Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 158 ~ Jalan keluar


__ADS_3

Rocky, pria itu melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata setelah meninggalkan rumah kontrakan adiknya. Dalam pikiran pria itu dipenuhi oleh kejadian semalam yang mulai muncul satu persatu diingatan Rocky. Semua ingatan semalam bagai terekam jelas di otak pria itu, dari mulai dia memaksa Alea , menampar hingga tangisan pilu, semuanya Rocky ingat. Dia memukul setir kemudi karena rasa bersalahnya cukup dalam dan ingatan itu tidak ingin hilang meski dia mengusirnya berulang kali.


"Bodoh, saya telah hilang kendali hanya karena perempuan," gumam Rocky dengan wajah dinginnya.


Meski Alea telah membawa kabur 3 lembar dollar pecahan 1000 miliknya yang ada di dalam dompet, itu belum bisa membuat Rocky tenang. Sampai kapan pun, harga diri seorang wanita tidak bisa digantikan oleh apapun, termasuk uang.


Apakah ini karma untuk Rocky yang tidak menginginkan Rahma? Dia membenci wanita yang telah hamil di luar nikah, tetapi dia malah melakukan hubungan terlarang di luar nikah hingga menyebabkan anak gadis seseorang terluka.


Rocky memarkirkan mobilnya setelah sampai di perusahaan Alexander Group. Dia berjalan terburu-buru menuju lantai yang dihuni oleh para petinggi perusahaan. Sejak setengah jam yang lalu, dia sudah mendapat kabar bahwa Cakra telah berada di kantor, dengan kata lain Rocky terlambat datang hari ini.

__ADS_1


"Tuan Cakra sudah menunggu, Anda," ucap sekretaris Cakra ketika Rocky telah sampai di depan ruangan tuannya.


Rocky hanya mengangguk sebagai jawaban, pria itu mendorong pintu ruangan Cakra cukup pelan hingga berhasil dibuka dan memperlihatkan pemilik ruangan tengah bersedekap dada di kursi kebesarannya. Rocky berjalan menghampiri Cakra, berdiri tegap di seberang meja dan bersiap mendapatkan kalimat makian dari atasannya.


"Saya tidak butuh penjelasan kenapa kau terlambat, tetapi saya butuh hasil dari penyelidikan kemarin!" ucap Cakra dengan wajah yang bahkan lebih dingin dari Rocky hari ini.


"Akan saya jabarkan, Tuan." Rocky dengan sigap mengeluarkan benda pipih di saku jesnya, kemudian meneliti beberapa halaman lalu menjabarkannya dengan jelas pada Cakra yang tampak tidak sabaran.


Cakra senyum miring, ini semua di luar espektasinya. Semakin besar perusahaan, maka semakin banyak pula orang-orang licik di dalamnya. Hampir setiap tahun Cakra memecat bahkan memberi pelajaran para orang-oranh korupsi dan pernghianat dalam kerajaan bisnisnya, tetapi mereka tidak pernah takut berbuat demi mendapatkan uang yang jauh lebih banyak.

__ADS_1


Cakra beranjak dari duduknya, mengambil MacBook di tangan Rocky kemudian meneliti semua yang terjadi. "Bukankah ini akan menghacurkan perusahaan Z Group meski bukan mereka yang bersalah?"


"Benar, Tuan. Jika kita menyelidiki lebih lanjut dan mengadakan konferensi pers, maka Z Group akan menjadi buruk di mata publik. Kemungkinan terparah, harga saham akan menurun drastis dan merugikan para pemegang saham mereka."


"Kerja bagus, kau boleh pergi sekarang!" ujar Cakra.


Rocky mengangguk cepat, kemudian meninggalkan ruangan Cakra. Pria itu bukan menuju ruangannya untuk istirahat, tetapi menemui tim desain yang berani menjual desain-desain yang telah menjadi milik Alexander group setelah menandatangi sebuah perjanjian.


Sementara pemilik perusahaan kini duduk dengan tenang di ruangannya. Satu masalah mulai terpecahkan, beberapa langkah lagi Cakra dapat mengembalikan nama baiknya di mata pemegang saham yang lainnya. Pria itu hendak menelpon istrinya untuk membagikan kabar bahagia tersebut, tetapi urung ketika mendengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.

__ADS_1


"Masuk!" perintah Cakra.


Eril yang berada di balik pintu segera membuka pintu ruangan Cakra. Berjalan menghampiri pria itu sambil merapikan jasnya. Tidak lupa senyuman menghiasi wajah Eril, pertanda semuanya berjalan lancar. Ya di antara mereka bertiga, hanya senyum Eril lah yang murah. Tidak seperti Cakra dan Rocky yang memperlihatkannya pada orang-orang tertentu saja.


__ADS_2