
Eril langsung menjauhkan tangannya dari Liora. Laki-laki itu juga tidak tahu bahwa Liora akan memegang tangannya di depan Cakra.
"Benar-benar Nyonya Liora mau membunuh saya pelan-pelan," bantin Eril mengusap pundaknya yang baru saja ditabrak oleh Cakra.
"Jangan sentuh-sentuh istri saya!" ancam Cakra sebelum berlalu.
Suana hati laki-laki tampan itu sudah kusut sejak tadi tapi malah dibuat kusut oleh Eril baru-baru saja.
Cakra menarik tangan Liora menuju halaman depan, mengelurkan motor warna pink di garasi tanpa bantuan siapapun, tidak lupa memanaskannya sebentar.
"Dah mas Cakra, hati-hati!" teriak Liora melambaikan tangannya.
Cakra sontak membuka kaca helm warna pink tersebut. "Iya Sayang." Dia bahkan menampilkan senyum setulus mungkin agar menyenangkan hati istrinya.
Laki-laki tampan itu mulai meninggalkan pekarangan rumah untuk mencari ojek online di sekitar jalan raya. Sesekali Cakra melirik kebelakang di mana mobil hitam tengah mengikuti.
Cakra berhenti di pinggir jalan ketika melihat tukang ojek dengan seragam lengkap. Dia turun dari motor kemudian menghampiri pria paruh baya tersebut.
"Bisa saya pinjam seragamnya? Saya akan memberi uang sebagai gantinya!" pinta Cakra tanpa sopan santun padahal yang di ajak bicara jauh lebih tua.
"Saya tidak butuh uang Anda Tuan Arogant, pergilah!" usir bapak-bapak tersebut. Mungkin tidak suka dengan perkataan Cakra.
__ADS_1
"Arogant?" Cakra tertawa. "Bukannya Anda? Saya hanya meminta seragam tapi jawabannya seperti itu. Padahal seragamnya cuma tukang ojek sombongnya minta ampun."
Liora yang melihat dari kejauhan bersama Eril segera turun dan menghampiri Cakra. Wanita itu samar-samar masih mendengar percakapan Cakra dengan pria yang seumuran dengan pak soleh.
"Maafin suami saya ya pak, maaf banget," ucap Liora langsung menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Lain kali suaminya diajarin sopan santung neng. Saya memang tukang ojek tapi saya masih pantas di hargai," ucap bapak-bapak tersebut dengan wajah kesal.
"Iya pak, maaf sekali lagi, mari!" Liora menundukkan kepalanya dan menarik Cakra menjauh dari bapak-bapak tersebut.
"Mas tidak suka kamu meminta maaf sama bapak-bapak itu!"
"Mas tidak perlu jadi tukang ojek online, keinginan aku sudah berlalu." Liora meninggalkan Cakra begitu saja di pinggir jalan. Menghampiri Eril.
"Kita pukang Ril!" ujar Liora.
"Tapi Nyonya, bagaimana dengan Tuan Cakra?"
"Dia bukan anak kecil, pasti tahu jalan pulang," jawab Liora dengan raut wajah datar, tidak seperti saat berangkat.
Eril mengangguk patuh, melajukan mobil perlahan-lahan dan putar balik setelah memastikan tidak ada kendaraan yang mendekat.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Liora disambut oleh putranya yang tengah bermain kucing, entah kucing dari mana.
"Mama mana?" tanya Liam menghampiri mamanya seraya mengendong kucing kecil berwarna orange.
"Mama habis jalan-jalan sama om Eril," jawab Liora.
Mendengar suara motor berhenti, Liora langsung berdiri dan mengajak Liam masuk. Dia yakin Cakra berjalan di belakangnya.
"Liam itut."
"Kalau habis berarti sudah Sayang, nanti kita jalan-jalan lagi ya," jelas Liora dan di jawab anggukan oleh Liam.
Liora terus saja berjalan tanpa ingin menoleh kerena tidak ingin menatap wajah Cakra. Dia duduk di sofa yang ada di kamar seraya memangku Liam.
"Liam kalau besar nanti harus jadi anak yang baik ya Sayang. Harus menghormati orang tua dan tidak boleh Arogan meski memiliki segalanya. Ingat semua itu hanya titipan," ucap Liora dengan nada sedikit keras sekalian menyindir Cakra.
"Soalnya harta bisa mengubah kepribadian seseorang Nak."
"Benal Mama?" tanya Liam.
"Iya benar Sayang. Mama ada cerita buat Liam, dengerin ya." Liora menjeda sejenak. "Dulu ada seorang laki-laki yang lupa ingatan dan bertemu gadis yang sangat miskin. Laki-laki itu baik banget dan sopan sama orang lain apa lagi sama yang lebih tua, tapi sekarang berubah saat tahu ternyata dia kaya."
__ADS_1