
Usai makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah kehadiran Liam. Cakra mengajak Liora dan Liam jalan-jalan lebih dulu. Hanya bertiga, sebab Eril sudah pergi atas perintah Cakra. Laki-laki itu langsung menuju kota menggunakan mobilnya sendiri karena harus mengurus perusahaan.
"Kita ke penginapan aku dulu ya Ra?" izin Cakra tetapi Liora tidak menjawab.
Wanita itu hanya sibuk berbicara bersama Liam.
"Papa di cuekin?" tanya Cakra pada Liam.
Bocah kecil yang sedang asik mendengarkan cerita Liora segera menoleh. Liam mengeleng.
Tangan Cakra terulur mengelus rambut Liam. "Kita kerumah Papa dulu, ponsel papa ketinggalan di sana tadi." Liam hanya menganggukkan kepalanya.
Sepertinya bocah kecil itu sudah mengantuk sebab jarum jam menunjukkan angka 9.
Cakra memutar setir kemudia memasuki pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Rumah penginapan bertingkat dua. Setiap lantai hanya berisi 5 kamar lumayan luas.
didalamnya sudah di lengkapi fasilitas walau tidak semewah hotel atau rumah penginapan di Kota.
Laki-laki itu mengambil alih Liam dari gendongan Liora. Berjalan tepat di samping wanita tersebut. Tepat saat akan menaiki anak tangga, langkah Cakra berhenti karena teringat sesuatu.
Dia merongoh saku celana bergantian dengan jas yang dia pakai, tapi benda yang dia cari tak urung di temukan. Cakra menurunkan Liam dari gendongannya.
"Sepertinya Papa lupa kunci kamar. Ra duluan aja, kamar aku ada di lantai dua no 7."
__ADS_1
Liora hanya mengangguk, melangkahkan kaki menapaki satu persatu anak tangga seraya mengengam tangan mungil Liam.
"Papa pelgi?" tanya Liam.
"Nggak, papa lupa sesuatu Nak. memangnya kenapa kalau Papa pergi, Liam sedih?"
Liam menganggukan kepalanya lucu. "Liam au Papa."
Liora tersenyum seraya mengusap rambut Liam. "Papa nggak bakal ninggalin Liam, dan Mama nggak bakal misahin kalian lagi."
Karena terlalu serius berbicara berdua dengan putranya, Liora tidak melihat kedepan hingga menabrak seseorang.
"Maaf," lirih Liora.
Saat itu juga Liora mendongakkan kepalanya untuk menatap wanita arogan tersebut. Dia baru tersadar sudah berada di depan kamar no 7 sesuai arahan Cakra.
Terjadi keheningan di antara keduanya. Wanita yang di tabrak Liora menatap penuh selidik hingga senyuman terbit di bibirnya.
Terlebih saat melihat seorang pria tampan berhidung mancung melangkah ke arah mereka.
"Sayang?" panggil Rissa manja langsung mengamit lengan kekar Cakra.
Hal tersebut tidak luput dari perhatian Liora. Wanita itu langsung menutup mata Liam agar tidak melihatnya semuanya.
__ADS_1
"Rissa, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Cakra dengan suara tegas, tidak lupa menyingkirkan tangan Rissa dari lengannya.
"Aku kangen sama kamu. Lagian aku juga mau ketemu sama calon anak aku biar lebih dekat. Lagian ini udah resiko karena aku belum hamil."
Mata Liora terpejam, baru saja hati wanita itu akan luluh, sesuatu kembali menambahkan keraguan dalam dirinya.
"Liam ngantuk? Ayo kita pulang aja Nak." Liora langsung mengendong Liam dan berlalu pergi dari sana.
"Papa?"
"Papa sibuk," jawab Liora.
Nafas Cakra memburu melihat kepergian Liora bersama Liam. Atensi laki-laki itu beralih pada Rissa. "Apa maksud kamu ngomong seperti itu hm? Bukannya hubungan kita udah berakhir?"
Cakra menatap tajam Rissa seraya mencengkram pergelangan tangan wanita itu hingga menimbulkan kemerahan juga ringisan dari mulut Rissa.
"Aku cuma mau ...."
"Malam ini pandangan aku berubah sama kamu Ris, kamu jauh berbeda sekarang. Kamu bukan lagi Rissa berhati lembut yang aku kenal!"
...****************...
Rissa keknya perlu di ruqiah biar sadar kalau cuma di manfaatin😌
__ADS_1