
"Sayang, kapan mas bisa buka puasa? Malas banget tiap malam cuma meluk sama cium-cium doang," rengek Cakra yang kini memeluk istrinya di kamar mandi, padahal Liora sedang sikat gigi dan bersiap untuk tidur, lantaran anak-anaknya pun telah tidur dengan nyenyak.
Liora yang diajak bicara terus fokus pada pantulan cermin hingga aktivitasnya selesai, kemudian berkumur agar mulutnya terasa segar dan bersih. Barulah setelah itu dia berbalik dan menangkup wajah cemberut sang suami yang manjanya mulai kumat. Liora menguyel-uyel pipi Cakra.
"Sabar Mas ku sayang."
"Dahlah malas banget."
"Ish suami aku kenapa sih bertingkah lagi? Ada masalah di kantor, hm?" tanya Liora.
Cakra mengelengkan kepalanya, pria itu mengendong tubuh Liora ala anak koala keluar dari kamar mandi, kemudian membawanya ke tempat tidur. Pria itu menurunkan istrinya secara perlahan, lalu mengecup benda kenyal yang terus merekah tersebut. Siapa yang menyangka, keisengan Cakra malah disambut dengan baik oleh sang istri.
Alih-alih menolak, Liora malah mengalungkan tangannya di leher sang suami, kemudian melahap habis bibir yang sejak pulang kerja terus saja manyun.
"Good baby," bisik Cakra semakin melancarkan aksinya. Baiklah jika dia tidak bisa mendapatkan yang satu itu, maka dia akan menggunakan cara lain bersama istri tercinta.
***
__ADS_1
Waktu terus berjalan semestinya tetapi tidak begitu berjalan baik lantaran Zayn terus menganggu kehidupan Eril dan Rahma lantaran ingin mengambil bayi yang semakin besar malah semakin mirip dengan Zayn.
Sudah satu bulan sejak kedatangan Zayn ke kontrakan Rahma, sejak itu pula Rocky telah berhasil mendapatkan beberapa saham Z group yang terus saja jatuh setiap harinya, bahkan hampir mengalami kebangkrutan. Hal itu lah membuat Zayn tampak geram kerena tidak bisa mendapatkan Arhan bahkan untuk mendekatinya saja sangatlah mustahil karena banyak pengawal yang mengelilingi.
"Sial, saya tidak boleh berdiam seperti ini, bayi itu harus jatuh ketangan saya apapun yang terjadi!" gumam Zayn mondar-mandir di ruangannya sendiri. Pria itu merongoh saku jasnya, kemudian menghubungi seseorang yang mungkin bisa mendekat tanpa dicurigai oleh seseorang.
Senyuman Zayn mengembang setelah panggilannya dijawab di seberang telpon. "Kau masih ada di kota?" tanya Zayn pada seseorang di seberang telpon.
"Hm, saya bekerja di kota ini. Ada apa anda menghubungi saya lagi? Bukankah informasi yang saya berikan cukup?"
"Kau mencintainya bukan? Kau juga tidak terlalu suka dengan Ceo arongan itu karena cinta pertamamu direbut olehnya." Zayn senyum miring, membuat seseorang di seberang telpon terdiam.
"Mari bekerja sama, bantu saya untuk mengambil putra saya dari wanita itu, maka saya akan membantu kamu mendapatkan ibunya!" Zayn senyum smirk. Namun senyuman itu tidak berlangsung lama lantaran melihat pintu terbuka lebar dan menampilkan sosok wanita cantik di depan sana.
Tanpa mendengar jawaban Wildan lebih dulu, Zayn memutuskan sambungan telpon, kemudian menghampiri istrinya.
"Sayang, kenapa berkunjung tanpa memberitahuku, hm?" tanya Zayn, langsung memeluk pinggang ramping istrinya, padahal baru saja melahirkan bayi yang sangat cantik. Zayn sangat mencintai istrinya, tetapi dia juga menginginkan putra dalam waktu dekat.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Sayang. Beberapa hari ini kamu selalu pulang saat aku tertidur dan pergi sebelum aku bangun." Wanita cantik itu membalas pelukan suaminya. Mereka menikah karena rasa cinta di hati masing-masing, tetapi sampai saat ini wanita itu tidak tahu bahwa suaminya memiliki putra di luar sana.
"Itu karena aku sibuk mengurus perusahaan. Aku harus bekerja keras untuk memulihkan perusahaan, atau semuanya akan diambil alih oleh papa." Zayn mengecup pucuk kepala istrinya.
Zayn hendak melakukan lebih dari itu, tetapi pintu ruangan kembali dibuka oleh asistennya, sehingga Zayn menghentikan aksinya.
"Kenapa?" tanya Zayn.
"Tuan Cakra ingin bertemu, anda, Tuan. Dia ingin membicarakan tentang pekerjaan," ucap sang asisten.
"Suruh dia masuk 10 menit lagi!" sahut Zayn dan dijawab anggukan oleh sang asisten.
Setelah kepergian asisten itu, Zayn kembali menatap istrinya yang memasang wajah masam.
"Ayolah, Sayang, hanya sebentar. Masuklah ke ruangan itu." Zayn menunjuk pintu di mana sebuah kamar berukuran kecil untuk istirahat. "Aku akan menemuimu setelah rekan bisnisku, pergi."
"Baiklah, jangan lama, aku takut putri kita akan menangis di rumah." Wanita cantik berambut pendek itu segera berjalan memasuki ruangan pribadi suaminya, bertepatan datangnya Cakra bersama tangan kanan yang selalu menemani. Siapa lagi jika bukan Rocky.
__ADS_1
Harus kalian tahu, sampai saat ini Zayn belum tahu bahwa sebagian saham yang ada di perusahaan ini sudah menjadi milik Rocky dan Cakra.