
Rahma hendak berdiri ingin membukakan pintu untuk suaminya, tetapi wanita itu mengurungkan niatnya ketika melihat seseorang yang turun dari mobil bukanlah Eril. Wanita itu semakin mengerutkan keningnya, tidak lupa menutup horden rumah padahal tamu dari luar tidak akan melihatnya.
Suara ketukan pintu yang terdengar berulang kali membuat Rahma mau tidak mau berlari ke kamar untuk mengambil hijab panjangnya, kemudian membuka pintu. Dia takut kalau saja yang bertamu adalah orang penting yang ingin bertanya sesuatu. Rahma membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan berdiri di sana.
"Maaf, Tuan, Anda mencari siapa?" tanya Rahma sopan.
Tetapi yang ditanya hanya berdiri sambil menatap Rahma dari atas sampai bawah, terlebih wanita itu sedang menunduk seakan tidak ingin melihat wajahnya. Pria itu tersenyum setelah memastikan wanita di hadapannya benar-benar wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya beberapa bulan yang lalu.
"Kamu tidak mengenali saya?" tanya Zayn.
Rahma yang mendengar pertanyaan itu segera mengelengkan kepalanya. Tatapan Rahma hanya tertuju pada tangan kekar pria yang berdiri tegap di hadapannya. Kening wanita itu mengerut ketika melihat tato di pegelangan tangan bagian dalam Zayn.
"Tidak, dia bukan pria itu," batin Rahma melangkah mundur, jantungnya berdetak tidak karuan sekarang. Dia takut dan ingin menangis setelah sadar pria yang ada di hadapannya adalah pria yang telah membuatnya hidup menderita.
Rahma bisa mengenali pria itu bahkan tanpa melihat wajahnya, lantaran tato kalajengking di pergelangan Zayn menjelaskan semuanya.
"Nama kamu Rahma bukan? Apa kabar? Saya datang ke sini ingin bertemu dan membicarakan sesuatu. Boleh saya masuk?" Izin Zayn ketika melihat Rahma diam saja.
__ADS_1
"Ma-maf Tuan, tapi saya tidak menerima tamu tanpa kehadiran suami saya, terlebih seorang pria," sahut Rahma dengan suara bergetarnya. Tulang -tulang wanita itu seakan melunak karena ketakutan. Dia terus melangkah mundur dan berlari masuk ke kamarnya, bersembunyi di sana setelah mengunci kamar. Dia bersandar di balik pintu sambil memeluk tubuhnya yang bergetar hebat.
Kejadian malam itu membuat Rahma trauma dan ketakutan sampai sekarang. Terlebih siksaan yang Zayn berikan padanya masih membekas hingga sekarang.
"Ma-mas Eril," lirih Rahma mengigit bibir bawahnya. "Ak-aku takut."
"Nona, keluarlah! Jangan uji kesabaran saya! Saya datang untuk mempertanggungjawabkan semuanya! Nona jika dalam hitungan ke tiga anda tidak keluar, maka saya akan masuk ke rumah kumuh ini!" teriak Zayn cukup keras dan itu semakin menambah ketakutan Rahma.
Suara itu pula berhasil membangunkan dua malaikat kecil yang ada di atas ranjang. Keduanya menangis histeris, tetapi tubuh Rahma enggang bergerak karena rasa takutnya.
***
Eril meletakkan dua kotak berisi kresek tersebut di jok samping kemudi setelah berada di dalam mobil. Dia melajukan benda besi beroda empat itu membelah padanya jalan raya setelah memastikan semua perlengkapan makan siangnya telah lengkap.
"Pasti Rahma suka sama Sate ayam yang aku beli," gumam Eril.
Pria itu terus fokus pada jalanan yang mulai padat akan pengedara hingga akhirnya sampai di depan kontrakan istrinya. Dia memarkirkan mobil di pinggir jalan, lantaran ada mobil di halaman kontrakan. Kening pria itu mengerut, buru-buru turun dari mobilnya saat melihat pria dengan rambut diikat sedang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Tuan, Zayn?" tebak Eril. Pria itu bisa menebaknya lantaran mengenali salah satu pengawal Zayn.
Pria berambut panjang itu segera membalik tubuhnya ketika mendengar suaranya di sebut. Dia sedikit terkejut mendapati salah satu tangan kanan Cakra ada di rumah ini.
"Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Zayn.
Eril tertawa. "Bukankah pertanyaan itu harusnya saya layangkan, Tuan Zayn? Ada apa anda datang ke rumah saya dan istri saya?" jawab Eril berhasil membuat Zayn terdiam. "Seharusnya jika itu urusan pekerjaan, Adan menghubungi saya!"
"Jadi dia suaminya? Sial, lagi-lagi saya harus berurusan dengan mereka," batin Zayn dengan tangan mengepal. Tanpa menjawab pertanyaan Eril, pria itu bergegas meninggalkan kontrakan tersebut.
Eril hendak mengejar untuk memperjelas apa tujuan Zayn, tetapi urung ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam rumah. Alih-alih meneruskan langkahnya, Eril berbalik memasuki rumah. Tidak lupa menutup pintu karena Rahma sering kali hanya memakai hijab sebatas dada jika di dalam rumah.
"Rahma?" panggil Eril mengetuk pintu kamar yang terkunci, sementara di dalam sana suara tangisan dua malaikatnya terdengar sangat pilu. "Sayang, kamu di dalam kan?" panggilnya sekali lagi.
Rahma yang mendengar suara suaminya, segera bergeming, dengan tangan bergetar, wanita itu meraih handel pintu hingga benda persegi panjang itu bisa dibuka dari luar. Saat itulah Eril menerobos masuk ke kamar dan mendapati Arumi duduk di pinggir ranjang sambil menghadap Rahma, balita itu menangis. Begitpun dengan Arhan yang berada di dekat tembok. Untung saja resiko untuk kedua terjatuh sangat minim, lantaran Eril telah membeli pembatas ranjang khusus si kecil.
Tatapan Eril terakhir tertuju pada Rahma yang memeluk tubuhnya dengan berlinangan air mata. Alih-alih mendekati anak-anaknya, Eril malah berlutut di depan istrinya yang tampak ketakutan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?"
"Am-ambil anak-anak Mas. Dia sudah lama menangis," jawab Rahma yang tubuhnya seakan terkunci.