
Cakra sampai di jalan raya jam 8 malam, laki-laki itu berlari menyusuri rumah sakit yang tidak terlalu besar. Di ujung koridor dia melihat beberapa pengawal berdiri.
"Tuan?" sapa mereka berdua. "Nyonya ada di dalam."
Cakra mengangguk, langsung masuk ke ruangan yang di huni oleh beberapa pasien.
Tidak sulit menemukan keberadaan Liora walau tertutup tirai putih, sebab tangisan Liora lumayan menarik perhatian orang.
"Ra? Gimana keadaan anak kita?" tanya Cakra berdiri di samping brangkar memperhatikan Liam yang tengah tidur dengan selang infus di tangannya.
Mata Cakra berkaca-kaca, rasanya sangat pedih melihat balita sekecil Liam harus di infus seperti itu.
"Ini salah aku, harusnya aku dengerin Liam," guman Liora sesegukan.
Cakra mendekat, langsung menarik Liora kepelukannya. Menyembunyikan wanita itu di perut sebab Liora duduk di samping brangkar.
"Bukan salah kamu, jangan nangis. Anak kita pasti baik-baik aja," bujuk Cakra.
"Ini semua salah aku. Seandainya kemarin aku dengerin Liam ini nggak bakal terjadi. Aku memang ibu yang jahat dan egois." Cengkraman tangan Liora semakin erat di pinggang Cakra.
__ADS_1
Kemeja putih laki-laki itu kini basah karena air mata. "Aku biarin Liam nangis setelah dia selesai telpon kamu. Aku nggak nurutin permintaan dia ketemu kamu, sampai dia lelah menanggis dan tertidur," jelas Liora sesegukan.
Cakra hanya bisa mengelus punggung bergetar istrinya. Mendengar cerita Liora membuat Cakra merasa bersalah. Pasalnya ini semua karena ulahnya, kalau saja kemarin tidak menyuruh Liam menangis, balita itu tidak mungkin menangis. Cakra lupa, kalau Liora adalah perempuan keras kapala.
"Saat bangun dia demam, awalnya demam biasa minum obat sembuh. Tapi demam Liam sampai pagi nggak turun-turun. Siangnya dia nangis, mungkin karena nggak kuat nahan panas sama sakit kepala."
Liora mendongak untuk menatap Cakra. "Liam kejang-kejang, bola matanya ke atas mulu, aku takut Mas," lirih Liora.
Cakra melempar senyum, menghapus air mata Liora dengan ibu jarinya. "Aku tau rasa sakit kamu. Jangan nangis Ra, nanti kamu ikut sakit."
"Dokter yang nanganin Liam siapa?"
"Dokter Jeni."
"Aku ketemu dokternya dulu."
Cakra langsung menemui dokter bernama Jeni untuk menanyakan kondisi Liam, dan apa yang harus di lakukan selanjutnya.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi anak bernama Liam pak. Kejang-kejang memang sering terjadi pada anak kecil yang sedang demam. Tapi walau begitu sebaiknya di adakan pemeriksaan lebih lanjut, misal tes darah, urine untuk mendeteksi ini terjadi karena infeksi atau memang cuma demam."
__ADS_1
"Lalu tunggu apa lagi? Lakukan yang terbaik untuk anak saya. Katakan berapa biayanya."
"Maaf Pak, tapi rumah sakit ini tidak punya alat selengkap itu."
Cakra lagi-lagi mengambil nafas dalam. "Kalau begitu rujuk anak saya ke rumah sakit ini." Dia mengeluarkan kartu nama seseorang di dompetnya.
"Maaf pak, tapi kita tidak punya kerja sama dengan ...."
"Anda tidak perlu khawatir tentang itu, saya yang mengurus semuanya."
"Tapi Pak, kondisi tubuh nak Liam belum bisa di ajak perjalanan jauh. Mungkin dua tiga hari setelah pemulihan baru bisa."
"Baiklah, tolong urus anak saya dengan baik selama di rumah sakit ini. Kerja sama antar rumah sakit ini akan turun paling lambat besok sore."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
__ADS_1
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo