
Jika Rocky dan Eril sedang dibuat kelabakan dan bingung dengan tingkah gadis ajaib yang tiba-tiba masuk ke kehidupan mereka. Maka berbeda di kediaman Alexander. Rumah itu masih tampak sepi karena nyonya tidak kunjung bangun meski jarum jam telah menunjukkan angka 9 pagi. Namun, tidak ada yang membangunkan nyonya Alexander atas perintah Cakra, agar istrinya bisa tidur dengan tenang.
Cakra sendiri bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menebus kesalahannya untuk sang istri. Pria itu mengerjakan hampir semua yang seharusnya Liora kerjakan jika pagi-pagi seperti ini. Misalnya, membantu Liam mandi dan sarapan, memantau baby kembar yang ditangani oleh masing-masing naninya. Tidak lupa Cakra memberikan bayi kembar tersebut botol susu dengan varian yang berbeda. Leona susu formula, sementara Lion asi yang telah Liora stok di plastik kecil khusus bayi.
"Putra dan purti papa udah rapi nih, siap jalan-jalan, Sayang?" tanya Cakra pada bayi setengah bulan tersebut.
"Liam itut!" seru Liam yang selalu tidak ingin ketinggalan jika menyangkut kedua adiknya.
Cakra tertawa, pria itu menganggukkan kepalanya. "Liam ikut dong nemenin baby L," sahut Cakra.
Sebelah tangan pria itu mengenggam tangan mungil Liam, sementara sebelahnya lagi mendorong stroller khusus bayi kembar keluar dari rumah besar tersebut. Cakra berencana akan menghabiskan waktunya bersama anak-anak di halaman rumah, tanpa ingin terbebani dengan masalah perusahaan yang kini sedang menumpuk dan siap tumbang kapan saja.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, yakni di dalam kamar. Seorang wanita mengerjapkan kelopak matanya agar retina yang lama tertutup itu menyesuaikan cahaya yang menerpa. Wanita itu langsung terduduk ketika melihat matahari dari celah horden yang sepertinya sudah terik. Jantung Liora berdetak tidak karuan setelah melihat jarum jam yang ternyata telah menunjukkan angka 9 pagi.
Tanpa mengumpulkan nyawa juga cuci muka, Liora berlari keluar kamar untuk mencari keberadaan suami juga anak-anaknya. Semalam Liora sengaja tidur cepat dengan meminum obat tidur, agar tidak terus-terusan bersedih, sehingga dia tidak menyambut kepulangan suaminya. Dan sekarang, dia terbangun ketika suaminya pun telah pergi.
"Nyonya mencari sesuatu?" tanya pelayan yang melihat Liora seperti orang kebingungan.
"Di-di mana Mas Cakra dan anak-anak saya?" tanya Liora.
Mendengar ucapan pelayan bukannya membuat perasaan Liora tenang, malah semakin kacau. Wanita itu sekarang benar-benar takut pada Cakra, dia takut mendapatkan bentakan seperti kemarin, terlebih sudah terhitung 24 jam mereka tidak saling bertukar suara. Liora melangkahkan kakinya ke luar dari rumah hanya menggunakan piyama satin hingga lutut. Terus berlari hingga akhirnya sampai di depan air mancur. Di sana, Cakra dan ketiga anak-anaknya sedang menikmari waktu bersama.
Langkah Liora memelan, dia mengepalkan tangannya sambil mengatur napas agar kembali normal.
__ADS_1
"Maaf," lirih Liora langsung menundukkan kepalanya setelah sampai di samping Cakra yang tengah fokus berbicara dengan baby L. "Harusnya aku tidak tidur senyeyak itu dan melupakan tugasku sebagai istri dan ibu yang baik untuk kalian," lanjut Liora, berhasil mengambil atensi Liam dan Cakra.
"Liora?"
"Mama?"
"Ak-aku janji akan jadi istri yang baik dan tidak lalai mengurus anak-anak kita, Mas. Maaf kalau selama ini aku punya salah," ucap Liora cepat. Dia tidak ingin satu kalimatnya dipotong oleh Cakra, atau dia tidak akan berani berucap lagi. Sungguh, kemarin Liora benar-benar takut melihat tatapan Cakra yang tidak biasa untuknya.
"Sayang?" panggil Cakra. Pria itu mendekati istrinya, kemudian memeluk tubuh Liora yang hanya membeku dengan tangan mengepal. "Kenapa meminta maaf, hm? Harusnya mas yang melakukan itu," bisik Cakra. Hatinya teriris melihat Liora yang seakan takut menatapnya. Lioranya tidak seperti ini sebelumnya. Bahkan Liora sering kali menjahilinya tanpa rasa takut.
"Aku yang salah. Aku janji tidak akan teledor lagi. Jadi jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi."
__ADS_1
"Hey, siapa yang akan meninggalkan kamu hm?" tanya Cakra, bukannya menjawab, Liora malah terisak dalam pelukan Cakra.