
Jika Eril sedang sibuk mengurus berbagai hal karena berita itu, maka berbeda dengan Rocky dan Cakra yang kini berada di anak perusahaan. Kedua pria itu sedang mengadakan meeting dadakan, sayangnya sebelum meeting selesai, listri mati hingga membuat anak cabang perusahaan gelap gulita. Hujan yang deras membawa guntur dan kilat, mengakibatkan jaringan pun ikut menghilang, terlebih angin berhembus kencang.
Cakra yang mulai gusar, melonggarkan dasi di lehernya. Laptop yang tadinya menampilkan beberapa wajah orang, lantaran meeting online, kini menghilang akibat jaringan.
"Sial!" Cakra mulai emosi, terlebih sudah setengah jam berlalu listrik tidak kunjung menyala. Pria itu melirik asistennya yang baru saja memasuki ruangan.
"Apa kau sudah menghubungi istri saya? Dia tidak akan tidur sebelum tahu kabar saya yang sebenarnya!" tanya Cakra.
"Maaf Tuan, tidak ada jaringan di sekitar sini," jawab Rocky.
__ADS_1
Cakra menghela napas panjang, pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Di belakang pria itu ada manager anak cabang yang setia menemani. Manager tersebut membawa senter untuk menerangi jalan Cakra yang kini mode singa. Salah sedikit saja, maka pria arongan itu benar-benar mengamuk.
"Kita pulang sekarang!"
"Area sekitar sini sedang banjir, Tuan. Jika nekat, saya takut terjadi sesuatu pada ...."
Cakra tidak jadi berangkat ke Bali lantaran cuaca yang sedang buruk, juga pihak dari sana menerima perwakilan untuk membicarakan semuanya setelah membujuk cukup lama. Itulah mengapa Cakra hanya mengutus salah satu manager penanggung jawab yang ada di perusahaan pusat. Sampai saat ini, baik Cakra ataupun Rocky, belum tahu tentang berita pesawat pribadi yang hilang. Terlebih Cakra mengunjungi anak cabang yang cukup jauh dari kota.
Pria itu melepaskan cengkraman tangannya dari kerah kemaja Rocky, detik itu juga, asisten Cakra segera berlari menerobos hujan untuk mengambil mobil yang terpakir di depan perusahaan anak cabang. Jika tadi yang mengendarai mobil adalah sopir pribadi, kali ini Rocky yang mengambil alih, lantaran dia sudah menyuruh sang sopir pulang setelah keberangkatan batal.
__ADS_1
Rocky membuka pintu setelah memarkirkan mobil tepat di hadapan Cakra. Turun dari mobil hanya untuk membubukan pada tuannya yang kini suasana hatinya sedang tidak baik, akibat banyak alasan. Jaringan, meeting yang tertunda, juga jauh dari pawangnya. Selama Liora hamil, hampir tidak pernah Cakra jauh dari wanita cantik baik hati tersebut.
Rocky melajukan mobil dengan kecepatan pelan, menerobos hujan lebat di antara banjir yang sedang melanda. Sesekali pria itu melirik Cakra yang tengah bersandar pada jok mobil dengan tatapan tertuju pada layar ponsel. Cakra sedang memperhatikan grafik jaringan, berharap segera menemukan hal gaib itu agar bisa memastikan kondisi istrinya di kota.
"Berapa lama lagi kita bisa keluar dari sini? Saya yakin di Kota tidak mati lampu!"
"Sekitar 15 menit, Tuan," jawab Rocky.
"Saya ingin berada di kota dalam waktu 10 menit," tawar Cakra dengan wajah datarnya. Sambil menunggu jaringan muncul, Cakra mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan wajah cantik sang istri beserta putra kecilnya. Tidak sadar, sudut bibir pria itu tertarik, membayangkan satu minggu lagi dia akan menjadi seorang papa dari tiga malaikat kecil. Sudah pasti salah satu jenis kelamin di perut istrinya dalah baby boy, satunya lagi tidak dapat diprediksi oleh dokter.
__ADS_1