
Mendapatkan hadiah berupa rumah dari sang atasan membuat Eril semakin giat untuk bekerja dan membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan kapan dan di mana saja. Pria itu kini telah rapi dengan setelan jasnya padahal masih pagi-pagi sekali. Di hadapan Eril ada segelas susu dan roti tawar yang telah diolesi selesai kacang, karena pria itu pagi ini tidak ingin memakan nasi.
Eril menikmati sarapan sederhananya sambil menunggu Rahma selesai mengurus kedua bayi-bayi mengemaskan di dalam kamar. Awalnya Eril ingin membantu, tetapi dilarang oleh Rahma karena wanita itu tidak ingin setelan jas Eril yang telah dia rapikan kusut sebelum berangkat bekerja.
Senyuman Eril merekah ketika melihat istrinya keluar dari kamar sambil mengendong Arumi yang telah cantik. Bayi itu memegang pisang susu yang telah Rahma kupas agar Arumi duduk dengan tenang saat dia mengganti baju Arhan.
"Sudah?" tanya Eril.
"Sudah, Mas. Mas mau berangkat sekarang?" tanya Rahma balik dan dijawab anggukan oleh Eril.
Pria itu berdiri dari duduknya setelah menghabiskan segelas susu dan dua potong roti. Mendekati Rahma, lalu mencium keningnya sangat lembut.
"Hari ini mungkin aku pulang terlambat. Aku mau mengurus rumah yang diberikan oleh tuan Cakra agar siap huni," ujar Eril. Pria itu menceritakan kegiatannya sebelum berangkat karena takut tidak sempat mengabari di jam-jam tertentu. Apalagi jika bersama Liam, di mana bocah itu tidak boleh melihat ponsel dalam bentuk apapun, karena akan menangis ingin memainkannya.
"Jangan lupa makan sesibuk apapun itu. Fokus bekerja dan jangan khawatirkan aku dan anak-anak di rumah," balas Rahma.
__ADS_1
"Siap." Eril memberi hormat.
Pria itu keluar dari rumah kontrakan yang tidak terlalu besar, melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, tidak lupa membunyi klakson mobilnya.
***
Sama dengan Eril, kini Rocky juga telah meninggalkan apartemen tanpa sarapan atau pun minum sesuatu. Hari ini Rocky seakan tidak punya tenaga untuk bekerja, mungkin karena tidak tidur nyenyak semalaman. Rasa bersalah terus menghantui Rocky setiap dia menutup mata, alhasil pria itu enggang menutup kelopak matanya.
Bahkan yang tadinya menyerah untuk mencari tahu tentang keberadaan Alea, kini dia malah menyuruh seseorang, dengan niat ingin meminta maaf agar bisa hidup tenang tanpa dihantui rasa bersalah. Rocky memarkirkan mobilnya di depan rumah Cakra setelah sampai. Turun dari mobil dan berjalan dengan kepala terangkat tanpa menyapa pelayan yang memberikan bow setiap kali bertemu.
"Mas, sudah ih! Malu ada Eril sama Rocky," tegus Liora yang wajahnya telah dipenuhi oleh jejak ciuman dari sang suami.
"Tidak akan sebelum mas puas."
"Mas Cakra!" Liora berkacak pinggang dengan wajah sengaja dibuat marah, saat itulah Cakra menghentikan aktivitasnya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Kalau begitu mas kerja dulu, hari ini mungkin pulang terlambat karena ada urusan penting," ucap Cakra.
"Semoga urusan Mas cepat selesai biar besok tidak lembur lagi."
"Harus."
Cakra membalik tubuhnya, menatap Eril dan Rocky yang hari ini semangatnya terbalik. Sekarang aura Eril lebih mendominasi.
"Kau sudah memeriksa yang saya berikan? Kau tidak keberatan tentang 5 persen itu?" tanya Cakra.
"Tentu tidak, Tuan. Bahkan saya sangat berterimakasih karena tuan Cakra bersedia membantu saya. Saya janji akan bekerja lebih keras lagi," jawab Eril.
Rocky yang melihat reaksi Eril hanya bisa mengerutkan kening. Hari ini adiknya benar-benar semangat, tutur katanya sudah berbeda setelah menikah. Tidak ada lagi candaan atau menyepelekan sebuah pekerjaan. Haruskah Rocky mengakui bahwa Rahma membuat Eril banyak berubah ke arah yang lebih positif?
"Jangan sampai keselamatan keluarga kecil saya terancam," jawab Cakra kemudian berlalu bersama Rocky yang mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Tujuan kedua pria tampan itu tidak lain adalah perusahaan untuk meluruskan semua masalah yang telah memporak-porandakan Alexander group selama beberapa hari. Masalah yang membuat harga saham turun sehingga banyak pemegang saham yang ingin mengambil dana mereka.