
Raut wajah Liam tadinya riang, berubah menjadi masam lantaran sang papa tidak kunjung menemukannya, padahal sejak tadi bocah itu mendengarkan papanya berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Bocah itu mendorong pinggang Eril yang diam mematung seakan memikirkan sesuatu.
"Om Eyil pelgi!" ucap Liam dengan bibir manyunnya. Eril yang didorong lantas berpindah tempat, bertepatan Cakra membalik tubuhnya usai bercerita dengan Rocky.
Pria tampan nan arogan itu bersedekap dada sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah asisten juga putranya yang 11, 12. Ini kah pria yang katanya jatuh cinta pada seseorang wanita? Cakra menolak percaya akan hal itu. Cakra mendekati keduanya seraya bertepuk tangan.
"Bagus, sekarang kamu sudah berani ngerjain saya!" Cakra menaikan salah satu alisnya dan menatap Eril tajam. Sementara yang ditatap langsung menunduk. Melawan Cakra atau mencari pembelaan adalah hal yang sangat mustahil dilakukan oleh Eril ataupun yang lainnya. Perlawanan itu hanya berlaku untuk Tuan muda juga Nyonya Alexsander.
"Hadap tembok!" perintah Cakra.
__ADS_1
Eril langsung berjalan menuju tembok, kemudian menatap tembok itu. Tidak lupa dia memaki dalam hati lantaran selalu salah di mata Cakra. Sedangkan Liam, bocah itu berkacak pinggang pada papanya.
"Liam bunyi, papa nda nyali Liam!" ucapnnya dengan bibir manyun.
"Nggak ada yang boleh main sembunyi-sembunyi di rumah ini, terutama Liam. Kalau misal Liam ketiduran, terus nggak ada yang liat gimana? Mama sama Papa pasti sedih," ujar Cakra mengendong putra pertamanya.
"Cama Om Eyil." Liam menunjuk Eril yang masih menghadap tembok. Bisa dibilang Liam lebih dekat dengan Eril dengan banyak alasan, salah satunya bebas bermain tanpa ada larangan seperti yang dilakukan Cakra. "Liam mau om Eyil." Bocah itu meronta dari gendongan Cakra.
"Eril, lain kali jangan turuti keinginan Liam yang tidak masuk akal."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Eril menganggukkan kepalanya dan membawa Liam pergi dari taman, begitupun dengan Cakra yang menuju kamar untuk menemui sang istri. Sebentar malam dia akan pergi, meninggalkan istri dan putranya. Sebenarnya Cakra tidak mempercayai seseorang selain Rocky dan Eril untuk menjaga keselamatana keluarganya, itulah mengapa dia selalu takut.
"Sayang?" panggil Cakra ketika melihat Liora membuka mata. Pria itu duduk di sisi ranjang. "Kenapa nggak jadi tidur?" tanyanya.
"Ngantuk tapi nggak bisa tidur, aku ngak tau ke napa. Jantung aku tiba-tiba berdetak tidak normal padahal dari tadi hanya berbaring."
"Palingan cemas tentang kehamilan. Jangan terlalu dipikirkan!" guma Cakra. Pria itu memeluk istrinya, mengelus punggung tangan Liora yang terasa dingin. "Nanti malam mas ada pekerjaan ke luar kota, hanya sebentar, mungkin siang atau sore pulang nemenin kalian," lanjut Cakra.
Liora mendongak, wanita itu seakan ragu untuk membiarkan suaminya pergi malam ini terlebih cuaca sedang buruk. "Besok aja ya?" tawar Liora tetapi dijawab gelengan oleh Cakra.
__ADS_1
"Kalau berangkatnya besok, bisa-bisa mas pulangnya tengah malam. Lebih baik hari ini. Lagian mas mau cepat-cepat selesain semuanya sebelum waktu caesar kamu tiba."
Liora menghela napas panjang. "Baiklah terserah mas aja, tapi mas harus pulang sebelum aku operasi. Aku nggak mau melahirkan tanpa suami lagi seperti dulu."