Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 84


__ADS_3

Senyuman Cakra mengembang ketika membuka pintu kamar hotel dan mendapati istrinya duduk di pinggir ranjang.


Cakra baru saja dari salon bersama Liam untuk persiapan acara untuk malam nanti. Saat pulang, dia tidak menyangka akan mendapati bidadari tidak bersayap di kamar hotel.


"Liam, lihatlah kita kedatangan bidadari Nak," ucap Cakra berjalan mendekati Liora yang tengah menunduk. Entah karena malu atau mengantuk.


"Dadali, Mama?" tanya Liam dan di balas anggukan kepala oleh Cakra, sementara yang di puji semakin menundukkan kepalanya karena malu.


Untung saja warna blash on mampu menutupi rona merah di wajah cantik Liora.


"Jangan nunduk Sayang, mahkota kamu hampir jatuh," ucap Cakra bercanda.


"Apaansih Mas, aku malu," lirih Liora. "Yang ulang tahun Liam bukan aku, kenapa yang didandani aku?" Liora perlahan-lahan mendongak ketika Cakra menarik dagunya.


Mata wanita cantik itu membulat sempurna melihat wajah tampan Liam dan Cakra yang memakai jas senada.


"Kenapa? Apa kita terlihat keren?" tanya Cakra memasang pose keren di ikuti oleh Liam.


"Tata Papa Liam tanteng," ucap Liam bertepuk tangan ria.


Liora tersenyum melihatnya. Hari ini Cakra dan Liam sangat mirip, yang membedakan hanya ukuran badan saja.


"Berhenti terpesona seperti itu Sayang. Mas tahu, mas itu sangat tampan dan kaya raya," sombong Cakra membuat Liora mencebik, tapi itu tidak mampu mengurangi kecantikan istrinya Cakra.

__ADS_1


Karena hari yang mulai gelap dan Cakra sudah mendapat kabar dari Eril bahwa semuanya sudah selesai.


Cakra mengajak Liora dan Liam untuk pukang ke istana mereka. Tentu saja di dampingi oleh beberapa pengawal atas perintah Rocky.


Walau Brian sudah dipenjara, tidak menutup kemungkinan ada musuh lain yang akan menyerang. Misalnya lawan bisnis Cakra, bisa saja mereka menggunakan Liam dan Liora sebagai kelemahan CEO yang tidak terkalahkan dalam dunia bisnis.


Sepanjang jalan menuju rumah, aktivitas Cakra hanya meremas tangan Liora dan sesekali mengecupnya.


"Apa kamu sudah menyiapkan hadiah untuk putra kita?" tanya Cakra setelah terjadi keheningan di dalam mobil karena pemilik pesta tertidur dalam perjalanan.


Jika ada yang namanya putra tidur, maka Liam akan menyandang gelar itu. Apapun kondisi dan situasi, Liam selalu saja tertidur jika di ajak bepergian menggunakan mobil.


Kembali pada Liora dan Cakra yang saling melempar tatapan penuh cinta. Liora menganggukan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Tentu saja aku punya hadiah untuk Liam, yang mungkin saja kamu juga menyukainya," jawab Liora.


"Ish sabar Papa," ucap Liora.


Karena berbicara selama perjalanan, Liora dan Cakra tidak merasakan jauhnya berkendara hingga kini sampai di rumah tempat mereka tinggal dan membuat kenangan indah.


Rocky turun lebih dulu untuk membantu Cakra membukakan pintu karena mengendong Liam yang tengah tertidur.


"Saya akan mengendong ...."

__ADS_1


"Tidak perlu, jika kau ingin anak mengemaskan maka menikahlah juga!" sarkas Cakra tanpa ingin menyerahkan Liam pada Rocky.


Liora yang berdiri di belakang Rocky hanya bisa menghela nafas panjang.


"Maafin mas Cakra ya Ky," ucap Liora tidak enak.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya sudah biasa," jawab Rocky. "Mari." Rocky mengikuti langkah Liora dan Cakra dari belakang sampai memasuki rumah mewah yang di sulap menjadi istana balon.


Mulai dari pintu hingga ruang tamu yang sangat luas dihiasi balon yang membentuk sangat indah.


Di ujung sana tepat dimana sofa dulunya berada, terbangun sebuah balon membentuk istana yang dihias dengan indah.


Liam yang sudah terbangun sejak turun dari mobil langsung bertepuk tangan riang melihatnya.


"Bayon Mama!" pekik Liam meronta ingin diturunkan.


Saat kaki kecil yang beralaskan sepatu pentofel mahal menyentuh lantai, dia segera berlari menghampiri lautan balon dan melompat girang.


"Yey Liam unya bayak bayon!" teriaknya penuh kebahagian.


Sayang, liam hanya seorang diri tanpa ada teman yang ikut memeriahkan.


"Cantik banget Mas dekorasinya, sesuai selera Liam," puji Liora dengan senyuman yang tidak pernah pudar sebelumnya.

__ADS_1


Ketika Liora akan berjalan mendekati Liam yang asik bermain di antara balon-balon, lampu padam hingga suasana menjadi gelap gulita.


"Liam!"


__ADS_2