
"Sayang, kenapa pernikahan Wildan batal? Bukannya dua hari lagi ya? Pasti undangan sudah tersebar," tanya Cakra merangkak ke tempat tidur dan berbaring di samping Liora.
Sepasang suami istri itu bersiap untuk tidur karena malam mulai larut.
"Kata bu Firda, Rahma hamil di luar nikah Mas. Makanya pak Soleh sama Bu Firda batalin pernikahan," jawab Liora. Wanita itu hendak memejamkan mata, tapi urung ketika Cakra memeluk tubuhnya seraya menopang kepala.
Liora merubah posisi tidurnya menghadap sang suami, memainkan tangannya di dada Cakra.
"Aku kasian sama Rahma dan Wildan Mas," lirih Liora membuat alis Cakra saling bertaut.
"Kenapa?"
"Pernikahan mereka harus batal padahal saling mencintai. Wildan baru saja telpon dan curhat sama aku. Katanya dia mau lanjutin pernikahan tapi pak Soleh tidak setuju," curhat Liora.
Cakra mengelus rambut Liora seraya tersenyum.
"Jangan di pikirkan, itu bukan urusan kita. Mas malah nggak nyangka Rahma hamil di luar nikah, secara yang mas lihat dia itu sangat tertutup. Gamis dan hijab panjang menutup seluruh tubuhnya, belum lagi dia guru ngaji. Ternyata itu semua tidak menjamin ...."
Pletak
Cakra menyentuh bibirnya ketika Liora menyentil bibir itu. "Kok?" Ceberut Cakra.
"Rombeng banget mulutnya jadi laki-laki. Jangan ngehakimi gitu aja tanpa tahu masalahnya. Belum tentu juga Rahma begitu," ceramah Liora tidak suka.
"Heheheh, mas khilaf," cengir Cakra. "Sebagai permintaan maaf, mas rela di sentuh nagian mana saja." Cakra merubah posisinya telentang. Merentangkan tangan ke samping menunggu Liora bergerak.
Cakra tidak pernah menyangka, sikap modus yang dia lakukan malah di tanggapi oleh Liora tanpa ada bantahan. Cakra tersenyum kecil, ketika tangan kecil Liora menyelinap di balik baju kaos yang dia kenakan.
"Aku pengen gigit ini boleh?" tanya Liora malu-malu, bahkan pipi wanita itu bersemu merah.
__ADS_1
Sungguh, kalau saja dia bisa menahan rasa inginnya, Liora lebih baik memilih tidur daripada bersikap murahan seperti ini pada suaminya sendiri. Apa mungkin ini keinginan bayi yang ada di kandungannya?
"Boleh banget Sayang, makin ke bawah juga nggak papa," jawab Cakra penuh senyuman.
Liora bangun kemudian menunduk untuk mengigit kecil perut berotot Cakra. Bukan hanya sekali, tapi Liora melakukannya berkali-kali hingga puas.
"Suka banget, hm?" Goda Cakra yang memilih bersandar pada kepala dipan untuk memudahkan Liora.
Laki-laki itu menyuruh Liora agar tidur di pangkuannya. "Biar bisa gigit sambil tiduran," ucap Cakra mengusap rambut Liora yang kini sudah berbaring di pangkuannya.
"Ra?"
"Iya mas?" Liora membalas tatapan Cakra.
"Tahu nggak? Momen ini tuh ngingetin aku pas kamu hamil dulu. Kamu pernah manja seperti ini pas ngidam Liam, sampai nangis pas aku mau ngojek," ucap Cakra mengulum senyum, berhasil membuat wajah Liora semakin merah.
"Aku malu," gumam Liora.
"Kenapa malu Sayang? Mas kangen malah. Mas mau kamu manja kayak gitu, terus hamil dedeknya Liam."
Liora mengintip di balik tangannya. "Memangnya kalau aku hamil, mas mau ngasih apa saja sama aku? Kalau misal aku minta rumah ini di balik atas nama aku, mas mau?" tanya Liora asal dan tidak menyangka dengan jawaban Cakra.
"Bahkan mas bakal balik semua aset atas nama kamu, kalau kamu mau Liora. Jadi cepatlah hamil Sayang."
"Aku bakal hamil sebentar lagi, dan saat itu tiba Mas harus turuti satu permintaan aku."
"Asalnya jangan suruh mas ninggalin kalian, mas akan bersedia. Katakan apa yang kau ingingkan?"
"Nanti, nggak sekarang. Mas Cakra aku sayang sama kamu." Liora memeluk perut Cakra sangat erat untuk menyembunyikan rasa malunya.
__ADS_1
"Ngomong apa tadi?"
"Aku nggak ngomong apa-apa."
"Ayolah Sayang, mas mau dengar satu kali lagi," desak Cakra, kini laki-laki itu mulai merengek.
"Mas Cakra Sayang, aku mencintaimu!" pekik Liora membuat senyuman Cakra merekah.
Laki-laki itu membanting tubuh Liora pelan, hingga berasa di bawahnya.
"Kita lembur malam ini!"
...****************...
Yuhu, mas Cakra sama Liora mau lembur dulu, kalian boleh tidur lebih awal, jangan ngintip ya😉
Oh iya, mampir di novel kakak online aku yuk🤗
Judul: My Beloved Worewolf
Napen: Ruth89
Tersasar di hutan, membuat Tresi bertemu dengan pria yang menjadi impiannya. Pria itu bahkan menolongnya dari kumpulan serigala liar. Tresi pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa basa basi, Tresi menyatakan cinta pada pria yang baru dikenalnya tadi.
Sayang, pria itu menolaknya. Tak pantang menyerah, Tresi memilih mencium pria itu. Saat itu, mutiara kehidupan milik Bima, pria yang Tresi cium, berpindah padanya. Mau tidak mau, Bima harus mengambilnya lagi. Jika tidak, hidupnya akan berakhir dalam satu tahun.
Bagaimana cara Bima mengambil kembali mutiara kehidupannya? Apakah Tresi akan tetap mencintai Bima, jika ia tahu Bima adalah manusia serigala? Akankah takdir mempersatukan mereka?
__ADS_1