
"Jangan tidur Lio," ucap Wildan terus mengenggam tangan Liora yang terus merintih kesakitan.
Namun, Liora tidak mendengarkan, wanita itu tetap memejamkan matanya karena tidak tahan dengan rasa sakit.
"Mas, jangan di biarkan tidur istrinya!" tegur bidan, yang memeriksa jalan lahir, sudah pembukaan delapan, tetapi Liora tidak mampu mengedang, rasa sakit jauh lebih besar.
Suara tamparan mengema di ruangan persalinan. Wildan menampar Liora lumayan keras, membuat wanita itu kembali membuka matanya.
"Jangan tidur, kamu sama anak kamu harus selamat, maaf nampar kamu," lirih Wildan merasa bersalah setelah menampar Liora, tapi apa boleh buat hanya itu salah satu cara agar Liora tidak tidur.
***
Proses persalinan berjalan lancar, Liora dan anaknya selamat berkat Wildan yang selalu setia berada di samping Liora. Laki-laki itu tidak memperdulikan ibunya yang terus menelpon dan menyuruhnya pulang.
Wildan tekejut melihat kedatangan ibunya. "Pulang, Liora bukan urusan kamu!" ujar bu Firda menarik tangan Wildan keluar dari puskesmas yang tidak terlalu besar itu.
"Nyak, Liora nggak punya siapa-siapa di sini, suaminya juga jauh, punya hati dikit bisa?"
"Nyak sekolahin kamu tinggi-tinggi bukan untuk melawan Wildan! Jangan karena perempuan itu kamu berani sama Nyak!" bentak Firda.
Untung saja puskesmas sedang sepi, sebab sudah jam 3 dini hari. Semua orang sedang asik tidur.
"Sekarang anak dia sudah lahir, jangan berurusan dengannya!"
__ADS_1
Lagi, Wildan menghempaskan tangan ibunya. "Sampai kapan Nyak bakal batasin aku? Bukannya keinginan Nyak udah terkabul? Aku nggak jadi nikah sama Liora, jadi plis kali ini aja, biarin aku nemenin Liora setidaknya sampai dia pulang kerumah."
"Kalau nyak bilang nggak ya nggak Wildan! Dia itu bukan perempuan baik-baik dan nggak sederajat sama kita!"
Karena tidak ingin memperkeruh suasana, akhirnya Wildan mengkuti keinginan ibunya.
Sementara di ruangan yang tidak terlalu luas itu, seorang wanita tengah berbaring seraya memeluk buah hatinya.
"Anaknya ganteng banget bu, pasti mirip bapaknya," ucap perawat yang membantu Liora.
Liora hanya senyum kikuk menanggapi ucapan perawat tersebut, dia memperhatikan wajah putranya. Benar-benar mirip Cakra.
Bagaimana dia akan melupakan laki-laki itu sekarang? Secara setiap kali dia melihat anaknya, pasti bayangan Cakra akan terlintas di pikirannya.
***
Cara mengasuh anak, memandikan dan sebagainya. Tidak lupa membawa baju bekas cucunya yang sudah kecil.
"Anak kamu mirip Wildan, Nak. Suami kamu udah tau belum kamu udah lahiran? Pasti dia senang," ujar bu Fatimah memangku anak Liora.
"Belum bu," lirih Liora.
"Nomornya udah aktif?"
__ADS_1
"Belum bu."
Liora mendongak merasakan elusan di pundaknya. "Kamu ada masalah kan sama suami kamu?" tebak bu Fatimah.
"Kata suami saya, suami kamu di kota banyak yang nanyain, sepertinya suami kamu memang dari kota. Apa mungkin ada hubungannya kenapa dia nggak ada kabar?"
Liora kembali menunduk, matanya berkaca-kaca, dia tidak ingin bu Fatimah tahu masalahnya, tetapi sepertinya wanita paruh baya itu terlalu peka akan keadaanya.
"Kalau nggak mau cerita nggak papa di simpan sendiri aja Nak. Saya cuma mau bilang, yang sabar ya, kalau memang tebakan saya benar, anggap saja sebagai ujian. Kalau kalian memang berjodoh suatu hari nanti pasti ketemu, entah dia yang datang, atau sesuatu hal yang membuat kalian bertemu, kalau bukan jodoh, mungkin dia bukan yang terbaik untuk kamu Nak."
"Jangan sedih kamu nggak sendiri, ada saya. Kalau ada apa-apa datang aja kerumah, ibu sudah anggap kamu anak Anak."
"Makasih bu."
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiahπ₯°πππππππΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
__ADS_1