Tuan Muda Amnesia

Tuan Muda Amnesia
Part 116 ~ Pesawat Alexander


__ADS_3

Jarum jam telah menunjukkan angka 11 malam, tetapi Liora belum juga tidur. Wanita berbadan tiga itu duduk di meja riasnya, memperhatikan ponsel lantaran menunggu pesan ataupun telpon dari sang suami. Sudah terhitung tiga jam lamanya Cakra pergi, bukankah sudah seharusnya sampai di Bali, baik itu di bandara? Namun, kenapa Cakra belum menghubunginya?


Liora menghela napas panjang, wanita itu bangkit dari duduknya dan keluar kamar. Dia berencana akan ke kamar putra nakalnya untuk tidur bersama. Lagi pula Liora tidak mungkin tidur sendiri, Cakra tidak membiarkan hal itu terjadi. Liora menghentikan langkahnya di depan kamar Liam, ketika melihat Eril dari lantai bawah, berjalan terburu-buru dengan raut wajah yang bisa dibilang sangat cemas.


Merasa Eril ingin menemuinya, dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar Liam. Liora tersenyum setelah Eril sampai di hadapannya.


"Sudah jam 11 malam, tapi kamu belum pulang juga, ada apa?" tanya Liora.


Eril terdiam sejenak, pria itu sibuk mengatur ritme jantungnya yang tiba-tiba tidak terkendali setelah melihat berita di Tv.

__ADS_1


"Eril?" panggil Liora karena Eril tidak kunjung bicara.


"Maaf harus menyampaikan kabar buruk ini, Nyonya ...." Eril mengingit bibirnya sebelum kembali bicara, dia sebenarnya tidak ingin membagikan berita buruk, tetapi dia juga takut. Terlebih di dalam pesawat itu ada kakaknya. "Pesawat pribadi Alexander group hilang kendali dan sekarang tidak ditemukan keberadaanya," ucapnya cepat.


"Ma-maksud kamu?"


"Cuaca yang buruk membuat beberapa pesawat kehilangan jejak, termasuk pesawat yang ditumpangi tuan Cakra dan Rocky. Harusnya mereka sampai setengah jam yang lalu, tetapi tidak ada kabar tentang landingnya pesawat di kota manapun."


"N-nyonya." Erik semakin panik ketika ringisan Liora semakin terdengar.

__ADS_1


"Eril, cari suami saya! Dia belum berangkat, itu pasti!" pinta Liora di tengah rasa sakit yang dia derita.


Rasanya dia ingin mengeluarkan sesuatu di bagian intinya. Pinggang wanita itu merasakan sakit yang teramat hebat. "Er-eril saya-saya sepertinya akan melahirkan!" Erang Liora di depan pintu kamar. Wanita itu meselojorkan kakinya sambil bersandar pada tembok. Tangan dan kaki yang membengkak membuat dia semakin susah untuk bergerak.


"Ah sial, kenapa harus bertepatan seperti ini!" Eril memanggil beberapa pelayan perempuan untuk membantu Liora berjalan menuju mobil. Dia tidak punya keberanian besar untuk menyentuh istri tuannya meski seujung kuku.


"Lebih cepat lagi!" teriak Eril pada pelayan.


Liora berjalan terseok-seok menuju mobil, sementara Eril sibuk menelpon dokter pribadi wanita itu untuk mempersiapkan segalanya. Setelah menangani Liora, Eril menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang pesawat pribadi Alexander Group juga Cakra dan Rocky. Keringat dingin sudah membasahi tubuh pria itu sakin paniknya.

__ADS_1


Di usia 23 tahun, Eril harus menghadapi hal-hal besar. Seperti menemani orang melahirkan dan mengurus peristiwa sangat buruk tentang kakaknya. Eril berharap Rocky selamat, atau dia akan hidup sebatang kara.


"Mas Cakra!" erang Liora di atas mobil. Sesekali wanita itu mengedang, rasa sakitnya campur aduk saat ini. Terutama dia sedang kalut memikirkan kondisi suaminya. "Saya nggak mau melahirkan tanpa dampingan mas Cakra, Eril! Dia harus balik apapun yang terjadi!"


__ADS_2