
Cakra dan Liora berjalan menuju dermaga sambil bergandengan tangan, terlebih langit di sekitar tempat itu telah berubah menjadi jingga dan tampak indah di pandang mata. Keduanya baru menghentikan langkah setelah sampai di ujung dermaga. Menatap keindahan dunia yang sangat memanjakan mata.
"Cantik banget," gumam Liora. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Secantik kamu, bedanya cantik kamu abadi, sementara senja hanya sesaat," jawab Cakra. Dia melingkarkan tangannya pada perut sang istri, sesekali mengecupnya.
"Gombal."
"Memang cantik kok istrinya mas Cakra. Apalagi sekarang sudah melahirkan 3 kurcaci, jadinya tambah cantik-cantik-cantik banget."
***
Jika Cakra dan Liora sedang menikmati waktu berdua saja, maka berbeda dengan Eril yang tengah membantu istrinya membereskan rumah setelah istirahat beberapa menit. Pria itu sedang menyusun mainan Arumi, menyapu bahkan mengepel, sementara Rahma sibuk di dapur. Entah memasak makan malam atau sedekar mencuci piring.
Eril segera mendaratkan tubuhnya di kursi rotan setelah berhasil menyelesaikan semua pekerjaanya. Dia mengatur napas sambil memejamkan mata karena cukup lelah. Bukan karena baru pertama kali mengerjakannya, tetapi terlalu terburu-buru sebab tidak ingin Rahma mendahuluinya mengerjakan semua itu.
__ADS_1
"Mas, mau makan sekarang?" tanya Rahma yang telah menyelesaikan urusannya di dapur.
"Nanti saja, Ra. Sini duduk sama aku aja dulu. Mau peluk sebentar biar lelahnya hilang." Eril menepuk pahanya.
Rahma yang melihat itu sedikit tersipu malu, tetapi tetap melaksanakannya demi menyenangkan hati sang suami yang rela mengerjakan pekerjaan rumah. Rahma duduk menyamping di paha Eril, membuat pria itu dengan sigap melingkarkan tangan di pinggang ramping yang terhalang baju daster panjang nan longgar itu.
"Wangi banget sih?"
"Padahal aku belum mandi sore. Mas pasti bohong."
"Mana mungkin aku bohong sama kamu, hm?"
Selama beberapa hari pernikahan, biasanya Eril hanya memeluk sambil tidur, tetapi sekarang mulai melakukan lebih ya meski belum bisa untuk yang satu itu.
"Apa saja kegiatan Mas hari ini? Ada yang membuat mas kesal atau marah?"
__ADS_1
"Tidak." Eril memejamkan matanya, menikmati kehangatan di pelukan sang istri. Dia semakin merapatkan tubuhnya, bersembunyi di sekitar hijab yang menutupi dada Rahma. "Anak-anak tidur?"
"Iya, Arumi dan Arhan baru saja terlelap. Tahu tidak? Ternyata Arumi sangat mengemaskan dan tidak rewel. Putrinya kak Rocky cantik banget."
"Kamu juga cantik," gumam Eril.
"Makasih pujiannya, Mas." Rahma lagi-lagi tersenyum. Wanita itu mengelus rambut Eril untuk membantu suaminya lebih rileks lagi. Namun, gerakan tangan itu terhenti ketika mengingat sesuatu. Dia mendorong kepala Eril agar menjauh darinya. Bukan karena marah, tetapi ingin menatap wajah tampan sang suami.
"Kenapa?" tanya Eril.
"Um, aku boleh bertanya?"
"Boleh, memangnya apa?"
"Tadi pas aku mengambil sesuatu di mobil, Mas. Aku tidak sengaja menemukan kotak kecil juga map coklat. Aku penasaran dengan isinya, tapi takut untuk membuka."
__ADS_1
"Astagfirullah, aku melupakan sesuatu, Rahma. Itu adalah pemberian dari Tuan, Cakra." Eril menepuk keningnya. Bisa-bisanya dia melupakan pemberian sang atasan, mungkin jika Cakra mengetahui hal ini, pria itu akan marah karena mengira Eril tidak senang mendapatkan hadiah darinya.
"Tunggu sebentar, biar aku ambil kotak itu. Aku juga penasaran dengan isinya."