Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 47


__ADS_3

Cakra sontak membuka mata ketika mendengar suara cekikikan anak kecil. Benar dugaanya, orang yang mencium tadi bukan Liora, melainkan Liam yang berada di gendongan wanita itu.


"Lunas ya Papa," ucap Liora mengendong Liam menjauhi Cakra, tetapi bocah kecil itu malah memberontak.


Karena tidak kuat menahan lebih lama lagi, Liora menurunkan Liam hingga bocah kecil itu berlari ke arah Cakra. Mengecup kedua pipi Cakra secara bergantian tanpa di suruh.


"Pintar banget anak Papa, lagi-lagi." Girang Cakra, hal itu membuat Liam semakin bersemangat menciumi wajah papanya.


"Jadi Mama udah di lupain karena ada mainan dan Papa gitu?" sindir Liora. "Ayo, katanya mau bobo."


"Mimi dudu," jawab Liam tanpa melepaskan pelukannya pada leher Cakra.


"Iya, minum susu sambil bobo Sayang, ayo Nak."


"Mama cama Papa."


"Go bocil."


Cakra langsung bangkit dari duduknya, mengendong Liam ke kamar sebelah bersama Liora. Sudah dua malam ini, Liam selalu ingin di temani tidur oleh kedua orang tuanya, dan itu tidak masalah bagi Cakra, malah senang bisa akran pada anak yang telah dia telantarkan selama dua tahun.


Diam-diam Cakra melirik Liora yang tengah membaca buku dongen. Sebelah tangannya tak henti-henti mengelus rambut sang istri, sementara satunya menepuk-nepuk paha Liam.


"Cantik banget kalau lagi serius gini," gumam Cakra.


Liora hanya melirik sekilas, semakin merapatkan buku pada wajahnya agar Cakra tidak melihat pipi yang mulai memerah.

__ADS_1


Cakra yang dulu sangat berbeda, sekarang malah sering menggombal yang membuat Liora tersipu malu.


***


Liora yang sudah bangun dari tadi, segera menghampiri tempat tidur, menunduk sebentar untuk menguncang tubuh Cakra yang terbalut selimut tebal.


"Mas udah jam 7, nggak kerja?" tanya Liora.


"Nggak Sayang, ayo temenin aku tidur," gumam Cakra. Dia menarik tangan Liora tanpa membuka mata, tetapi wanita yang di tarik malah menjauh.


"Ya udah mas lanjut tidur aja, aku nggak bisa ikut. Bentar lagi Liam bangun."


Liora segera keluar dari kamar menuju kamar Liam, ternyata bocah kecil mengemaskan itu sudah bangun dan duduk di atas ranjang seorang diri, sementara Nani yang merawatnya tengah membereskan mainan di sekitar ranjang.


"Nyonya," sapa wanita yang lebih tua tiga tahun dari Liora.


"Iya Mama," jawab Liam. "Acah." Bocah kecil tersebut menyentuh popok yang dia pakai.


Liora mengeleng tidak percaya, kebisaan Liam kencing saat tidur. Wanita itu memandikan dan memberi makan untuk Liam sebelum menyerahkan pada Nani untuk bermain, sementara Liora menuju halaman depan rumah, menyiram beberapa tanaman karena tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Dia tersentak saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Mas, malu di liatin yang lain," bisik Liora mengelus kepala Cakra yang mulai mendaratkan kecupan bertubi-tubi di leher.


"Kok tau ini Mas?"

__ADS_1


"Ya kali ada yang berani meluk aku di rumah ini, sementara pawangnya galak." Liora tertawa kecil. "Kenapa nggak kerja?"


"Ada urusan. Ngapain nyiram bunga sih? Ayo mandi Ra, bentar lagi MUA datang dandanin kamu."


Liora langsung balik badan, hingga selang di tangannya mengarah dan membasahi beberapa pelayan juga Cakra yang tengah rapi dengan setelan jas berwarna navi.


"Ma-maaf mbak, saya nggak sengaja." Liora langsung menundukkan kepalanya kepada dua pelayan.


"Nggak papa Nyonya."


"Maaf juga mas, aku kaget tadi."


"Nggak papa Sayang, aku juga ngomongnya dadakan."


"Jadi basah semua kan."


"Bisa di ganti lagi."


"Memangnya kita mau kemana sampai aku harus dandan Mas? Mas juga tampan banget, sayangnya basah."


"KUA."


...****************...


Harusnya sebelum ke KUA harus ada SIM dulu nggak sih gaes? Itu loh SIM (Surat Izin Mencintaimu) eaaa😅

__ADS_1



__ADS_2