
"Apa semua yang saya perintahkan sudah selesai?" tanya Rocky pada Eril di seberang telpon.
Rocky belum juga menampakkan batang hidungnya di depan Cakra, bahkan untuk masuk ke ruangan laki-laki tampan itu saja dia tidak berani sejak memberitahukan kabar tentang kekacauan yang Brian lakukan.
Cakra sekarang benar-benar menjadi harimau kelaparan, bahkan pulpen mengelinding saja akan kena marah jika dia melihatnya.
Sangat di untungkan keputusan pengadilan tentang hukuman Brian tidak mengecewakan, hingga Cakra tidak membutuhkan Rocky sebagai samsak hidup.
Keputusan pengadilan adalah, memenjarakan Brian seumur hidupnya tanpa ada keringanan apapun karena kejatan yang Brian lakukan tidak menusiawi. Membunuh ayah dan percobaan pembunuhan pada adiknya sendiri, sudah menjadi kasus berat, di tambah korupsi dan tuntutan Cakra dengan kasus menyembunyikan seseorang selama dua tahun.
Kembali pada Rocky yang kini masih berbicara dengan adiknya di seberang telpon.
"Sudah Bang," jawab Eril.
"Bagus."
Rocky memutuskan sambungan telpon, kemudian membuka pintu ruangan Cakra secara hati-hati tanpa mengeluarkan suara. Terlihat, laki-laki tampan tersebut tengah memainkan pulpennya denga kacamata di wajah. Sungguh pose Cakra terlihat sangat keren walau dengan wajah kesal.
"Tuan," panggil Rocky pelan.
"Apa lagi?" Sarkas Cakra tanpa menoleh.
"Nyonya Liora menyuruh Anda pulang. Katanya dia sangat rindu pelukan Anda, jika sibuk saya bisa ...."
"Saya akan pulang! Selesaikan masalah Brian dalam kurung 2 hari!" ucap Cakra langsung bangkit dari duduknya. Tidak lupa mengambil jas yang tersampir di kursi.
Tanpa Cakra sadari, sudut bibir Rocky terangkat. "Mendengar nama Nyonya Lioran saja ekspresinya sudah berubah," gumam Rocky seraya mengelengkan kepalanya tidak percaya.
__ADS_1
***
Liora meneliti beberapa paper bag yang baru saja di bawa pelayan ke kamarnya. Eril mengatakan itu semua di pesan oleh Cakra untuknya.
Baru kali ini Liora melihat baju kekurangan bahan seperti itu, terlebih Cakra membeli lumayan banyak.
"Ini baju apa? Nggak jelas banget," gumam Liora mengangkatnya tinggi-tinggi untuk memastikan.
"Katanya baju, tapi kok lebih cocok ngejaring ikan ya? Ah sudahlah, nggak ada salahnya di coba," pasrah Liora membawa salah satu baju berwarna ungu ke ruang ganti.
Selang beberapa menit, Liora keluar dan memandangi tubuhnya di cermin. Wanita cantik itu bergidik ngeri melihat penampilannya sendiri.
Baju yang dia kenakan sekarang sangat di luar akal sehatnya. Baju itu hanya menutup bagian sensitif teruma sumber kehidupan Liam, yang lainnya zonk.
"Udah, pasti Mas Cakra salah .... Mas Cakra!" pekik Liora saat berbalik dan mendapati suaminya berdiri di tidak jauh darinya seraya bersedekap dada.
"Se-sejak kapan Mas Cakra ada di situ?" lirih Liora diam-diam mendekati ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sejak kamu berpose di depan cermin," jawab Cakra dengan seringainya.
Laki-laki itu berjalan semakin dekat seraya melepas satu persatu kancing kemeja yang membuatnya sesak.
"Ma-mas Cakra mau ngapain buka baju?" tanya Liora sedikit waspada.
"Mau hukum kamu," jawab Cakra santai langsung menangkap tubuh Liora saat akan melarikan diri.
Laki-laki itu menumpu dagunya di di pundak Liora, melepas cengkraman Liora di selimut hingga terlepas sepenuhnya.
__ADS_1
"Kamu sengaja godain aku Hm? Jadi ini maksud terselubung kangen pelukan aku? Kenapa nggak bilang Sayang," bisik Cakra.
"Ak-aku nggak ada ngomong nyuruh Mas pulang, apa lagi kangen. Malah aku heran kenapa Mas beli baju kekurangan bahan kayak gini."
"Jangan bohong Ra. Kamu sengaja beli baju ini buat goda aku Kan? Ayolah Sayang, ngaku aja aku nggak bakal marah kok."
"Nggak Mas."
"Ya udah, kalau gitu tidurin dedek aku dulu," bisik Cakra mengigit daun telinga Liora.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Mas, jangan di gantung😅
__ADS_1