
Liora membuka pintu setelah mendengar ketukan seseorang, dia tersenyum kepada Wildan di depan pintu setelah menata hatinya lebih baik.
"Tidur dia, kayaknya lelah main," ucap Wildan menyerahkan Liam pada Liora.
"Makasih Mas," ucap Liora. "Tunggu sebentar!" pintanya sebelum membawa Liam masuk ke kamar.
Wanita itu menidurkan putranya di atas kasur, tidak lupa menyelimuti, setelahnya barulah dia kembali menemui Wildan. Keduanya duduk di teras depan rumah.
"Maaf Mas," lirih Liora menundukkan kepalanya. "Nggak seharusnya aku bersikap seperti itu pada Mas, hanya karena tahu mas dulu ...."
"Nggak papa Lio, aku ngerti kok. Aku cuma minta jangan batasi pergerakan Liam, dia masih kecil nggak tau apa-apa. Jangan bentak apa lagi marahin dia pas nanya dimana ayahnya, wajar, kalau dia nanya."
Liora langsung menatap Wildan, sedikit terkejut Wildan mengetahui hal itu.
"Liam cerita sama aku tadi, katanya sering di marahin. Lio, dia anak kecil butuh kasih sayang seorang ayah, izinin aku ngasih kasih sayang itu ya? Nggak harus ayah sambung kok, bentar lagi aku juga bakal nikah."
"Jangan paksakan apa yang seharusnya nggak dia mengerti, kalau besar nanti pasti ngerti juga."
"Aku takut Mas, dia terbiasa sama kamu, nganggap kamu papanya."
Wildan tersenyum manis. "Aku bakal perkenalin diri sebagai om, jadi dia nggak bakal nganggap aku papa. Jangan batasi aku sama dia ya? Kamu juga harus nata hati, bukan malah larut dalam kebencian."
"Makasih Mas, udah repot-repot ngajarin aku, nyadarin aku kalau apa yang aku lakukan salah."
"Kembali kasih." Wildan langsung bangkit dari duduknya ketika ponselnya bergetar. "Aku pergi dulu, mau jemput Rahma di masjid," izin Wildan kemudian berlalu begitu saja.
Rahma adalah, perempuan yang di jodohkan untuk Wildan, perempuan itu guru ngaji di kampung sebelah.
***
"Saya ingin semua staf dan perawat di rumah ini di ganti!" perintah Cakra pada dokter kepercayaanya.
Karena tidak mendapati perkembangan apapun di rumah sakit, Cakra memutuskan membawa Rocky pergi tanpa sepengetahun Brian, laki-laki itu membawa asistennya ke Villa, memilih staf dan perawat secara langsung tanpa ada perantara.
Dokter mengatakan belakangan ini Brian sering mengunjungi Rokcy, bahkan bisa berjam-jam didalam sana. Padahal sebelum-sebelumnya yang Cakra tahu, kedua orang itu tidak dekat.
"Baik Tuan." Tunduk sang dokter. "Saya membawa beberapa perawat yang mungkin setia pada Anda, silahkan mewawancarainya secara langsung!"
Cakra mengangguk, segera menemui semua perawat, memewawancarai dan mengancam, kalau saja ada yang berkhianat di antara mereka.
Setelah memastikan orang-orang yang menangani Rocky orang-orang kepercayaan, barulah Cakra meninggalkan Villa. Laki-laki itu kembali ke kantor untuk mengurus perusahaan.
__ADS_1
Dia mengernyit bingung mendapati Brian ada di ruangannya.
"Kenapa?" tanya Cakra langsung duduk berhadapan dengan Brian.
"Kakak dari mana? Aku dari rumah sakit, tetapi Rokcy nggak ada di sana, apa kakak memindahkannya?" tanya Brian balik.
"Hm, ke tempat yang lebih aman, Rocky tanggung jawab aku," jawab Cakra seadanya.
Laki-laki lembut, perhatian dan penurut itu saat Amnesia kini sudah hilang perlahan-lahan ke tempat semestinya. Sifat tegas juga tidak suka di perintah, itulah Cakra sesungguhnya.
"Kemana?"
"Kamu nggak perlu tau."
Diam-diam, tangan Brian terkepal, ternyata Cakra tidak sebodoh yang dia bayangkan, tidak selugu saat pertama kali bertemu dan dalam masa pemulihan, kakak keras kepalanya benar-benar sudah kembali.
