Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 188 - Rasa Benci


__ADS_3

"Saya minta maaf sebesar-besarnya, Tuan. Tapi saya tidak bisa memaksa orang sakit untuk tetap masuk bekerja," ucap Aryo yang masih punya hati nurani untuk tidak memaksa siapa pun agar bekerja dalam kondisi kesehatan yang tidak baik-baik saja.


Rocky yang mendengar hal tersebut, menghela napas panjang. Dia meneliti ruangan tersebut cukup lama hingga akhirnya kembali bicara.


"Berikan alamatnya, saya ingin membicarakan tentang laporan itu!" ujar Rocky akhirnya.


Tanpa curiga sedikit pun, Aryo langsung saja mengambil kertas kemudian menuliskan alamat kontrakan Alea, hal itu membuat Rocky tersenyum lega. Dengan begini dia punya alasan berkunjung ke kontrakan Alea. Jika tidak gengsi, dia bisa saja langsung berkunjung karena tahu di mana wanita itu tinggal.


Rocky beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan anak cabang perusahaan. Dia melajukan mobilnya secara perlahan lantaran jarak kantor dan kontrakan tidak terlalu jauh. Pria itu menghentikan mobilnya pada rumah dua lantai di mana Alea tinggal. Rumah tersebut khusus perempuan, tetapi tidak ada aturan kunjung untuk pria, dalam artian semua penghuni kontrakan bebas membawa pasangan masing-masing.


Rocky turun dari mobilnya bertepatan orang yang selalu dia suruh untuk memantau Alea pun tiba di sana. Sebelum memasuki rumah berlantai dua tersebut, dia berbicara dengan pria yang selalu mengenakan topi dan kamera di lehernya.


"Kau sudah tahu apa hasilnya?" tanya Rocky dengan tatapan masih tertuju pada bangunan.


"Tidak, Tuan, tetapi kemarin saya mendengar teriakan dari dalam kamar nona Alea. Pagi harinya nona Alea tidak keluar lagi untuk bekerja, bahkan untuk memasak buat sarapan di dapur umum tidak nona lakukan," jelas pria itu.


"Pergilah!" usir Rocky. Pria itu mulai melangkahkan kakinya memasuki pagar rumah berlantai dua tersebut. Dia mendorong pintu yang sepertinya tidak dikunci jika pagi hari. Kaki panjang Rocky terus melangkah hingga akhirnya tiba di depan sebuah kamar sesuai instruksi Aryo maupun orang suruhannya. Kebetulan kontrakan Alea ada di lantai bawah, sehingga Rocky tidak perlu repot-repot menapaki anak tangga yang akan membuatnya kegerahan.

__ADS_1


Rocky mengetuk pintu dengan ragu, tetapi ketukan itu berhasil mengambil perhatian Alea yang bersandar di kaki ranjangnya. Wanita itu sedang menunggu obat yang dia pesan datang yang kebetulan ada di wilayah tersebut. Alea segera beranjak dari duduknya, berharap yang datang adalah tukang paket, tetapi harapannya sirna setelah berhasil membuka pintu tersebut.


Tubuh Alea menegang, tangannya refleks mengepal ketika melihat siapa pria yang berdiri di depan pintu. Raut wajah marah bercampur benci adalah hal pertama yang dia perlihatkan.


"Saya tidak menerima tamu!" Alea mendorong pintu sangat keras, tetapi anehnya dia tidak mendengar suara pintu dibanting. Wanita itu membalik tubuhnya untuk memastikan apa yang terjadi.


Ternyata pintu yang dia dorong dengan keras tidak rapat lantaran ada lengan Rocky di antara pintu dan penyanggahnya.


"Apa kau tidak mendengar apa yang saya katakan?!" bentak Alea.


Wanita itu tidak memedulikan tubuh dan rambutnya yang acak-acakan juga penampilan layaknya orang gila. Berbeda dengan Rocky yang sejak tadi memperhatikan hal tersebut, sampai tidak merasakan sakit di lengannya karena jepitan pintu lumayan keras.


Rocky memutar tubuhnya untuk memperhatikan tempat yang bahkan disebut kamar saja tidak layak karena terlalu sempit. Tatapan pria itu terhenti pada benda yang terselip di kaki ranjang. Benda persegi panjang yang menampilkan dua garis merah samar.


"Kau hamil?" tanya Rocky tanpa basa-basi.


Alea yang ditanya hanya mematung di depan pintu, gadis itu tidak berani mendekat. Bayangan saat Rocky menjamah tubuhnya terus menari-nari di pikiran Alea, sehingga rasa benci semakin terpupuk setiap menitnya.

__ADS_1


Sementara Rocky yang ditatap penuh kebencian tampak tidak peduli, dia malah berjongkok untuk mengambil tespek tersebut lalu memperlihatkan pada Alea.


"Kau hamil anak saya bukan?" tanya Rocky sekali lagi.


"Tidak!" jawab Alea tegas.


"Bohong, jelas-jelas ini buktinya."


Alea tertawa. "Hamil anak mu? Bahkan hewan saja tidak sudi mengandung benih pria brengsek sepertimu Tuan Rocky!" teriak Alea dengan mata memerah. "Bahkan jika saya hamil sekalipun, saya akan menggugurkan kandungannya meski nyawa saya taruhannya," lanjutnya.


"Alea! Dengarkan saya! Jangan bertindak bodoh hanya karena kamu membenci saya," pintai Rocky.


"Pergi!" bentak Alea.


"Saya akan tanggung jawab, jadi tenanglah!" bujuk Rocky.


"Saya tidak membutuhkan tanggung jawab kamu, jadi pergilah sebelum saya berteriak maling!" ancam Alea.

__ADS_1


Wanita itu terus bergerak mengitari dinding hanya untuk mencapai boks tempat alat-alat tajam kecil, seperti gunting, potong kuku dan silet. Merasa mempunyai kesempatan, Alea langsung mengambil salah satu dari benda itu kemudian mengarahkan pada Rocky.


"Pergi dari sini atau saya akan membunuh kamu dan saya sekalian!"


__ADS_2