Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 146 - Obat tidur


__ADS_3

Jika Rocky sedang dibuat pusing oleh tingkah nani baru Arumi, maka berbeda dengan Cakra yang perasaannya tidak menentu setelah pulang ke rumah. Sejak tadi pria itu hanya berdiri di pinggir ranjang sambil memandangi wajah pulas Liora yang sangat damai. Ada rasa bersalah di hati Cakra karena membentak istrinya tadi. Dia bahkan mengatakan bahwa Liora tidak becus menjaga seorang anak.


Padahal Cakra tahu betul bagaimana Liora. Wanita itu sering kali memikirkan sesuatu yang tidak-tidak dan menyalahkan diri sediri jika terjadi sesuatu. Cakra berlutut di hadapan Liora yang kebetulan tidur di pingggir ranjang menghadap pintu. Tangannya mergerak untuk mengelus pipi Liora.


"Maafin mas karena bentak kamu tadi. Maaf mas tidak bisa mengendalikan emosi dan mencampur-adukkan masalah keluarga dan pekerjaan. Mas tahu kamu sudah berusabah melakukan yang terbaik, tidak seharunya mas menuduhmu," gumam Cakra. Pria itu sebenarnya ingin kembali bicara, tetapi urung ketika mendengar suara pintu diketuk.


Cakra berdiri dan menatap nani Leona yang baru saja membuka pintu setelah meminta izin. "Ada apa?" tanya Cakra.


"Maaf Tuan menganggu waktunya. Saya hanya ingin mengambil handuk Nona Leona yang ada di sana." nani Leona menunjuk handuk yang terlipat dengan rapi di dalam boxs.


Tidak ingin pelayan itu masuk padahal istirnya sedang tidur, Cakra bergerak sendiri untuk mengambil handuk itu dan menyerahkannya pada nani.


"Di mana si kembar?" tanya Cakra ketika menyadari kedua anaknya tidak ada di dalam kamar, padahal biasanya Liora akan mengurus Leona dan Lion sebelum tidur.


"Ada di kamar sebelah, Tuan. Nyonya Liora menyuruh saya mengurusnya malam ini karena ingin tidur nyenyak," jawab sang perlayan kemudian menutup pintu kembali.

__ADS_1


Melihat hal itu, Cakra langsung membalik tubuhnya menatap Liora lagi, hingga atensinya tidak sengaja tertuju pada botol kecil yang ada di bawah bantal Liora. Karena penasaran, Cakra mengambil botol kecil itu dan membacanya. Tubuh Cakra bergetar setelah membaca keterangan botol tersebut. Isi *** itu tidak lain adalah obat tidur. Dari tempatnya saja Cakra dapat menebak bahwa obat itu baru saja dibeli.


Dengan perasaan kesal Cakra melempar botol obat itu ke tempat sampah dan berjalan ke kamar mandi. Dia semakin bersalah sekarang.


"Pasti Liora meminum obat tidur karena terggangu oleh kata-kataku," gumam Cakra yang kini berada di kamar mandi.


***


"Mas belum tidur?" tanya Rahma. Dia menghampiri suaminya yang kini duduk di teras rumah padahal jarum jam sudah menujukkan angka 10. Kini hanya ada mereka bertiga di rumah, lantaran pak Somat tiba-tiba pulang ke dewa luwut lantaran ada salah satu warga yang membakar pekebunan pisang, juga beberapa warga ingin kembali mengelola persawahan yang ada di desa.


Rahma ikut duduk di samping suaminya ketika tidak kunjung mendapatkan jawaban.


Eril mengelengkan kepalanya sambil tersenyum, dia beralih mengenggam tangan Rahma yang saling bertumpuk pada paha.


"Tidak ada masalah dalam pekerjaan aku, jangan khawatir. Oh iya, apa putra kita sudah tidur?" tanya Eril balik.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Arhan baru saja terlelap. Itulah mengapa aku menghampiri Mas Eril. Besok mas harus kerja, tidak baik jika begadang."


"Kamu benar," sahut Eril. Sebenarnya ada yang menganggu pikiran pria itu, tetapi dia ragu jika membicarakannya dengan Rahma. Alhasil dia memilih tidur. Pria itu beranjak dari duduknya, kemudian menarik tangan Rahma dan beriringan masuk ke rumah. Sesekali dia melirik wajah cantik Rahma yang selalu bercahaya setiap saat.


Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, begitupun dengan Rahma, sementara putra mereka berada di pinggir dekat tembok. Bukan Eril yang meminta, tetapi Rahma yang berinisiatif. Wanita itu sengaja menepatkan Arhan di pinggir dan dia tengah, agar tidak terlalu berjarak dengan suaminya. Bagaimana pun mereka telah menikah, tidak mungkin hanya sekedar pelukan sambil tidur tidak Eril dapatkan.


"Rahma?" panggil Eril ketika Rahma hampir memejamkan matanya membelakangi Eril. Wanita itu lantas membalik tubuhnya, menatap Eril penuh tanya.


"Mas ingin membicarakan sesuatu?" tanya Rahma dan dijawab anggukan oleh Eril. Tangan pria itu bergerak dan meletakkanya di pinggang ramping rahma yang kini hanya memakai daster tanpa hijan, dengan kata lain rambut Rahma tergerai indah.


"Kenapa tidak bertanya tentang pekerjaan aku?" tanya Eril.


"Kenapa aku harus bertanya, Mas? Sementara aku sudah tahu mas kerja dengan Tuan Cakra. Aku yakin bekerja dengannya pasti halal."


"Tapi aku menjadi pengawal, Rahma. Aku mengawal tuan muda Liam, dan nyonya Liora. Bisa dibilang waktuku seharian hanya untuk Nyonya Liora, apa itu tidak masalah untukmu?"

__ADS_1


Rahma tersenyum, dia kini menempatkan tangannya tepat di rahang Eril yang wajahnya tampak serius. "Untuk apa aku mempermasalahkan itu semua, Mas? Selagi mas bisa jaga mata dan hati, maka tidak akan ada yang terjadi. Lagi pula ini hanya kerjaan."


"Akhirnya perassan aku, lega. Aku takut kamu marah kalau saja tahu aku bekerja di dekat seorang perempuan." Eril tersenyum lebar, pria itu begerak untuk mengecup kening Rahma sebelum memejamkan mata.


__ADS_2