
"Iya, saya akan kesana sekarang!" ucap Eril dan memutuskan sambungan telpon.
Liora yang melihat raut wajah serius nan tegang Eril langsung saja menghampiri setelah memastikan telpon sudah mati.
"Eril, apa yang terjadi dan telpon dari siapa itu?" tanya Liora dengan raut wajah penasaran.
"Dari polisi Nyonya. Nona Rissa terpleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan," jawab Eril.
Laki-laki itu menurunkan Liam dari gendongannya, tidak lupa mengusap kepala anak kecil tersebut. "Om tinggal bentar ya Tuan Muda," ucapnya.
"Aku ikut!" pinta Liora.
"Maaf Nyonya saya nggak bisa bawa Anda, apalagi tengah hamil muda. Anda pergi bersama Tuan Cakra saja," tolak Eril halus karena tidak ingin mengambil resiko.
Dia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata menuju rumah sakit yang telah diberitahukan polisi tadi. Jantung Eril berpacu sangat cepat padahal Rissa bukanlah siapa-siapa baginya.
Rasa khawatir tiba-tiba menghampiri hati Eril, mungkin karena rasa kasihan yang dia miliki terlalu tinggi pada siapapun termasuk perempuan.
Baru saja dia akan bersenang-senang dan menata pikirannya, masalah kembali datang menghampiri. Ck, Eril tidak suka dengan masalah.
Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di basemen rumah sakit, lalu berjalan terburu-buru menuju IGD di mana Rissa sekarang berada.
Seraya melewati lalu lalang pengunjung rumah sakit, Eril mengabari tentang hal ini pada kakaknya.
***
"Mas, ayo kita kerumah sakit sekarang!" ajak Liora dengan raut wajah khawatir. Melahirkan normal tanpa suami saja sudah sangat sulit, apa lagi terjadi pendarahan. Itulah mengapa Liora ingin mendampingi mantan pacar suaminya. Bagaimanapun dalam perut Rissa adalah keponakanya, meski tidak sedarah.
__ADS_1
"Sayang, tenanglah dulu!" bujuk Cakra.
Cakra baru saja pulang dan memang berniat menjemput Liora kerumah sakit, tapi tidak seburu-buru ini. Lagi pula sudah ada Eril yang mendampingi.
"Mas?"
"Sayang, jangan panik. Minum dulu!" perintah Cakra. Laki-laki tampan itu meraih gelas berisi air yang dibawa oleh pelayan.
Liora langsung saja meneguknya hingga tandas. Panik membuatnya kehausan.
"Ayo!"
"Ck," decak Cakra mulai kesal. Bumilnya sangat keras kepala dan memetingkan kondisi orang lain saja.
"Liam mana?" tanya Cakra.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Cakra menarik tangan Liora lembut untuk keluar dari rumah. Sepanjang jalan, Liora duduk tidak tenang karena memikirkan kondisi Rissa dan bayinya. Terus berdoa di dalam hati agar semua baik-baik saja.
"Huh, kenapa harus macet sih?" kesal Liora menyandarkan kepalanya pada jok mobil.
Cakra hanya melirik sekilas lalu memberikan benda pipih pada istrinya. "Telpon Eril dan tanyakan bagaimana kabar Rissa sekarang!" ujar Cakra memberi solusi.
"Mas benar juga." Dengan sigap Liora langsung saja menghubungi Eril.
"Tuan, saya ...."
"Bagaimana kondisi mbak Rissa, Eril? Apa dia dan bayinya baik-baik saja?" tanya Liora tanpa membiarkan Eril bicara lebih dulu.
__ADS_1
Wanita berbadan dua tersebut mengerak-gerakkan kakinya karena tidak tenang.
"Dia baik-baik saja Nyonya dan sedang berada di ruang operasi!" Bukan, itu bukan suara Eril melainkan Rocky, entah kenapa ponsel Eril ada pada laki-laki licik tersebut.
"Kamu nggak bohong?"
"Nggak nyonya."
Liora bernafas lega mendengar hal tersebut, dia segera menutup panggilannya.
"Syukurlah Mas, mbak Rissa nggak kenapa-napa."
***
Eril merebut kembali ponselnya di tangan Rokcy, jangan lupakan tatapan kesal Eril pada kakaknya itu.
"Bang, kok bohong sama Nyonya?" tanya Eril dengan nada tidak suka. "Jelas-jelas kondisi Nona Rissa jauh dari kata baik-baik saja. Melakukan operasi caesar nggak jamin dia hidup, kenapa malah ngomong baik-baik aja?"
"Terus saya harus gimana? Menceritakan yang sebenarnya agar nyonya Liora mendesak Tuan Cakra? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mereka berdua? Ada atau nggaknya mereka di sini, kalau Rissa mau hidup ya hidup, begitupun sebaliknyaa" balas Rocky membuat Eril mengangga tidak percaya.
"Ah sudahlah, Bang Rocky memang aneh jadi manusia!" kesal Eril.
Tak
Eril mengusap kepalanya karena baru saja mendapat gamparan dari sang kakak.
"Untung Eril sabar punya Abang kayak Bang Rocky, kalau nggak ...." Eril menelan salivanya melihat tatapan Rocky.
__ADS_1