zayn dengan alis terangkat.


"Akan saya pikirkan lagi. Mencuri Arhan sama saja mengantarkan kematian pada Cakra," ucap Wildan yang masih saja ragu.


"Mereka tidak punya hubungan kekeluargaan, mereka hanya atasan dan bawahan, kenapa kau ragu?"


"Saya ...."


"Jadi manager di bagian pemasaran," ucap Zayn berhasil mengambil atensi Wildan sepenuhnya.


Tentu saja menjadi manager di perusahaan adalah tawaran yang sangat menggiurkan, terlebih di kota padat penduduk itu sangat sulit mencari pekerjaan meski mempunyai pendidikan cukup tinggi. Wildan hanya karyawan biasa di salah satu perusahaan dengan gaji UMR.


"Kalau kau tidak mau, maka saya akan mencari orang lain. Silahkan pergi!" Zayn mengayungkan tangannya seolah mengantar kepergian Wildan dari Cafe tersebut.


"Saya bersedia."

__ADS_1


Senyuman yang tadinya telah memudar di wajah Zayn kini merekah sempurna mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan. Pria itu mengulurkan tangannya pada Wildan.


"Selamat atas kerjasama kita, besok datanglah ke perusahaan, saya akan memberimu id card," ucap Zayn.


Wildan dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Setelah kesepakatan itu, Wildan bergegas pergi karena masih ada urusan lain di luar sana. Sementara Zayn masih saja duduk di tempatnya lantaran menunggu kedatangan Rocky yang entah kapan akan datang. Pria itu menggangkat tangannya ketika melihat pelayan melintas.


"Tolong bersihkan meja ini, saya akan kedatangan tamu," pinta Zayn pada pelayan yang langsung menghampiri saat dia memanggil tadi.


Pelayang itu menganggukkan kepalanya kemudian mengambil gelas kopi di hadapan Zayn bertepatan datangnya Rocky di cafe tersebut.


Tanpa dipersilahkan, Rocky langsung duduk di hadapan Zayn sambil memperhatikan pelayan yang membawa cangkir kotor ke belakang. Pria itu dengan sigap mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirim ke seseorang.


Itulah isi pesan yang Rocky kirimkan. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Zayn dengan wajah datarnya.


"Mari bahas kerjasama tersebut," usul Zayn terkesan tidak sabaran.


"Tunggu sebentar, Tuan, saya menunggu satu orang lagi," jawab Rocky.


Zayn menghela napas panjang, dia melempar atensinya ke luar Cafe sehingga manik itu tidak sengaja menangkap seseorang yang baru saja turun dari mobil hitam. Pria itu, berjas warna putih tulang di padukan dengan kacamata hitam. Silaunya sinar matahari membuat wajah tampan itu semakin memukau siapapun yang memandangnya.

__ADS_1


"Jangan bilang dia adalah orang yang Rocky tunggu," batin Zayn bertanya-tanya. Sampai saat ini Zayn tidak tahu bahwa Eril dan Rocky adalah saudara kandung.


"Maaf saya telat dua menit," ucap Eril. Dia duduk setelah melepas kancing di jas mewah miliknya. "Ah ya perkenalkan, saya orang yang diutus Tuan Cakra untuk membicarakan kerjasama ini." Eril mengulurkan tangannya pada Zayn, sekalian ingin pamer bahwa dia bisa berada di posisi seperti ini.


Ayolah, tadi saat mendapat telpon dari kakaknya untuk ikut serta dalam pertemuan, Eril sangat senang. Pria itu bahkan rela pulang ke rumah untuk berganti baju sehingga mendapatkan tatapan aneh dan pertanyaan dari istrinya.


"Senang bertemu," ujar Zayn tampak tidak suka melihat Eril.


Ketiga pria tampan itu akhirnya fokus pada kontrak kerjasama antara Alexander group dan Z group. Lama mereka berdiskusi hingga akhirnya menandatangani berkas yang telah Rocky periksa ulang dengan teliti, lantaran takut kalau saja Zayn mengubah beberapa isinya.


"Anda tenang saja Tuan, setelah kabar kerjasama ini terdengar oleh pengusaha lain juga masyarakat, saya yakin Z group akan kembali normal," ucap Eril menjanjikan hal yang sangat manis pada Zayn padahal dia juga masih penasaran kenapa Cakra dan Rocky ingin bekerja sama dengan pria yang telah membuat kekacauan di perusahaan.


"Saya percayakan semuanya pada kalian," ucap Zayn.


"Terimakasih atas kepercayaannya, Tuan. Kalau begitu kami pamit undur diri," balas Eril, kemudian meninggalkan cafe Kroma bersama Rocky yang berjalan di sampingnya.


"Kau terlalu banyak bicara," ucap Rocky melirik adiknya yang sejak tadi ingin terlihat mengesankan di depan Zayn.


"Ayolah, Kak, aku hanya ingin memperliatkan pada Zayn kalau aku lebih baik darinya. Bagaimana tadi? Apa aku terlihat keren?" tanya Eril tetapi Rocky yang ditanya tidak menjawab.

__ADS_1


"Baik atau tidaknya diri kita, kita tidak membutuhkan validasi siapapun, karena baik menurutnya belum tantu nyaman pada kita," celetuk Rocky sebelum masuk ke mobilnya.


__ADS_2