
"Mau kemana?" tanya Cakra mencegah Liora keluar dari kamar.
"Ke dapur, mau masak buat makan malam nanti," jawab Liora.
Cakra mengeleng, manarik tangan Liora hingga terjerambah di pangkuannya. "Nggak usah, itu bukan tugas kamu Sayang. Tugas kamu cuma perhatiin aku sama anak kita."
"Tapi Mas."
"Ssstttt," Cakra berdesis. Jari tengah dan telunjuk Cakra dengan nakal menari-nari di wajah Liora, membuat wanita itu kegelian dan merinding. "Kalau kamu nekat ke dapur dan masak sesuatu lalu tangan kamu ke gores sedikit aja, maka pelayan yang bertugas di dapur bakal kehilangan pekerjaan, kamu mau?" tanya Cakra lembut, walau kalimatnya berisi sebuah ancaman.
Liora menelan salivanya kasa beberapa kali, sungguh Cakra yang dia kenal dulu dan sekarang sangat berbeda. Cakra yang penurut juga baik hati sudah hilang entah kemana. Kini hanya ada sifat Arogan, suka memerintah dan sedikit pemaksa.
"Ternyata uang bisa ngerubah segalanya," guman Liora tanpa ingin membalas tatapan Cakra.
"Sifat aku dari awal memang gini Ra, aku nggak suka kalau orang yang aku sayang tersakiti. Aku ngerasa gagal jaga kalian kalau sampai itu terjadi. Semoga kamu terbiasa."
"Aku bakal berusaha ngimbangin semuanya," jawab Liora dengan senyuman. "Kalau begitu lepasin, aku mau ketemu Liam dulu."
"Jangan ganggu dia Sayang, Liam lagi asyik unboxing mainan di kamar sebelah."
"Jangan terlalu di manjain Liam Mas, dia laki-laki. Itu juga mainan banyak banget hampir memenuhi kamar Liam. Sambutan kamu terlalu berlebihan."
__ADS_1
"Nggak berlebih sama sekali, kamu yang belum terbiasa."
***
Hari pertama di rumah Cakra membuat Liora masih merasa cangung pada para pelayan yang memperlakukan dia sangat baik. Bahkan saat akan mengambil gelas saja dia di ikuti seperti seseorang yang akan mencuri.
"Saya nggak bakal bawa lari gelas ini mbak," ucap Liora.
"Maaf kalau Anda merasa nggak nyaman Nyonya, tapi saya harus mastiin Anda baik-baik aja."
Liora tersenyum. "Aku baik-baik aja selama masih ada di dalam rumah ini, kalau ada apa-apa pasti manggil kalian," ucap Liora meletakkan gelas setelah meminum isinya.
Kaki itu melangkah semakin dalam, hingga dia menemukan sebuah pintu besi berkarat di balik untaian bunga. Karena penasaran, Liora membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci tersebut.
Gelap, itulah yang Liora dapati dalam ruangan bawah tanah tersebut. Karena takut, Wanita itu hendak meninggalkan ruangan, tetapi urung saat mendengat teriakan seorang perempuan.
"Lepasin saya!"
Suara itu mengema beberapa kali, membuat rasa penasaran Liora semakin besar. Dia menggunakan senter ponsel untuk menerangi jalannya.
Liora terkejut bukan kepalang melihat seorang wanita di dalam jeruji besi tengah meraung minta di lepaskan. Saat akan melangkah mendekat, lampu ruangan menyalah.
__ADS_1
"Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Eril yang baru saja menyalakan pintu.
"Oh tadi aku nggak sengaja nemu pintu, memangnya siapa wanita itu?" tanya balik Liora.
"Dia Nona Rissa Nyonya, mari saya antar pulang kerumah utama. Takutnya Tuan Cakra marah mengetahui Anda ada di sini."
Eril membukakan pintu untuk Liora. Untung saja ada pelayan yang melihat Liora masuk keruangan itu, hingga Eril bisa bergegas.
Liora dan Rissa tidak boleh bertemu berdua saja untuk saat ini, atau semuanya akan kacau. Tidak ada yang tahu apa yang akan di katakan Rissa pada Liora.
"Kenapa di di kurung?"
"Karena dia jahat Nona. Dia sudah memisahkan Anda dan Tuan Cakra, juga hampir melenyapkan nyawa seseorang."
"Kenapa nggak langsung di bawa ke kantor polisi?"
"Silahkan tanyakan pada Tuan Cakra Nona."
...****************...
Jadi penasaran Rissa mau ngomong apa kalau ketemu Liora🤔
__ADS_1