"Kenapa kamu ada di sini? Butuh sesuatu? Kalau nggak, aku mau ke suatu tempat." Cakra kembali beranjak, dia lupa hari ini tepat dua tahun kematian istrinya, kondisinya sudah pulih, dia juga sudah mendapat orang kepercayaan selain Rocky, untuk sementara waktu, dia akan tenang jika meninggalkan perusahaan.
"Kemana?" lagi, Brian bertanya.
"Ke makam Liora."
Brian mengangguk mengerti, tidak mencegah laki-laki itu sama sekali, toh Cakra tidak akan pernah bertemu Liora, dia sudah bergerak lebih cepat memanipulasi semuanya tanpa sepengetahuan Cakra.
***
Makan yang dia datangi adalah makan yang di tunjukkan Brian untuknya. Laki-laki itu mengatakan, Liora di larikan ke kota sebab alat yang ada di desa tidak lengkap. Karena tidak ada keluarga, akhirnya Brian mengambil sebagai wali dan mengkebumikannya di sana.
Hari itu, Cakra sempat curiga dan marah karena tidak ada yang memberitahunya, tetapi Brian dan Rissa mengatakan.
Kita nggak tega beritahu kamu Kak, kita nggak mau nambah kesedihan kamu.
Itulah yang di katakan Brian, Cakra percaya sebab saat itu Rocky juga di ambang kematian karena kecelakaan.
Lama Cakra di makam orang lain yang telah di manupulasi Brian, kemudian pulang kerumahnya untuk istirahat sejenak.
Hatinya kembali dia buka untuk Rissa walau tidak sepenuhnya, sebab mengira selama ini dia menghianati wanita tersebut dengan menikahi Liora.
"Sayang?" pekikan dari ambang pintu membuat Cakra mengurungkan menutup mata, dia menatap Rissa dengan wajah datarnya.
Wanita itu langsung berbaring di samping Cakra kemudian memeluknya. "Kata Brian kamu habis ke makam Liora ya? Sedih lagi? Sini aku peluk."
__ADS_1
"Maaf Ris, aku masih di hantui masa lalu."
"Nggak papa, aku ngerti kok. Aku orang lain di hidup kamu sementara Liora istri kamu," lirih Rissa, seakan-akan sedih.
"Aku bakal berusaha keluar dari sana walau sulit."
***
"Tuan, pak Wardi sudah datang." Lapor Asisten sementara Cakra.
"Baiklah."
Cakra langsung menemui kliennya di ruang rapat, jika sepakat, keduanya akan menjalankan proyek besar di sebuah desa dekat laut. Klien Cakra berencana akan membangun penginapan modern disana untuk wisata liburan dengan pemandangan yang asri.
Anak-anak kota jaman sekarang, lebih suka berpetulangan, dan target desa menjadi salah satu tujuan, apa lagi jika ada destinasi wisata.
"Bagaimana Tuan? Apa Anda mampu memenuhi keinginan saya yang di luar nalar ini?" tanya pak Wardi.
"Anda meragukan kemampuan saya Pak?" Cakra tersenyum, menyerahkan beberapa gambar yang telah di desain oleh Arsitektur perusahaanya.
"Ini contoh-contoh gambar yang mungkin anda sukai, akan banyak lagi, tapi sebelum itu saya harus meninjau lokasi lebih dulu. Dan Anda tahu saya tidak suka membuang-buang waktu dengan proyek yang tidak pasti."
Pak Wardi mengangguk-angguk seraya memperhatikan desain-desain unik yang Cakra berikan, sepertinya semua keinginanya akan dia dapatkan dalam perusahaan Cakra. Terlebih, Aleksander group perusahaan besar dan lengkap untuk sebuah proyek bangunan. Arsitektur, Desain interior, bahan-bahan dan sebagainya, pak Wardi akan menerima beres saja jika harga di setujui.
"Sepertinya menarik."
Pak Wardi melirik asistennya, membuat laki-laki yang sedang berdiri itu memberikan map coklat pada Cakra.
"Semoga proyek ini menjadi pintu untuk kerjasama kita Tuan Cakra."
...****************...
Proyek destinasi hiburan di desa dekat laut?π€
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
__ADS_1
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo