
Sebelum turun dari mobilnya, Eril tidak lupa merapikan jas juga rambutnya. Meneliti penampilan apakah sudah terlihat menawan atau tidak. Setelah dirasa semuanya telah rapi, Eril mengendong Liam turun dari mobil, berjalan menuju rumah kontrakan yang pintunya terbuka lebar. Pria itu tersenyum ketika melihat wanita dengan hijab panjangnya keluar sambil membawa sesuatu di tangan.
"Rahma?" panggil Eril.
Wanita yang dipanggil segera menoleh ke sumber suara, tetapi hanya sesaat sebelum akhirnya menundukkan kepala untuk menjaga pandangannya. Ya meski mungkin semua orang berpikir bahwa dia hanya wanita sok suci, karena hamil di luar nikah. Namun, Rahma tidak pernah berkecil hati lantaran dia sadar apa yang dia lakukan tidak salah. Semuanya kecelakaan, tidak mungkin pula dia mengugurkan manusia tidak bersalah yang ada di perutnya bukan?
"Ma-mas Eril?" sapa Rahma.
Eril mengulum senyum, dia selalu suka panggilan itu. Terlebih suara Rahma sangat indah dan merdu. Mungkin karena setiap kata yang terucap dari mulutnya adalah hal-hal bermakna. Belum lagi wanita bergamis longgar itu selalu melantunkan ayat suci al-qur'an setiap saat.
"Apa aku menganggu?"
"Um maaf, Mas, tapi kalau boleh jujur, iya. Abah sedang tidak ada di rumah," jawab Rahma.
__ADS_1
"Padahal aku datang ke sini membawa Liam, dia terus menangis di rumah mencari nyonya Liora. Di desa dia sedikit dekat denganmu, makanya aku membawanya ke sini," jelas Eril, meski di dalam setiap katanya terdapat sedikit kebohongan. Pria itu datang tidak lain hanya untuk memastikan kondisi Rahma, tetapi memanfaatkan Liam.
"Liam mau main sama tante?" tanya Rahma pada bocah yang kini telah turun dari gendongan Eril.
Bocah itu mengangguk, berlari menghampiri Rahma dan memelukn kakinya cukup erat. "Laim mau main. Mama pelgi," ucapnya.
Rahma tersenyum senang, dia mengajak bocah itu masuk, sementara membiarkan Eril duduk di teras kontrakan. Meski begitu, Eril tetap bisa memantau keduanya dari jendela yang sedikit terbuka.
"Gambaran kita setelah kamu melahirkan nanti, Rahma," gumam Eril penuh senyuman. Sakin seriusnya memperhatikan bidadari tak bersayap di dalam rumah, dia sampai tidak menyadari pak Somat yang kini berdiri di belekangnya.
"Ah ya, Abah. Maaf." Eril terlonjat kaget, pria itu langsung berdiri sambil mengaruk tengkungnya yang tidak gatal sama sekali. Pria itu senyum kikuk, terlebih tatapan pak Somat sedikit mematikan.
"Abah paling tidak suka jika ada yang memperhatikan putri abah seperti itu, Eril. Sejauh ini dia sudah menjaga dirinya, menutup diri dari para lelaki, tetapi apa yang dia takutkan terjadi."
__ADS_1
"Maaf, Abah karena lancang."
***
Jika Eril sedang berada di rumah Rahma, maka berbeda dengan tuannya yang masih setia di rumah sakit menemani sang istri. Cakra sesekali memperhatikan istrinya yang berjalan ke sana kemarin, hanya untuk memastikan wanita itu tidak akan terjatuh. Alasan dia tidak memapah, lantaran Liora sangat keras kepala ingin jalan-jalan di ruangan itu.
"Sudah, Sayang!" pinta Cakra.
"Mas Cakra kalau ngantuk atau lelah, lebih baik pulang. Aku sungguh nggak apa-apa. Putraku di rumah pasti ...."
"Putra kita baik-baik saja, Sayang. Eril tadi mengabari bahwa Liam sekarang sudah tidur. Tadi Eril mengajaknya ke rumah Rahma," jawab Cakra. Pria itu menghampiri istrinya lantaran lelah melihat Liora bergerak terus.
"Rahma? Eril sedekat itu dengan Rahma?"
__ADS_1
"Mungkin ada perasaan lain, entahlah hanya mereka yang tahu sendiri." Cakra mengedikkan bahunya acuh.
"Semoga memang ada, Eril pria yang baik begitu pun dengan Rahma. Aku senang jika mereka bisa bersatu."