
Menjadi papa dari tiga malaikat kecil tidak membuat ketampanan Cakra memudar, begitupun dengan rasa cintanya pada sang istri. Pepatah pernah mengatakan bahwa cinta seorang suami akan memudar seiring berjalannya waktu, terlebih jika sudah menikah selama bertahun-tahun, tetapi Cakra adalah pengecualian. Terbukti dengan perlakun pria itu saat ini.
Di perusahaan, banyak petinggi perusahaan yang ingin bertemu dengan Cakra, tetapi pria itu enggang meninggalkan istrinya. Cakra menyerahkan semua urusan pada Rocky, sementara dia di rumah sakit menjaga istrinya yang mendapatkan serangan bertubi. Bagian inti yang tentu saja sakit, juga bekas sayatan usai operasi caesar lantaran melahirkan malaikat-malaikat cantik dan tampan. Bukankah sebagai seorang suami dia harus berbakti?
"Sayang, apa kamu mau makan sesuatu?" tanya Cakra. Pria itu duduk di samping brangkar, mengelus pipi mulus putranya yang sedang menyusu pada Liora.
"Aku tidak lapar, Mas. Mending mas yang makan, dari pagi cuma ngurusin aku dan anak-anak," jawab Liora.
Cakra mengelengkan kepalanya, pria itu merasa tidak lapar melihat putra kecilnya yang sangat lahap. Dia beralih menatap Liora yang terdengar meringis ketika bergerak.
"Butuh bantuan?" tanya Cakra.
"Aku baik-baik aja. Oh iya, bagaimana dengan kondisi putri kita, Mas? Aku harap dia bisa keluar dari ruangan nicu secepatnya."
__ADS_1
"Putri kita baik-baik saja, yang kurang hanya berat badan. Dia akan segera keluar untuk menyapa abang-abang tampannnya," jawab Cakra cepat.
Pria itu baru saja datang setelah memastikan kondisi putrinya di ruangan Nicu. Dia beralih mengendong putra kecilnya yang terus mengeliat setelah melepaskan sumber kehidupannya. Cakra memandangi wajah tampan yang kini cukup mirip dengan Liora.
"Sangat-sangat tampan, dia adalah kamu varsi cowok, Sayang," ucap Cakra masih meneliti wajah putranya.
"Mas udah ada nama untuk mereka?" tanya Liora dengan senyuman bahagianya.
"Ada dong, papa siaga gitu loh." Cakra menyugar rambutnya seolah tebar pesona di depan istrinya sendiri. "Lion dan Leona, bagaimana? Nama yang indah bukan?"
"Ck, dasar." Cakra menyentil kening Liora. "Mas sengaja namain putra kita Lion, agar besar nanti dia akan segagah dan sepemberani raja rimba. Tidak takut akan ancaman apapun, terlebih dia mempunyai putri dan ratu yang harus dia jaga bersama Liam."
Liora tersipu malu mendengar penuturan Cakra yang menurutnya sangat menyentuh hati. Ternyata dia salah jika mengira Cakra memberikan putranya nama tanpa memikirkan artinya. Wanita itu bergerak pelan dan memeluk lengan kekar Cakra sedikit erat. Menyendarkan kepalanya di bahu lebar itu sambil memperhatikan baby Lion yang kini telah tertidur dalam gendongan sang papa.
__ADS_1
Ketenangan yang terjadi di dalam ruangan itu buyar seketika saat ponsel Liora berdering menampilkan wajah Eril yang sok cakep. Cakra dengan sigap menjawab panggilan itu, tidak sudi jika suara istrinya didengar oleh asistennya.
"Kenapa?" tanya Cakra.
"Tuan, Tuan Muda ingin bicara dengan Anda. Saya akan melakukan panggilan video," izin Eril sebelum mengalihkan panggilan. Pria itu waspada karena tahu Cakra sering kali tidak tahu tempat saat bucin. Untuk saat ini dia tidak ingin melihat keuwuan apapun.
"Lakukan!"
Detika itu juga panggilan berubah dan menampilan wajah tampan Liam di seberang telpon. Bocah 4 tahun lebih itu memanyunkan bibirnya, mungkin kesal, lantaran ditinggalkan oleh sang mama cukup lama.
"Mama?" panggil Liam dengan air mata berderai.
"Sayang, jangan nangis! Maafin mama ya? Secepatnya mama pulang bawa dedeknya Liam," ucap Liora.
__ADS_1
Liam mengelengkan kepalanya. "Liam penen peluk mama."
...****************...