Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 57


__ADS_3

"Kenapa berhenti, hm? Ayo lanjutkan Sayang," pinta Cakra. Laki-laki itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Liora.


"It-itu tadi anu ... aku iya Liam nangis Mas." Liora berusaha kabur dari jangkuan Cakra.


Namun, sia-sia wanita itu lakukan. Sebab kini tubuhnya sudah di kuasai oleh sang suami. Cakra menarik Liora hingga terjerambah di atas ranjang.


"Masih sore." Liora menahan dada Cakra seraya memalingkan wajah agar laki-laki itu tidak menciumnya.


"Berani berbuat, berani tanggung jawab," bisik Cakra.


Tidak mendapatkan bibir tidak membuat Cakra menyerah, dia malah menyesap tulang selangka sang istri hingga leher.


"Ak-aku tadi cuma nenanggin biar Mas nggak ngamuk terus, bukan mancing. Lagian ini, hmmmpppp."


Suara Liora tenggelam karena sesapan Cakra tiada henti, kini bibir tebal itu membalut sedikit demi sedikit bibir Liora hingga tidak bisa mengoceh atau melontarkan penolakan.


Salahkan Liora karena memancing singa lapar sore-sore seperti ini.


"Huh." Liora meraup udara sebanyak-banyknya setelah Cakra melepaskan pang*utan. Bibir yang semula tipis kini membengkak padahal baru sekali di serang.


"Aku tahu ini masih sore Ra. Jangan khawatir aku bakal ngasih jatah nanti malam sebelum tidur, sekarang cuma bonus buat kamu. Takut banget si Yang." Cakra senyum lebar seraya mengelus pipi Liora yang memerah.


"Kok bonus?" Protes Liora. Seakan-akan yang mengingingkan momen ini adalah dirinya. Pintar sekali Cakra memutar balikkan fakta.


"Iya bonus."


"Enak aja, yang ke enakan Mas, kenapa malah aku dapat bonus. Modus banget," gerutu Liora.


Cakra tertawa. Laki-laki itu menyentil bibir Liora agar berhenti bicara. "Mau buat perumpaan, hm?"


"Misal, telinga kamu gatel terus di korek pakai tangan atau benda lain, yang ke enakan siapa? Telinga apa jari?"


Liora mengerjap-erjapakan matanya. Berpikir apa jawaban dari pertanyaan Cakra.


"Telinga," jawabnya.

__ADS_1


"Nah pintar. Sekarang aku bakal bantu kamu biar keenakan. Ikhlas kok." Cakra menegakkan tubuhnya untuk melepas baju juga melonggarkan selepe di celana.


Mata wanita yang berada di bawah kendalinya membulat sempurna. Wanita itu bahkan mencubit perut Cakra.


"Mas kira punya aku gatel sampai harus dikorek?" Kesal Liora.


"Ssstttt, diam sayang. Udah kepalang ini."


Cakra langsung melancarkan aksinya. Mengabsen setiap inci tubuh Liora dari atas sampai bawah. Tidak lupa meninggalkan jejak di mana-mana sebagai tanda keperkesaanya.


Sementara yang di jamah hanya bisa mengeluarkan suara-suara yang semakin membuat Cakra berg*airah. Mata Liora hanya bisa terpejam menikmati semua sensasi yang di berikan Cakra tanpa bisa berkutik.


Jika urusan ranjang, Cakra tidak ingin mengalah apapun yang terjadi.


"Gimana?" tanya Cakra dengan tatapan sayu setelah pelepasan. Laki-laki itu ambruk di atas tubuh Liora.


"Memuaskan."


"Tentu saja, Sayang." Bangga Cakra.


***


"Pengen lagi hm?" tanya Cakra dengan nada menggoda tanpa membuka mata.


"Mimi."


Mendengar suara anak kecil, Cakra langsung membuka matanya dan terkejut melihat Liam berada di sampingnya.


"Liam?" Keget Cakra.


"Papa, Mimi Liam," ucap Liam menunjuk bulatan-bulatan kecil di dada Cakra.


Sontak Cakra langsung menutup dua bulatan tersebut. Dia di lecehkan oleh putranya sendiri.


"Mimi!" pekik Liam naik ke pangkuan Cakra ingin kembali memainkan bulatan-bulatan kecil tersebut.

__ADS_1


"Liam Au nen*en mimi titu."


Cakra mengelengkan kepalanya. "Ini bukan Nen*en Liam, ini nen*en Papa. Liora Sayang!" panggil Cakra saat tidak mendapati keberadaan Liora di dalam kamar.


"Iya Mas?"


"Mas di lecehin sama anak sendiri," adunya tetapi tetap memangku Liam yang tidak tahu apa-apa.


Mungkin Liam mengira itu sama seperti punya Liora yang bisa mengeluarkan susu. Liam mengerjap-erjap memperhatikan ekspresi Cakra.


"Papa tatut cama Liam? Tata Mama Liam tanteng."


Liora yang baru saja datang, bukannya menolong malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi mengemaskan dua laki-laki kesayangannya.


"Lucu banget sih kalian." Liora langsung memotret kedua laki-laki itu sebelum mengendong Liam.


"Nen*en Papa Liam," ucap Liam menatap Liora. Bocah kecil itu seakan mengatakan ingin minum susu dari papanya.


"No, itu bukan Ne*nen Liam. Kan Liam udah berhenti Nene*n, sekarang minum susunya pakai dot Sayang."


"Tot?"


"Iya, kan Nene*nnya pait."


Liam menganggukan kepalanya. "Nen*en patit." Bocah kecil itu menutup mulut seakan merasakan pahit.


Memang saat akan misah Liam, Liora menggunakan Pare di area dadanya agar Bocah mengemaskan itu berhenti minum Asi 3 bulan sebelum genap 2 tahun.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Komentar kalian semangat Author


__ADS_2