Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 76


__ADS_3

Liora bernafas lega setelah sampai di kamar mandi bersama dokter tanpa dampingan Cakra. Kini wanita cantik itu manatap Dokter yang di bawa Cakra dengan tatapan memohon.


"Saya memang hamil dokter, tapi tolong jangan beritahu suami saya," pinta Liora membuat dokter yang dia temani terdiam.


"Jadi Nyonya sudah tahu bahwa sedang hamil? Tapi kenapa berbohong dan membawa saya kemari?" tanya sang Dokter dengan tatapan heran.


"Saya mau memberi kejutan pada suami saya di hari ulang tahun putra saya dokter. Jadi saya mohon jangan bicara apapun pada suami saya," mohon Liora mengatupkan kedua tangannya seraya mengerjap-erjapkan mata. Kalau saja Cakra yang melihatnya mungkin sudah gemas setengah mati.


"Maaf Nyonya, tapi saya tidak bisa berbohong pada Tuan Cakra. Dia tidak suka jika ...."


Dokter tersebut menelan salivanya kasar melihat Liora berlutut di hadapannya. Jika Cakra mengetahui bahwa istrinya berlutut di hadapan orang lain, maka tamatlah riwayat orang itu.


Karena takut, dokter tersebut mengiyakan dan membantu Liora berdiri. Hal itu mengundang senyuman di bibir Liora.


"Makasih dokter," girang Liora. "Dokter nggak perlu berbohong, biar aku yang bicara."


Setelah memperoleh kesepakatan, Liora segera keluar dari kamar mandi. Tidak lupa memasang wajah penuh kekecewaan dan sesedih mungkin. Kedatangan Liora dan dokter tentu saja di sambut hangat oleh Cakra.


"Gimana Sayang? Positif?" tanya Cakra penuh harap, namun Liora mengeleng. Cakra yang merasa tidak punya harapan memudarkan senyumnya.

__ADS_1


"Mungkin memang belum saatnya," gumam Cakra memeluk Liora karena tidak tega melihat wajah sendu sang istri. "Tapi kok dokter ngomong kamu kemungkinan hamil?"


"Oh-oh itu dokter salah prediksi Mas. Memangnya mas pengen banget aku hamil. Kalau iya, aku merasa nggak enak. Aku bakal ...."


"Sssttttt, nggak ada paksa-paksaan." Cakra menutup bibir Liora dengan telunjuknya, kemudian melirik dokter yang masih setia berdiri tanpa ada keinginan untuk menatap Cakra.


Pikiran Dokter itu sedang kacau, dia takut di bantai oleh Cakra ataupun Rocky jika ketahuan berbohong, tapi juga tidak enak jika membatalkan kejutan yang di persiapkan Liora.


"Terimakasih waktunya dokter," ucap Cakra sebagai akhir dari semuanya.


"Sama-sama Tuan Cakra, mari." Dokter tersebut buru-buru pergi sebelum Cakra menangkap kelagat mencurigakannya.


"Jangan cemberut gitu dong Mas, nanti ada saatkan aku hamil."


"Padahal aku udah berharap tadi, dasar tuh dokter beri harapan palsu saja," gerutu Cakra membuat Liora tertawa.


"Sabar Sayang, itu artinya kita di suruh berusaha lebih keras lagi," ucap Liora menenangkan.


"Apa kita prosesnya kurang ya Ra? Gimana kalau mas cuti terus kita berduaan di rumah? Siapa tahu kalau begitu dedeknya bisa cepat jadi. Mas sih nggak keberatan, mau ya?" bujuk Cakra mengayung-ayungkan tangan Liora seperti anak kecil.

__ADS_1


"Mas!" tegur Liora.


"Bercanda Sayang, takut banget di terkam," bisik Cakra. Laki-laki itu segera mengajak Liora turun ke lantai dasar bertemu Liam untuk mengalihkan rasa penasarannya yang masih menggunung.


Memaksa menyelidiki lebih lanjut, Cakra takut Liora malah terbenani karena tidak kunjung hamil.


Langkah Cakra berhenti ketika yang dia tarik berhenti, Cakra berbalik dan mendapati istrinya tengah menjawab telpon dari seseorang.


Karena penasaran Cakra mendekatkan telinganya. "Oh, betina ternyata," gumam Cakra setelah mendengar suara di seberang telpon.


Hal itu membuatnya mendapatkan sikuan di perut.


"Mas apaan-apaan tadi? Kok ngatain bu Firda betina?" kesal Liora setelah sambungan terputus.


"Ya kan perempuan betina Sayang."


"Manusia sama hewan beda!" tekan Liora.


"Iya mas salah, sensi banget sih istri aku kayak orang lagi hamil." Cakra mengelus rambut Liora. "Ngapain bu Firda telpon kamu?"

__ADS_1


"Pernikahan Wildan batal, Mas," jawab Liora dengan raut wajah sedih.


__ADS_2