Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 119 ~ Perjuangan seorang ibu


__ADS_3

Tepat saat mobil yang dikemudikan Rocky melintasi perbatasan kota, jaringan yang sejak tadi Cakra nanti-nanti kahadirannya terlihat juga. Belum lagi jalanan yang semula gelap, kini terang. Benar tebakan Cakra, di kota tidak ada listri yang mati. Pria itu segera mendial kontak istrinya, menghubungi Liora yang mempunyai beberapa panggilan tak terjawab satu jam yang lalu.


Panggilan yang Cakra lakukan tidak kunjung membuahkan hasil apapun. Pria itu melirik Rocky yang masih tenang mengemudikan mobil. "Hubungi Eril!"


"Baik Tuan."


"Tidak perlu, biar saya saja," lanjut Cakra, membuat Rocky diam-diam menghela napas panjang. Mau heran, tapi tuannya adalah pria yang suka seenaknya.


Rocky kembali fokus pada jalanan, berbeda dengan Cakra yang kini beralih menghubungi Eril. Hanya dalam satu deringan, panggilannya langsung dijawab oleh pria itu.


"Akhirnya Anda menelpon, Tuan. Sungguh rasanya saya bisa gila jika ini berlangsung sampai pagi," ucap Eril. Pria itu masih berada di bandara untuk mencari kakak dan tuannya.


"Apa yang kau maksud, hm? Di mana istri saya? Dia tidak menjawab panggilan saya."

__ADS_1


"Nyonya Liora ada di rumah sakit, Tuan. Dia mengalami kontraksi setelah mendengar bahwa pesawat yang Anda tumpangi menghilang."


"Ck!" Cakra berdecak kesal. Pria itu memutuskan sambungan telpon sepihak, kemudian meletakkan di sampingnya. "Rumah sakit biasa!" perintah Cakra dan dijawab anggukan oleh Rocky.


Tanpa bertanya pada Eril keberadaan Liora ada di rumah sakit apa, Cakra sudah dapat menebaknya, di mana lagi jika bukan rumah sakit yang sering dia kunjungi sebelumnya. Sepanjang perjalanan, jari-jari Cakra saling meremas, berusaha tenang dan berharap semuanya baik-baik saja. Pria itu langsung turun dari mobil, setelah sang asisten menghentikannya di depan rumah sakit.


Dia melangkah dengan kaki panjangnya secara terburu-buru menuju ruangan persalinan. Tidak sulit untuk menemukan ruangan istrinya, karena Cakra mengenali beberapa pemegang saham yang sedang berdiri di depan ruangan, di antaranya juga ada pak somat.


"Apa istri saya ada di dalam?" tanya Cakra pada pak Somat.


"Benar, Nak. Masuklah dan temui istrimu! Sejak tadi dia menangis menyebut namamu," jawab pak Somat.


Cakra hanya menundukkan kepalanya sebagai respon sopan pada pak Somat, setelahnya membuka pintu, tidak lupa menguncinya setelah berhasil masuk. Di dalam ruangan itu terdapat 5 orang. Dokter, dua suster, istrinya juga wanita berhijab besar yang mengenggam tangan Liora.

__ADS_1


"Mas Cakra?" Liora mengatur napasnya yang memburu, seulas senyum lega terlihat di wajah wanita itu melihat suaminya berdiri gagah tanpa terluka seperti bayangannya.


"Sayang, maaf." Cakra menghampiri istrinya setelah Rahma menyingkir. Raut wajah yang tadinya datar dan menyeramkan, berubah teduh dan khawatir melihat istrinya bermandikan keringat, padahal suhu ruangan cukup dingin.


"An-anak kita udah mau keluar, Mas!" erang Liora, wanita itu mencengkram tangan Cakra, hingga kukunya sedikit melukai kulit putih pria itu.


Liora mulai mengedang ketika dokter memberikan instruksi setelah memastikan pembukaan telah berada diujung. "Mas!"


"Iya sayang, mas di sini," bisik Cakra. Pria itu membenamkan bibirnya di kening Liora. Sesekali mengusap keringat yang ada di wajah istrinya. Melihat perjuangan wanita itu melahirkan anak-anaknya, membuat Cakra berpikir seribu kali sebelum menyakiti hati wanita yang kini berada dalam dekapannya.


Air mata Cakra berjatuhan, seiring suara rintihan yang keluar dari mulut sang istri. Mengumamkan beribu kata maaf pada Liora, begitup sebaliknya.


"Mas mencintaimu, mas memaafkan semua kesalahanmu. Semangat, Sayang," bisik Cakra ketika Liora mulai kelelahan tetapi bayi mereka tidak kunjung keluar.

__ADS_1


__ADS_2